oleh

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia: Pemilu Hanya Mengeksploitasi Suara Rakyat

banner-300x250

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Sekretaris Jenderal Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Sunarno, menjelaskan bahwa perjuangan kaum buruh masih banyak tantangannya. Dan nampaknya pemerintah masih belum bisa menuntaskan apa yang menjadi tuntutan-tuntutan mereka.

Hal tersebut disampaikan oleh Sunarno tepat sehari sesudah melaksanakan Konferensi Gerakan Rakyat Indonesia (KGRI) di Jakarta, pada Jum’at (20/04/2018) kepada suaradewan.com melalui sambungan seluler.

“Kenyataannya kaum buruh itu dalam posisi sekarang, masih belum mendapatkan perlindungan. Upah murah, sistem kerja mereka tidak miliki kepastian, karena ada kontrak outsourcing/borongan/magang, dan juga undang-undang yang ada di kita itu misalnya UU 13/2003 maupun uu PPH,” kata Sunarno.

Dalam Konferensi yang menghadirkan berbagai elemen gerakan misalnya dari yayasan Lembaga Bantuan Hukum, aktivis lingkungan seperti Walhi, dari kelompok mahasiswa seperti LMND dan Serikat Mahasiswa Indonesia, menghasilkan sebuah resolusi tuntutan yang termuat dalam 18 point utama.

Kepada suaradewan.com, Sunarno menjelaskan 4 point penting tuntutan KASBI, ialah Pertama, membangun Industri nasional yang kuat dibawah kontrol rakyat. Kedua, menolak privatisasi perusahaan-perusahaan negara (BUMN).Ketiga, penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan pengusutan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. Serta yang keempat adalah menolak PP78 tentang sistem kerja kontrak outsourcing.

Selain itu, dalam pertemuan yang digelar dengan menghadirkan peserta lebih dari 800 orang tersebut,lanjut Sunarno, konferensi juga menyampaikan ide-ide dan gagasan dalam perjuangan rakyat, merumuskan strategi dan taktik, saling sharing, saling mendiskusikan tentang praktek-praktek dalam perjuangan.

“Ya, sebagai ajang konsolidasi, atau lebih tepatnya silaturahmi, karena sebenarnya kelompok-kelompok ini kalau bertemu, jarang yang bareng dalam satu gerakan dalam kapasitas yang sebanyak ini. Temanya tentang kemerdekaan, kesetaraan, dan kesejahteraan.” pungkas Sunarno kepada suaradewan.com

Dalam konferensi tersebut, Sunar juga menjelaskan bahwa acara tersebut juga akan merujuk ke isu Hari Buruh Inteernationa Bulan Mei nanti.

“Ya, hari buruh juga, memang ini kan untuk kepentingan jangka panjang. Tapi yang dalam waktu dekat, soal aksi yang hari buruh itu pasti. Selain itu kita membuat resolusi bersama. Jadi ada tuntutan-tuntutan yang jadi kesepakatan akan diusung kawan-kawan di semua daerah,” katanya.

Sementara dalam gerakan politik, misalnya pilkada serentak 2018 atau Pilpres 2019 nantinya, KASBI tidak ingin bersentuhan langsung dengan isu tersebut. Menurut Sunar Pemilu hanyalah exploitasi pada rakyat itu sendiri.

“Kita menolak pemilu yang ada sekarang ini, karena selama ini kita melihat ada skenario kekuatan kapitalis. Pemilu yang ada sekarang ini, semua digerakkan oleh duit. Siapa yang punya modal besar, dekat dengan penguasa, dengan kekuasaan bisa jadi merekalah yang akan menang. Pemilu itu hanya mengeksploitasi suara rakyat itu sendiri.” tegas Sekjend KASBI, Sunarno yang pernah menyampaikan pidato politiknya di kongres WFTU di Duban, Afrika Selatan, 2016 lalu.

Hari Buruh atau May Day sendiri, juga menjadi dilematis bagi sebagian kelompok buruh yang telah berubah haluan dari jalur perjuangan sebenarnya. Bagi Sunarno, pemerintah telah berhasil membuat beberapa kelompok/aktivis buruh melupakan nilai perjuangannya.

“Kritikan terhadap hari buruh sendiri, Kami serikat buruh menolak untuk program yang diajakkan oleh pemerintah dalam hal ini adalah terkait dengan perayaan hari buruh (May Day) itu, dengan agenda-agenda, ya mereka mengganggap Mayday adalah its “fun day” tuturnya.

“Jadi kita menolak itu, karena kalau kita mengikuti itu akan menghilang sejarah yang sebenarnya tentang Mayday. May Day itu kan hari perjuangan kaum buruh. Sementara kalau kita mengikuti dari apa yang menjadi program pemerintah itu, ya bertantangan dengan situasi sekarang,” Lanjut Sunarno.

Karena, papar Sunarno, pada kenyataannya kaum buruh itu dalam posisi sekarang, masih belum mendapatkan perlindungan. “Misalnya UU 13/2003 maupun uu PPH itu masih tidak tepat kalau ada acara lomba-lomba olahraga, acara dangdutan, acara mancing, acara jalan santai, itu menurut kami tidak tepat” katanya.

Hal tersebut, juga kritikan untukkawan-kawan buruh yang selama ini dalam lembaga-lembaga pemerintahan misalnya, perusahaan-perusahaan international supaya mereka juga menyadari untuk ikut terlibat dalam aksi turun ke jalan bukan malah mengikuti program yang diadakan pemerintah.

“Kita tidak akan bersentuhan dengan wilayah politik, justru kita sedang menghimpun kekuatan kawan-kawan di gerakan itu. Kita harus mengingatkan terus kepada mereka yang berkuasa agar tidak berpolitik yang sekarang ini eksit gitu.” papar Sunarno.

Terakhir, kepada suaradewan.com, Sunarno menyatakan bahwa dengan adanya Konferensi Gerakan Rakyat Indonesia,mudah-mudahan membawa semangat baru bagi kaum buruh dan organisasi rakyat yang lainnya untuk terus berkomitmen memperjuangkan kaum buruh, dan masalah kerja lainnya.

“Dan supaya ada kemenangan-kemenanganlah untuk perjuangannya, semakin solid, semakin menyatukan dari seluruh elemen gerakan.” tutupnya, Jum’at (20/4).

Sebelumnya, dalam konferensi tersebut menghadirkan tokoh-tokoh gerakann seperti Direktur YLBHI, Direktur YLKI, Direktur LBH Jakarta, Ketua Kontras, Walhi.

Diketahui, KASBI adalah salah satu serikat buruh tingkat nasional yang ada di Indonesia dan saat ini merupakan satu-satunya serikat buruh yang berafiliasi dengan World Federation of Trade Union (WFTU). KASBI adalah serikat buruh kedua setelah Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), salah satu federasi serikat buruh di Indonesia di jaman pemerintahan Soekarno yang pernah berafiliasi dengan WFTU. (aw)