oleh

Kongres Ulama Perempuan: Radikalisme bukan Karakter Islam, Islam tidak Mengenal dan Menolak Radikalisme

CIREBON, SUARADEWAN.com – Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang diadakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon 25-27 April 2018 melibatkan sejumlah ulama hingga aktivis perempuan dari Indonesia dan 16 negara lain di dunia, berkumpul membahas bersama isu aktual dan hangat yang menjadi tantangan kaum hawa.

Salah satu pembahasan yang menarik dalam kongres ulama perempuan tersebut adalah diskusi paralel bertema “Peran Perempuan Dalam Menghadapi Radikalisme Agama” (26/4/2017). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Umi Khumairah yang merupakan istri teroris terpidana seumur hidup.

Dalam diskusi tersebut, Perwakilan Asian Muslim Acton Network (AMAN) Indonesia, Dwi Rubiyanti Kholifah mengatakan pemerintah belum mampu berbuat sesuatu yang cukup signifikan terhadap istri para pelaku teroris. Seperti yang dialami oleh Umi Khumairah.

“Bagaimana perasaan istri dari teroris yang mendapat stigmatisasi dan bullying serta perlakuan diskriminatif dari masyarakat dan tetangga itu harusnya diproteksi oleh pemerintah. Karena mereka juga warga negara dan memiliki hak,” sebut dia.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Cirebon

Persoalan tersebut diyakini disebabkan karena pemisahan yang dinilai sudah melekat di tengah kekuatan radikalisme, sehingga membuat orang sulit untuk melepaskan diri.

Masih dalam konteks istri teroris, Dwi mengatakan, wajar apabila istri tersangka teroris tidak diproteksi pemerintah, maka mereka akan dijauhi tetangga.

Jika sudah dijauhi, lanjut Dwi, otomatis istri teroris akan kembali kepada kelompok radikal yang sudah lama dikenalnya bersama suami. “Baliknya ke mana? Kelompok radikal lagi kan? Karena di sana sudah solid dan sudah ready terstruktur,” sebut dia.

Dalam kelas diskusi itu, peserta kongres juga mengupas tentang radikalisme dalam konteks kebangsaan yang dianggap berada di level kritis.

Kondisi itu dinilai dari banyaknya suara bernada menentang NKRI yang terkonsolidasi dan sudah menempatkan diri.

780 Ulama Perempuan Indonesia Kongres di Cirebon

Menurut dia, diskusi tersebut menjadi bagian dari wacana yang dibangun KUPI di mana ulama perempuan menyatakan posisi mereka terkait isu perempuan maupun isu kebangsaan.

“Kita juga sudah tahu ada hal lain, misalnya ada diskriminasi terhadap Syiah, Ahmadiyah, dan ini juga penting untuk dikaji dan disikapi di kalangan perempuan,” ujar dia.Next

Next

Komentar