oleh

Marie Cau, Transgender Pertama Yang Terpilih Sebagai Walikota di Prancis

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Marie Cau, transgender pertama yang terpilih sebagai wali kota di Prancis, berpose seiring dengan kemenangannya di Tilloy-lez-Marchiennes pada 24 Mei 2020.

Cau secara meyakinkan merengkuh kemenangan dalam satu ronde pada pemilihan umum kepala daerah di Prancis, pada 15 Maret lalu.

banner 1280x904

Pelantikan politisi 50 tahun itu dilaksanakan dua bulan setelah pemilu, normalnya adalah lima hari, dikarenakan wabah virus corona.

Ini merupakan sejarah bagi Prancis, karena pertamakalinya negara itu mengangkat seorang transgender menjadi wali kota.

Para aktivis menyebut kemenangan Marie Cau sebagai Walikota Tilloy-Lez Marchhienes sebagai sebuah terobosan.

Marie Cau, transgender pertama yang terpilih sebagai wali kota di Prancis berbicara dengan pasangannya Nathalie Lecomte (kiri) dan penasihat kota Dany Fardel (kanan) di depan balai kota Tilloy-lez-Marchiennes pada 24 Mei 2020.

Setelah menerima selempang kehormatan, Marie Cau berjanji bakal meningkatkan kondisi lingkungan dan sosial kota yang dipimpinnya.

Manifesto “Deciding Together” yang diusungnya mendapatkan suara mayoritas, dari total 550 di kota yang berbatasan dengan Belgia itu.

“Saya sama sekali tidak terkejut dengan kemenangan yang saya raih,” kata Marie Cau, yang saat inaugurasi mengenakan setelan berwarna biru.

Sebagai seorang insinyur, dia mendeskripsikan sosoknya sebagai bos perusahaan yang mempunyai minat terhadap pertanian dan lingkungan.

Marie Cau menerangkan, penduduk memilihnya karena mereka sepakat dengan program pertanian keberlanjutan, ekonomi lokal, dan lingkungan yang diusungnya.

Baca juga  Suatu Ketika Ada yang Bertanya Kepadaku

“Warga tidak memilih saya karena transgender. Mereka memilih karena program dan nilai. Rakyat ingin perubahan,” jelas Cau.

Dia menuturkan, dirinya mempunyai impian menjadikan kotanya sebagai daerah percontohan, di mana warga bisa melakukan hal yang tak bisa dikerjakan pemerintah.

Cau akan segera menjabat, dengan tantangannya adalah virus corona yang tengah mewabah. Namun, sang pejabat publik itu mengaku tak risau. Sebab, dia sudah mempunyai tim impian untuk menunjang segala program kampanyenya, di mana tim itu berasal dari kelompok umur, gender, ataupun asal yang beragam.

Pernyataan Cau bahwa dia dipilih bukan karena status fisiknya dibenarkan Herve Fontanel, salah satu warga Tilloy-Lez-Marchiennes.

Ini merupakan sejarah bagi Prancis, karena pertamakalinya negara itu mengangkat seorang transgender menjadi wali kota

“Dia sudah tinggal di sini selama 20 tahun. Jadi kami tahu bagaimana dia bekerja. Jika dia mampu membangun ikatan, begitu juga dengan Tilloy!” jelasnya.

Tetangga Fontanel, Marie-Josee Godefroy, juga sependapat. “Tentu kota kecil ini akan semakin sejahtera dan berbicara banyak,” cetusnya.

Visibilitas trans

Marie Cau dikenal karena nama tengah ketiganya, dengan 15 tahun sejak masa perubahannya, dia mengaku tidak mendapatkan diskriminasi.

Baca juga  Ancaman Terhadap Ustadz Abdul Somad Mencederai Demokrasi

“Ini aneh. Orang-orang tentu menjadi perhatian, meski ada beberapa kesalahan,” jelasnya, seperti diberitakan AFP, Senin (25/5/2020).

Pasangannya sekaligus penasihat kota, Nathalie Leconte, menuturkan, Cau tidak takut untuk menceritakan seperti apa dirinya di hadapan orang-orang.

“Karena itu, saya terkejut dengan besarnya atensi yang diberikan media begitu dia memenangi pemilihan ini,” jelas Leconte.

Cau menerangkan, dia merasa terkejut karena orang juga terkejut. Dia menuturkan, situasinya akan segera normal karena dia dipilih sebagai hasil dari kampanyenya. Meski begitu, dia mengakui dampak kemenangannya begitu besar.

“Ini menunjukkan transgender bisa mempunyai kehidupan politik yang normal,” jelasnya.

Menteri Persamaan Gender Perancis, Marlene Schiappa, mengucapkan selamat atas kemenangan Marie Cau sebagai Wali Kota Tilloy-Lez-Marchiennes.

Co-President SOS Homophobie, Veronique Godet, menyatakan, kemenangan Cau menjadi tolok ukur dalam histori trans maupun perpolitikan “Negeri Anggur”.

“Kita bisa melihat sekarang banyak warga trans mulai menjalani emansipasi, dan menjabat di tempat di mana mereka sebelumnya tak dianggap,” jelas Giovanna Rincon dari Acceptess-T.

Komentar