Lima Sosok Ini Paling Curi Perhatian Dunia di Tahun 2018

Lima Sosok Ini Paling Curi Perhatian Dunia di Tahun 2018

JAKARTA, SUARADEWAN.com -- Tahun 2018 mencatat berbagai peristiwa bersejarah di dunia, salah satunya adalah pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un

13 Tokoh Peraih Nobel Kirim Surat Terbuka Kritik Aung San Suu Kyi Soal Rohingya
Kejahatan Myanmar Atas Muslim Rohingya, Anwar Ibrahim: Aung San Suu Kyi Sangat Mengecewakan
Dua Tahun Menjabat, Presiden Myanmar Mengundurkan Diri

2. Pangeran Muhammad bin Salman

Pangeran Arab Saudi Muhammad bin Salman, putera mahkota yang kelak akan naik takhta menjadi raja, jelas menjadi tokoh sorotan internasional di 2018. Dalam sebuah konferensi investasi di Ibu Kota Riyadh Selasa lalu, Pangeran Muhammad atau kerap disebut MBS, mencetuskan Visi 2030 bagi Saudi dengan mengatakan negara itu akan menjadi lebih toleran berlandaskan Islam sebagai konstitusi dan modernitas sebagai praktiknya.

“Kami hanya ingin kembali ke asal: Islam moderat yang terbuka kepada dunia dan semua agama,” kata dia, seperti dilansir laman Middle East Eye, Sabtu (28/10). “Kami tidak akan menyia-nyiakan waktu 30 tahun mengurusi ide ekstremis. Kami akan hancurkan ide itu sekarang.”

Pidatonya itu sontak mendapat tepukan hangat dari para hadirin dan diulas dalam satu halaman depan koran inggris The Guardian.

Saudi selama ini dikenal sebagai negara konservatif yang tertutup dan berhaluan Islam ekstrem. Pangeran berusia 32 tahun itu disebut-sebut sebagai sosok pembaharu yang mengenalkan konser musik, bioskop, dan disinyalir sebagai orang di balik keputusan Raja Salman yang membolehkan wanita mengemudi mobil tahun depan.

Baca juga  Dua Tahun Menjabat, Presiden Myanmar Mengundurkan Diri

MBS juga telah mengumumkan Saudi akan membangun sebuah lokasi wisata kelas dunia di kawasan Laut Merah lengkap dengan berbagai fasilitas modern, canggih, dan kaum hawa di pantai dibolehkan memakai bikini.

“Apa yang dilakukan MBS adalah hal yang harus dia lakukan demi reformasi ekonomi. Seperti halnya reformasi ekonomi menuntut perubahan etik Protestan, dia juga perlu Islam yang baru,” kata pengamat dari Institut Strategi Global London, Maamur Fandy.

Namun belakangan nama MBS tercoreng lantaran kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. MBS disebut-sebut terlibat dalam pembunuhan wartawan harian the Washington Post berusia 59 tahun itu. CIA bahkan berkesimpulan dialah yang memerintahkan Khashoggi dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.

Khashoggi dikenal sebagai sosok pengkritik Kerajaan Saudi, terutama kebijakan-kebijakan MBS. Sebelum dibunuh Khashoggi pernah berkomentar tentang sosok MBS.

“Dia benar-benar ingin membuat Arab Saudi hebat lagi. Tapi dia melakukannya dengan cara yang salah,” kata Khashoggi kepada rekannya, seperti dikutip dari laman Vanity Fair.

Karena merasa hidupnya tidak aman, Khashoggi kemudian mengasingkan diri ke Washington, Amerika Serikat.

Baca juga  Panas Dingin Hubungan Mahathir dan Umno dalam Politik Malaysia

Sebulan setelah meninggalkan Saudi, Khashoggi mulai merasa ada perubahan drastis dari MBS. Aparat keamanan Saudi menangkap sejumlah pengusaha dan menahan mereka di Hotel Ritz Carlton atas tuduhan korupsi. Khashoggi kemudian mendapat laporan menyebut mereka disiksa dan dipaksa menyerahkan ribuan dolar kepada pemerintah.

“Kasar betul. Ada yang dilecehkan. Ada yang dipukuli. Ada yang bilang mereka disetrum,” kata Khashoggi.

Perlakuan semacam itu juga dialami oleh sejumlah cendekiawan, insan pers, dan ulama moderat. Hal itu membuat Khashoggi yakin MBS telah berubah dari sosok seorang reformis menjadi otoriter yang brutal.

“Ketika penangkapan itu mulai terjadi, saya berbalik. Saya mulai merasa ini saatnya bersuara,” kata Khashoggi.

“Arab Saudi bukanlah negara bebas tapi orang-orang ditangkapi seperti ini. Mereka yang ditangkap MBS bukanlah orang-orang radikal,” ujar Khashoggi. “Sebagian besar mereka adalah pendukung reformasi untuk kaum perempuan dan masyarakat yang lebih terbuka. Dia menangkapi mereka untuk menciptakan ketakutan. Orang-orang jadi takut dan ini jadi semacam kebijakan polisi negara.”

COMMENTS

DISQUS: