oleh

Kisah Ummu Hani; Perempuan Yang Menolak Pinangan Rasulullah

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Ummu Hani memiliki nama lengkap Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muttalib bin Hasyim. Dia merupakan seorang perempuan keturunan Bani Hasyim, putri paman Rasulullah SAW.

Ummu Hani adalah kakak dari Ali bin Abi Thalib RA. Ayahnya bernama Abi Thalib, sedangkan ibunya Fatimah binti Asad. Sepupu Rasulullah ini memiliki suami Hubairah bin Amr Al Makhzumi Al Quraisyi. Suaminya merupakan seorang pembesar Bani Marmuqin.

banner 1280x904

Dari suaminya, dia memiliki empat orang anak, di antaranya Amr, Ja’dah, Hani, dan Yusuf. Ummu Hani pertama kali mengucapkan dua kalimat syahadat kepada Rasulullah ketika terjadi penaklukan Makkah.

Namun, keislamannya tidak diikuti dengan sang suami. Hubairah memilih untuk kabur ke Yaman tanpa memeluk Islam. Hingga wafat, dia tidak pernah mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa perhatian anak dan istri di Najran.

Sepeninggal sang suami, Ummu Hani merawat dan mendidik anak-anaknya seorang diri. Rasulullah pun timbul untuk meminangnya sebagai istri agar anak-anaknya memiliki seorang ayah.

Namun, Ummu Hani menolak secara halus dengan menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini perempuan yang sudah tua dan memiliki banyak anak. Aku takut mereka menyakitimu.” Rasulullah pun mengerti dan mengurungkan niatnya.

Baca juga  Jabat Tangan Dengan Bukan Muhrim, Anggota Parlemen Ini Dipecat

Namun, Beliau SAW menyanjung Ummu Hani dengan sebutan, “Sebaik-baik perempuan yang menanggung unta adalah yang paling sayang kepada anak-anaknya yang masih kecil dan yang paling bisa menjaga harta suaminya.”

Makna dari “yang paling sayang terhadap anak-anaknya” adalah seorang ibu yang menyayangi anak-anak dan merawat mereka, mendidik, dan tidak lagi menikah sepeninggal suaminya.

Sementara, makna “Dan yang paling bisa menjaga harta suaminya” adalah seorang istri yang mampu menjaga, mengatur, dan menjaga amanat suami.

Pinangan Rasulullah SAW pun dimaksudkan untuk menghibur Ummu Hani. Karena, Ummu Hani adalah perempuan yang telah lanjut usia.

Namun demikian, Rasulullah sangat menghormati Ummu Hani. Rasul sering mengunjungi Ummu Hani di rumahnya dan beristirahat di sana.

Rasulullah juga sering menerima pendapat dan pertimbangan dari Ummu Hani, bahkan tak pernah satu kali pun menentang pendapatnya.

Saat peristiwa penaklukan Makkah, Ummu Hani didatangi dua orang yang meminta perlindungannya. Namun adiknya, Ali bin Abi Thalib, melihat dua orang itu dan bersumpah akan membunuhnya. Ummu Hani pun mengunci rumahnya dan beranjak menemui Rasulullah SAW.

Baca juga  Ini Sejumlah Politisi Perempuan Mempesona dari Kubu Prabowo-Sandiaga

Saat itu, Rasulullah sedang mandi dan putri Beliau SAW, Fatimah, menutupinya dengan kain. Ummu Hani menunggu Rasulullah hingga selesai mandi. Kemudian Ummu Hani berkata, “Wahai Rasulullah, Ali memusuhi seseorang yang telah kujamin keamanannya.” Maka Rasulullah bersabda, “Kami juga turut menjamin orang yang kau jamin, wahai Ummu Hani,” ujarnya.

Pada hari penaklukan Makkah, Rasulullah menyempatkan diri untuk menemui Ummu Hani menanyakan persediaan makanan di rumahnya. Ummu Hanni menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa kecuali cuka, wahai Rasulullah.” Kemudian, Rasul pun menjawab, “Dekatkan padaku makanan itu, betapa miskin sebuah rumah yang di dalamnya tidak terdapat lauk dan cuka.”

Ummu Hani terus hidup hingga tahun 50 Hijriyah. Namun, ia menyimpan duka yang mendalam hingga akhir hayatnya. Duka yang diakibatkan peristiwa terbunuhnya adik yang ia cintai, Ali bin Abi Thalib. (sumber)

Komentar