Lima Sosok Ini Paling Curi Perhatian Dunia di Tahun 2018

Lima Sosok Ini Paling Curi Perhatian Dunia di Tahun 2018

Dua Tahun Menjabat, Presiden Myanmar Mengundurkan Diri
13 Tokoh Peraih Nobel Kirim Surat Terbuka Kritik Aung San Suu Kyi Soal Rohingya
Parlemen setujui peran mirip Perdana Menteri bagi Aung San Suu Kyi

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Tahun 2018 mencatat berbagai peristiwa bersejarah di dunia, salah satunya adalah pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura pada Juni lalu.

Pertemuan itu merupakan kelanjutan dari pertemuan yang juga bersejarah antara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di perbatasan kedua negara. Dalam pertemuan itu kedua negara sepakat untuk perundingan damai di Semenanjung Korea.

Pada pertemuan di Singapura, Trump dan Kim membahas soal pelucutan nuklir Korut dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Pertemuan kedua pemimpin negara itu diakui banyak kalangan sebagai sebuah langkah maju dan bersejarah demi kehidupan dunia yang lebih baik dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Namun selain Trump dan Kim, ada sejumlah tokoh dunia yang juga menyita perhatian dunia. Siapa saja mereka? Berikut ulasannya versi suaradewan.com yang diambil dari berbagai sumber:

1. Mahathir Mohamad

Mahathir Mohamad tak pernah sekali pun kalah dalam kampanye pemilu Malaysia. Dia mempertahankan rekor itu sampai ketika dia dilantik sebagai pemimpin negara tertua di dunia dalam usia 92 tahun.

“Ya, ya, saya masih hidup,” kata dia dalam jumpa pers ketika mengumumkan kemenangan atas koalisi Barisan Nasional (BN) yang sudah berkuasa selama 60 tahun sejak Malaysia merdeka pada 1957.

Baca juga  Presiden Trump Tuduh Obama Telah Menyadap Dirinya

Mahathir pernah menjadi perdana menteri selama 22 tahun sejak 1981. Sebagai pemimpin Malaysia, dia dikenal sebagai sosok yang keras, tanpa kompromi, tapi berhasil mengubah Malaysia menjadi negara industri modern.

Sejak memutuskan pensiun dia tidak pernah lepas dari sorotan media. Dua tahun lalu dia kembali aktif di dunia politik di kubu oposisi. Mahathir berjanji akan menggulingkan Najib Razak dari kursi perdana menteri lantaran kasus skandal dugaan korupsi di badan negara 1MDB.

Sebagai bentuk pengorbanannya dia bahkan mundur dari Organisasi Bangsa Melayu Bersatu (UMNO), partai yang ikut dia bangun sejak muda.

“Di kala itu saya adalah penentang keras Mahathir,” ujar Joseph Paul, 70 tahun, pensiunan dinas sosial yang bergabung dengan ribuan rakyat Malaysia di Kuala Lumpur untuk merayakan kemenangan Mahathir.

“Politik, kata orang, adalah seni mengelola kemungkinan, jadi kalau dia kembali untuk menyingkirkan penjahat, mengapa tidak?”

Dilansir dari laman Channel News Asia, Kamis (10/5), hasil resmi Komisi Pemilihan Umum kemarin memperlihatkan koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin Mahathir meraih 113 dari 222 kursi parlemen. Angka itu cukup untuk memenangkan suara mayoritas di parlemen.

Keberhasilannya membangun negeri membuat dia digelari “Bapak Malaysia Modern” meski gaya kepemimpinannya terbilang keras dan tanpa kompromi.

Baca juga  Senjata Nuklirnya Diejek Trump, Korut Ancam Serang AS Pakai Rudal Balistik

Mahathir beberapa kali menjebloskan lawan politiknya ke penjara. Para pengamat menyebut dia melarang kebebasan berpendapat dan menindas lawan politiknya. Itu juga yang dialami mantan wakilnya sebagai perdana menteri, Anwar Ibrahim, yang didakwa melakukan sodomi dan korupsi. Di masa lima tahun awal kepemimpinannya, Mahathir menjebloskan lebih dari seratus politisi oposisi, akademisi, dan aktivis tanpa pengadilan.

Mahathir kini satu kubu dengan Anwar Ibrahim dan dia berjanji akan memberinya pengampunan. Dia juga sudah berjanji akan mundur dan membiarkan Anwar menjadi perdana menteri.

Dalam wawancara Maret lalu dia mengatakan akan terus berjuang menumbangkan Najib Razak meski jika kalah dalam pemilu.

“Saya akan berumur 90an tahun dan secara fisik tidak sekuat dulu,” kata dia. “Tapi kalau saya masih sehat saya akan terus berjuang.”

Mahathir juga mengaku dia pernah berbuat salah di masa lalu. Dalam tulisannya di blog pada Januari dia menyebut rakyat dan media tidak pernah luput menyoroti dirinya pernah memerintah secara otoriter selama 22 tahun.

“Menengok ke belakang, saya sadar mengapa sebagai perdana menteri Malaysia saya pernah dianggap diktator,” tulis Mahathir. “Ada banyak hal yang saya lakukan di masa lalu yang mirip perbuatan diktator.”

COMMENTS