oleh

Kokohkan Kebhinekaan untuk Tangkal Radikalisme

(Kiri-Kanan) Moderator Sekar Hapsari, Wadek FISIP UIN Jakarta Bakir Ihsan, Sekjen PRD Rudi Hartono, Direktur Pusat Studi Arab dan Timur Tengah Mulawarman Hannase.

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Kehidupan berbangsa yang harmoni di tanah air menjadi terganggu akhir-akhir ini, terutama oleh aksi-aksi yang terkait dengan radikalisme. Sebut saja contoh yang belum lama ini terjadi di Bandung, teror bom panci. Belum lagi bila diurai mengenai aksi teror sejak beberapa tahun lalu yang sampai menarik perhatian dunia internasional, seperti Bom Bali I (2002), Bom Bali II (2005), Bom Kuningan (2003), Bom Ritz Carlton (2009), dan Bom Sarinah yang terjadi tahun lalu.

Menurut Staf Deputi I BNPT Sri Yunanto, dari hasil survei yang dilakukan oleh Global Terorism Index, saat ini Indonesia masih masuk dalam kategori “warna kuning” yang berarti masih berpotensi besar untuk melahirkan anggota-anggota teroris baru, walaupun pihak keamanan sudah sangat ketat dalam memerangi terorisme. Indonesia menduduki peringkat 33 dengan nilai skor 4.76, yang berada di bawah beberapa negara. Namun masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Irak, Afghanistan dan Nigeria. Dan tidak lebih buruk dibandingkan dengan Malaysia, Tunisia dan Ethiopia.

banner 1280x904

Mengingat pentingnya pencerahan soal radikalisme itu, Indonesian Democracy Network (IDN) bekerjasama dengan IKAMI Sulsel Cabang Ciputat, mengadakan diskusi publik dengan tema “Pancasila; Mengokohkan Kebhinnekaan, Menangkal Radikalisme.” Diskusi tersebut diselenggarakan di Aula Graha Ganesha, Jalan Legoso Raya Nomor 31 Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Minggu (12/3).

Diskusi tentang menangkal radikalisme ini menghadirkan pembicara dari pelbagai pihak yang berkompeten di bidangnya, antara lain doktor politik islam sekaligus Wakil Dekan FISIP UIN Jakarta Bakir Ihsan, Direktur Pusat Studi Arab dan Timur Tengah PTIQ Jakarta Mulawarman Hannase, dan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokrat (PRD) Rudi Hartono. Sedianya diskusi ini akan dihadiri juga oleh juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto sebagai narasumber, namun yang bersangkutan tidak hadir.

Next

Next

Komentar