oleh

Komisi IX Sayangkan Penanganan Wabah DBD Kurang Progresif

Bengkulu, suaradewan.com – Wakil Ketua Komisi IX DPR Syamsul Bachri menyayangakan penanganan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Bengkulu tidak dilakukan secara progresif. Wabah yang terjadi di hampir setiap tahun, seharusnya dapat diantisipasi, sehingga pencegahan dapat dilakukan secara komprehensif.

Demikian dikatakannya saat memimpin Tim Kunjungan Spesifik Komisi IX DPR ke Provinsi Bengkulu, dalam rangka memantau perkembangan wabah DBD di Bengkulu yang sudah berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB). Setiba di Bengkulu, Tim Komisi IX DPR langsung menggelar pertemuan Wakil Gubernur Bengkulu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, BPJS Kesehatan, dan jajaran SKPD lainnya di Rumah Sakit M Yunus, Bengkulu, Jumat (19/02/2016) lalu.

banner 728x419

“Penanganan DBD tidak ada kemajuan. Ini yang kita sayangkan. Oleh karena itu, ini menjadi masukan kita untuk Kementerian Kesehatan. Apa yang telah dilaporkan oleh Pemerintah Daerah Bengkulu ini memang kewalahan menghadapi wabah DBD ini. Bahkan ada daerah di Bengkulu yang sudah tidak memiliki dana untuk mengatasi masalah DBD. Ini sangat memprihatinkan,” sesal Syamsul.

Politisi F-PG itu menilai, belum ada langkah antisipasi dalam menghadapi wabah yang hampir terjadi setiapb tahunnya itu. Ia juga menyayangkan, akibat dari kurang antisipasi ini, menyebabkan korban meninggal berjatuhan.

“DBD berulang setiap tahunnya. Sikap kita menghadapi DBD ini masih biasa-biasa saja. Belum ada langkah komprehensif. Kami dari Komisi IX DPR ingin langkah-langkah yang lebih progresif lagi, dan antisipatif lagi kepada wabah yang melanda negeri kita ini,” tegas Syamsul.

Tim Komisi IX DPR, lanjut Syamsul, berharap wabah DBD jangan sampai terjadi lagi di Bengkulu. Apalagi sampai berstatus KLB.

“Kami berharap, tahun depan Bengkulu dapat menjadi model bagaimana penanganan DBD ini dapat ditangani secara komprehensif. Kita berharap pada kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur ini, tahun depan tidak KLB DBD lagi,” harap politisi asal dapil Sulawesi Selatan itu.

Syamsul menambahkan, selain ke Bengkulu, Komisi IX DPR juga mengirimkan beberapa tim untuk memantau perkembangan wabah DBD ini, yakni ke Provinsi Bali, Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sumatera Selatan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Amin Kurnia menjelaskan bahwa saat ini, penyakit DBD sedang berjangkit di seluruh wilayah Kabupaten dan Kota di seluruh wilayah Provinsi Bengkulu. Kejadian kasus mulai meningkat secara signifikan sejak musin hujan awal bulan Oktober tahun 2015 sampai dengan Januari 2016.

“Pada kurun waktu Januari sampai Desember 2015, jumlah kasus DBD sebanyak 1003 kasus, yang artinya kejadian kasus per 100.000 penduduk di Provinsi Bengkulu adalah 53 orang. Padahal, target nasional adalah kurang dari 49 orang per 100.000 penduduk. Sebagian besar kejadian kasus pada kelompok umur produktif, yakni 15 -44 tahun sebesar 60 persen,” jelas Amin.

Amin menambahkan, pada akhir tahun 2015, kasus semakin meningkat. Hal itu bertepatan dengan datangnya musim penghujan, yaitu di awal Oktober 2015 dengan kejadian kasus 113 orang, tidak ada kasus meninggal. November 2015, terdapat 94 kasus dan meninggal 1 orang. Semnatar pada bulan Desember 2015, wabah DBD meningkat menjadi 118 kasus dan meninggal 7 orang.

Meningkat bulan berikutnya, masih kata Amin, pada Januari 2016, berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten, jumlahnya mencapai 307 kasus, dengan korban meninggal hingga 8 orang. Memasuki bulan berikutnya, update per 18 Februari 2016,  terjadi peningkatan yang cukup signifikan mencapai 577 kasus, dengan jumlah meninggal hingg 3 orang.

Kunjungan ini juga diikuti oleh Anggota Komisi IX DPR Elva Hartati (F-PDI Perjuangan), Nursuhud (F-PDI Perjuangan). Betti Shadiq Pasadigoe (F-PG), Suir Syam (F-Gerindra), Aliyah Mustika Ilham (F-PD), Handayani (F-PKB), Marwan Dasopang (F-PKB), dan Muhammad Iqbal. (SD)

Komentar

Berita Lainnya