oleh

LSI: Gatot Nurmantyo Merepresentasikan Figur Prabowo Sekaligus Jokowi

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Analisa yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan mantan panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo adalah figur yang bisa bersaing dengan incumbent, Joko Widodo, di Pilpres 2019.

“PR (Pekerjaan Rumah) besar Gatot lebih pada persoalan tiket dukungan parpol,” kata Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah kepada pers, dalam siaran persnya,  Jumat (11/5).

banner 1280x904

Dari sekian banyak nama bakal calon presiden, kata dia, Gatot punya potensi lebih. Ada tiga alasan kenapa Gatot yang paling potensial. Pertama, dari segi karakter personal figur, Gatot adalah sosok yang merepresentasikan dua karakter sekaligus, yaitu Prabowo Subianto yang tegas dan punya potensi menjadi strong leader, serta figur Joko Widodo yang  sederhana dan merakyat.

“Sehingga, alasan dan keinginan rakyat yang memilih Prabowo karena sikap tegas dan nasionalisnya, serta memilih Joko Widodo karena kesederhanaan dan sikap merakyatnya sudah cukup terwakili oleh sosok Gatot yang memiliki kedua karakter tersebut,” papar dia.

Karena itu, lanjut Toto, jika Gatot berhasil mendapat tiket dari Poros Ketiga dengan mengantongi minimal 20 persen kursi DPR RI, maka yang akan tergerus suaranya bukan saja Prabowo melainkan juga Joko Widodo. Dengan kata lain, Gatot akan menjadi ‘ancaman’ berat buat Joko Widodo dan Prabowo pada 2019 nanti.

Baca juga  Prabowo Diragukan Maju Capres, Gerindra Tetap Yakin

“Apalagi, jika Gerindra dan PKS akhirnya bergabung mendukung Gatot bersama PAN, PKB dan Demokrat,” kata peneliti senior tersebut.

Alasan kedua, menurut Toto, selain karena faktor record personal sebagai mantan panglima TNI, yang getol menyuarakan semangat kedaulatan bangsa dan jaga NKRI,  Gatot juga termasuk figur yang tingkat resistensinya paling minimal.

“Jika pun itu dijadikan senjata oleh lawan politiknya, dari potret hasil survei kita kecil pengaruhnya. Isu itu bukan public intrest yang bisa menggoyahkan dia karena semua tokoh, politisi, calon presiden pasti punya kedekatan dengan pengusaha. Dan hebatnya, Gatot tak mengelak dari isu itu. Bahkan, dia mengakuinya dengan jujur,” katanya.

Alasan ketiga, tambahnya, Gatot dinilai sebagai figur yang punya kedekatan atau relatif diterima dengan baik oleh  segmen pemilih mayoritas, yakni kalangan Islam, khususnya islam konservatif yang jumlahnya cukup besar.  Respon positif kalangan mayoritas ini dimulai sejak Gatot menjabat panglima TNI yang  mengambil sikap moderat pada saat mencuatnya aksi protes terhadap kasus penistaan agama oleh mantan gubernur DKI,  Basuki Tjahja Purnama.

Hanya, tegas Toto, nasib Gatot saat ini masih tergantung sejumlah parpol  di luar parpol pendukung pemerintah, khusus Demokrat, PKS dan Gerindra. Termasuk, PKB dan PAN yang terkesan masih mengintip dinamika politik kedepan jelang pendaftaraan capres dan cawapres pada Agustus mendatang.

Baca juga  Presiden Jokowi Sebut Isu Indonesia Diserbu Tenaga Kerja Asing Politis

Tugas berat Gatot lainnya, kata Toto adalah elektabilitasnya yang masih rendah, di bawah 5 persen. Toto melihat angka ini wajar karena Gatot belum mengantongi syarat hukum besi untuk menang, yaitu tingkat pengenalannya yang kurang lebih antara 45-50 persen.

“Jika saja dalam waktu dekat ini dia bisa mendongkrak pengenalannya hingga 70 persen, apalagi 80 persen, dugaan saya elektabilitasnya sangat potensial meroket,” kata Toto.

Potensi kenaikan Gatot itu, lanjutnya, diperkuat oleh munculnya fenomena gerakan yang sudah mulai tidak nyaman dengan keadaan sosial, politik dan ekonomi saat ini. Termasuk, massifnya gerakan tagar #2019Ganti Presiden. Namun, kekecewaan sebagian publik terhadap keadaan saat ini tidak otomatis pilihannya kepada Prabowo Subianto.

“Makanya, kalau sampai muncul figur baru di luar Prabowo dan Jokowi, dugaan saya figur itu potensial menjadi magnet yang ditunggu. Dan figur yang punya potensi menjadi magnet itu adalah Gatot Nurmantyo,” tandasnya. (rp)

Komentar