oleh

Mantan Menkes: Bangkitlah Indonesia Sekarang Juga, Jangan Tunggu Vaksin

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Siti Fadilah Supari aktif bersuara terkait dengan virus corona (Covid-19) meski saat ini berada di balik jeruji besi. Mantan Menteri Kesehatan (Menkes) era Susilo Bambang Yudhoyono itu baru saja mengirimkan surat terbuka, bertanggal Sabtu (16/5/2020).

Surat yang ditulis di Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu itu ditulis oleh teman napi sekamar, karena Siti Fadilah Supari sudah tidak kuat menulis. Surat tersebut kemudian ditandatangani Siti, dan agar lebih jelas diketik ulang di luar penjara.

Dalam surat tersebut, Siti menuliskan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menetapkan agar melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuannya agar bangsa ini secara bertahap mampu mengembalikan kegiatan sosial dan membangun perekonomian Indonesia pulih kembali.

Seperti yang kita saksikan, seluruh dunia terpuruk. Meski negara adidaya seperti Amerika pun menderita , bahkan kasusnya terbanyak di dunia dan kematiannya pun sangat banyak. Pergerakan ekonomi dan perdagangan terhenti.

Di Eropa pun demikian juga korbannya juga cukup banyak. Apalagi khusus di negara Italia sangat parah boleh dikatakan terbanyak bila dibandingkan dengan jumlah penduduk.

“Saat ini mereka semua mulai menggeliat sadar mereka harus bangun dari ketakutan dan kekawatiran. Mereka harus bangun dari keterpurukan ini untuk memulai kehidupannya lagi,” papar Siti dalam suratnya.

Namun, menurut Siti, Bill Gates mengatakan bahwa yang mampu menghentikan wabah covid hanyalah vaksin corona. Di mana dia sangat yakin vaksin unggulannya akan siap 18 bulan ke depan. Bill Gates juga menekankan kalau pun wabah corona ini berhenti, belum tentu kehidupan bisa kembali seperti dulu lagi.

“Mungkin dia mengacu ketika flu Spanyol 1918 selesai. Terjadi perubahan peradaban yang sama sekali berbeda dari sebelumnya,” imbuhnya.

Pakar Penyakit Menular dari AS Anthony Fauci mengatakan kewaspadaan kalau ada negara yang cepat-cepat membuka lockdown-nya, pasti akan mengalami perburukan penularan Covid-19 dan wabah akan lebih dahsyat lagi.

Adapun, WHO menyatakan tidak akan pernah ada vaksin sebelum akhir 2021. David Nabarro seorang profesor dari global health di Imperial College London dan sekarang sebagai special envoy WHO untuk Covid-19, mengatakan bahwa kemungkinan besar tidak akan pernah ada vaksin yang efektif untuk corona.

Memang ada penyakit-penyakit yang tidak ditemukan vaksinnya contoh nya HIV AIDS dan demam berdarah. Oleh karena itu, masyarakat harus bisa hidup berdamai dengan corona.

Baca juga  MPR Minta Pemerintah Evaluasi Implementasi Kebijakan PSBB di Sejumlah Wilayah

Menurut Siti, andaikan vaksin dari Bill Gates benar siap, harus diingat ketika Ejikman melakukan sequencing virus strain Indonesia, ternyata karakter virus lokal berbeda dengan virus yang beredar di negara yang sedang getol mengadakan uji coba vaksin yang akan diproduksi besar-besaran sedunia.

“Kita harus hati-hati disini, berarti vaksin yang sedang mereka bikin berasal dari virus yang karakternya berbeda dengan vìrus yang ada di Indonesia, maka tidak akan kompatibel dengan kita (tidak cocok sehingga tidak akan efektif),” papar Siti.

Bila melihat China, Wuhan telah kembali memulai kehidupan baru setelah Corona , dengan tanpa vaksin, tetapi menggunakan obat tradisional.

China menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi corona dari awal, terus lockdown dan kemudian corona terhenti setelah itu ekonomi mulai bangkit kembali. Tidak perlu heran karena China negara dengan azas otoritarian.

Maka dalam menghadapi emergency seperti wabah corona ini pengambilan keputusan harus sangat efektif. Komunikasi searah sangat cepat tanpa kendala sangat dibutuhkan.

“Dan ini hampir tidak mngkin terjadi di negara-negara yang menganut azas demokrasi , yang selalu ada pro kontra, sehingga suatu keputusan makan waktu lebih banyak,” kata Siti.

