oleh

Korban Pembantaian Westerling Di Sulsel Dapat Ganti Rugi Rp168 juta dari Belanda

MAKASSAR, SUARADEWAN.com — Andi Monji berusia 10 tahun ketika dia dipaksa untuk menonton ayahnya dieksekusi oleh tentara Belanda (Pembantaian Westerling). Pria yang kini berusia 83 tahun, bulan Maret kemarin pergi ke Den Haag, Belanda, bersaksi di depan pengadilan, kemudian mendapat 10.000 euro (sekitar Rp 168 juta) sebagai ganti rugi atas kematian ayahnya.

“Ayahnya, Tuan Monjong, adalah satu dari lebih dari 200 orang yang dieksekusi mati saat pembantaian desa Suppa, 28 Januari 1947,” kata pengacara Andi, Liesbeth Zegveld, kepada ABC.

banner 1280x904

Meski pernah menolak membayar ganti rugi, Pemerintah Belanda secara resmi sudah meminta maaf atas kekerasan brutal yang terjadi di Indonesia selama tahun 1940-an.

Banyak kekejaman yang dilakukan di sejumlah pulau saat Belanda menguasai Nusantara, hingga Presiden Sukarno memproklamasikan negara kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Daftar Nama Korban Pembantaian Westerling

Pembantaian di desa Suppa Tentara Belanda di Pare-pare, Indonesia tahun 1947 dengan tindakan yang disebutnya sebagai pengawasan. Di Sulawesi, tepatnya Sulawesi Selatan, pasukan Belanda menggunakan “metode Westerling” yang brutal. Memakan korban sebanyak 40.000 orang dibantai. Andi Monji adalah satu dari korban yang mendapat ganti rugi dari Belanda akibat tindakan kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan saat penjajahan.

Baca juga  Reses Di Tengah Pandemi, DPRD Kota Makassar Diserang Keluhan Warga

Dalam Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar (2010), dijelaskan Belanda hendak mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Makassar sebagai ibu kotanya.

Maka pada akhir 1946, 120 orang dari pasukan khusus DST dan komandannya, Westerling, dikirim ke Makassar. Mereka tiba dengan kapal pada 5 Desember 1946. Mereka ditugasi untuk menumpas pemberontak. Pemberontak adalah kelompok nasionalis atau republikein, rakyat revolusioner yang mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.

Andi Monji (83 tahun)

Westerling mencari para pendukung kemerdekaan yang melawan Belanda. Ia menanyakan siapa saja yang ikut Wolter Monginsidi memberontak. Di hadapan penduduk, mereka yang dicurigai dan dituduh, ditembak mati di tempat.

Kekejaman itu mengawali operasi Westerling selama tiga bulan ke depan. Para pria dan pemuda diminta mengakui keterlibatan mereka dalam perlawanan terhadap Belanda. Di depan keluarga, mereka disiksa sebelum akhirnya ditembaki. Rumah-rumah dibakar dan diledakkan dengan granat.

Pembantaian Westerling menjadi salah satu tragedi terkelam bangsa Indonesia. Kekejaman itu meninggalkan penderitaan dan trauma yang mendalam. Pihak Belanda justru menyelamatkan Westerling ketika hendak diadili.  Westerling kabur ke Singapura dan Belgia sebelum pulang ke kampung halamannya di Belanda.

Baca juga  Dua Tahun Dipenjara, Eks Anggota DPRD Makassar ini Tetap Terima Gaji 37juta per Bulan

Upaya ekstradisi sejak tahun 1950-an tak membuahkan hasil. Westerling hanya sempat dipenjara selama beberapa minggu di Singapura dan Belanda. Pada 1954, Dewan menteri menyatakan bahwa Westerling dan komandan perang lainnya tak dituntut. Di Belanda, ia dipuja-puja bak pahlawan. Jumlah korban yang diakui Belanda hanya 2.000.

Belanda sendiri baru mengakui dan meminta maaf atas kejahatan itu 67 tahun setelahnya.  Pada 12 September 2013, Pemerintah Belanda lewat Duta Besarnya Tjeerd de Zwaan meminta maaf untuk semua eksekusi-eksekusi tanpa pengadilan di seluruh Nusantara pada periode 1945-1950.

Di tahun 2013, 10 janda yang suaminya menjadi korban eksekusi di Sulawesi Selatan mendapat ganti rugi sebesar 20.000 euro (Rp 296 juta). Namun tidak semua mendapat ganti rugi karena terbentur status dan masa gugatan. (vi/ko)

Komentar