oleh

Mahalnya Biaya Politik Picu Lahirnya Kotak Kosong di Pilkada

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Pemicu munculnya calon tunggal dalam Pilkada akibat mahalnya biaya politik, sehingga tidak banyak parpol maupun calon yang berani bertaruh di kontestasi Pilkada tersebut.

Hal itu diutarakan Wakil Ketua Komisi II DPR RI Arif Wibowo yang mengaku tidak heran jika pada akhirnya Pilkada 2020 banyak yang akan melawan kotak kosong.

banner 1280x904

“Akibat proses politik yang tidak cukup dan hal itu yang tidak terbangun di banyak daerah,” kata Arief di Jakarta, Selasa (11/8/2020).

Baca juga  Awasi Coklit Data Pemilih, Bawaslu Sulut: Semua Data Harus Valid, dan Menjamin Hak Pilih

Politisi PDI-Perjuangan ini menyatakan, faktor tidak adanya calon dengan reputasi pribadi dan politik yang dikenal oleh masyarakat, hal itu juga menjadi pemicu Pilkada lawan kotak kosong.

“Karena modal banyak uang saja tidak cukup untuk bertarung di pilkada,” tandasnya.

Diketahui, calon tunggal pada Pilkada 2020 yang akan dihelat di 270 daerah diprediksi mengalami peningkatan menjadi 31 daerah atau hampir 2 kali lipat dari Pilkada 2018 yang berjumlah 16.

Baca juga  Survei Charta Politika: 54,2 Persen Responden Tak Setuju Pilkada Tetap Digelar

Perludem memperkirakan, calon tunggal melawan kotak kosong akan terjadi di 31 daerah pada Pilkada 2020 mendatang. Daerah potensial itu terdiri dari 26 kabupaten dan lima kota dari 270 daerah yang menggelar Pilkada serentak. (in)

Komentar