China dengan jelas menunjukkan kepada dunia bahwa dia bisa bangkit tanpa vaksin dan mereka siap dengan gelombang kedua dengan virus yang berbeda pula.

Di samping itu kalau hanya mendengarkan Bill Gates yang sudah investasi dananya di dalam bisnis vaksin dunia, mau tidak mau kita harus mengikuti kemauan mereka. Dengan demikian, PSBB harus diperpanjang di rumah.

Hal ini tentu berimbas terhadap perekonomian Indonesia yang melandai lebih dalam lagi sampai tahun 2021.

“Apakah itu yang kita pilih ? nunggu vaksin yang belum tentu jadi dan belum tentu cocok. Berpikirlah saudaraku setanah air,” gugah Siti.

Dia kembali mengingatkan pendapat lain dari seorang ahli Dr. Nabarro yang tidak ada pretensi dalam bisnis vaksin mengatakan pendapat yang jujur seperti diatas, hidup berdamai dengan corona, tapi tetap waspada.

Antrian di Bandara Soekarno Hatta

PELONGGARAN PSBB

Menurut Siti, kita harus berada diantara itu, bangkit dari keterpurukan ekonomi tetapi juga selamat dari corona. Rasanya sudah cukup masyarakat diam di rumah sudah, tidak bekerja normal, tidak sekolah seperti biasanya.

Baca juga  DPR RI Ajak Masyarakat Indonesia Gotong Royong Lawan Covid-19

“Sampai kapan kita harus mulai? Pak presiden sudah tiup peluit , memukul genderang untuk bergerak tapi semoga aturan pemerintah tidak bertambah banyak. Misalnya, boleh naik kapal terbang tapi saratnya banyak dan akhirnya yang bisa terbang sedikit. Dari segi ekonomi tidak menguntungkan,” paparnya.

Dia berpendapat kalau mau melonggarkan PSBB, longgarkan saja aturan-aturan yang sudah ada. Jangan bikin aturan baru, lakukan dengan bertahap.

Misalnya, KRL tidak boleh jalan tadinya, mungkin mulai dari kapasitas 50 persen, kemudian meningkat lagi menjadi 70 persen, dan seterusnya.

Pergerakan warga adalah sumbu pergerakan ekonomi. Setidaknya ekonomi rakyat yang harus nomor satu bangkit. Kalau ekonomi rakyat bangkit pemerintah akan lebih ringan tugasnya dalam memenuhi social safety net-nya.

“Kalau pergerakan warga dibatasi terus bagaimana ekonomi bisa hidup lagi? Yang harus diingat adalah pergerakan warga tidak menimbulkan penyebaran corona lebih buruk,” imbuhnya.

Masyarakat harus berjalan diantara pilar yang seimbang, pergerakan warga dengan cara yang sehat, hati-hati harus pakai masker, jarak satu meter dengan lainnya, tidak bersentuhan, selalu cuci tangan.

Hidupkan lagi perilaku hidup bersih sehat. Siti mengingatkan jangan terlalu takut karena penularan corona hanya lewat droplet berdasarkan data WHO. Mestinya dengan memakai masker, mencuci tangan, dan berjarak sudah cukup untuk mencegahnya.

Pihak pemerintah hendaknya menyediakan sarana swab test molecular base made in Indonesia berdasar virus strain Indonesia karena lebih valid. BPPT sudah siap tinggal memudahkan rakyat untuk menjangkaunya. Siapkan pula primer untuk PCR di laboratorium, dengan basis virus strain Indonesia juga

Menurut Situ, Indonesia merupakan bangsa yang kaya sinar matahari, dan corona takut sinar matahari. Masyarakat makan empon-empon sejak lahir, dan corona tidak suka empon-empon.

Rakyat ini disuntik vaksin BCG ketika masih kecil. Ada penelitian dimana negara yang melaksanakan imunisasi BCG sejak lama, korban corona hanya 1/6 di banding dengan negara yang tidak pernah vaksinasi BCG

“Maka tidak ada alasan kita menunggu lebih lama lagi. Kalau ekonomi menggeliat kita akan cepat hidup seperti dulu bahkan harus lebih baik dari dulu,” tegasnya. (Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia)

Baca juga: Surat Terbuka Mantan Menkes Siti Fadilah Supari

Komentar