oleh

Kisah Pilu Adrianus Tukang Bangunan Terdampak Covid-19, Tak Punya Uang hingga Tidur Beralas Tanah

KUPANG, SUARADEWAN.com — Kisah pilu dialami oleh seorang tukang bangunan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dan keluarganya yang terdampak Covid-19. Pandemi Covid-19 yang masih merebak, membuat Adrianus Klakik dan Marince Nifusemua kesulitan dalam mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Pasangan suami istri ini mempunyai dua orang anak. Adrianus bekerja sebagai tukang bangunan namun sudah tujuh bulan terakhir sepi pekerjaan. Sejumlah kontrak pekerjaan membangun rumah pun dibatalkan. Ia bahkan tidak sungkan menawarkan jasanya saat melihat ada yang membangun rumah.

banner 1280x904

“Saya kerja serabutan asal mendapatkan uang untuk membiayai hidup dan kebutuhan keluarga saya,” ujarnya pada Jumat (2/10) dilansir dari Liputan6.com.

Di kondisi sekarang ini, Adrianus mengaku benar-benar kesulitan mendapatkan uang untuk kehidupan keluarganya. Ia dan keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun dari pemerintah karena belum mempunyai kartu keluarga dan kartu tanda penduduk walau telah menetap sebagai warga Kota Kupang sejak 2008 silam.

Berikut kisah pilu Adrianus dan keluarganya selengkapnya.

Baca juga  Senator Senayan Dorong Dana Desa Segera Dicairkan Untuk BLT Terdampak Covid-19

Tidur Hanya Beralaskan Tanah

Sejak Covid-19 di NTT mengganas, Adrianus yang hanya tamat SMP ini tinggal di lahan kosong milik kerabatnya. Ia bersama istri dan anaknya, membangun gubuk sederhana beratapkan seng bekas. Ia memanfaatkan tripleks bekas dari tempat kerja sebagai dinding, sedangkan lantai dibiarkan beralas tanah.

Untuk kebutuhan listrik dan air bersih, Adrianus menumpang dari rumah tetangga. Ia memanfaatkan terpal bekas sebagai bak darurat untuk menampung air, sedangkan kamar mandi dan toilet hanya ditutupi empat lembar seng sebagai dinding dan tanpa atap.

Kedua Anaknya Menangis Kelaparan

Adrianus menceritakan hal yang tak bisa Ia lupakan. Pernah pada Selasa (29/9) malam, saat itu Ia pulang tanpa membawa uang karena tidak mendapatkan pekerjaaan. Sedangkan di rumah, sang istri gelisah karena tidak punya beras sementara kedua anak mereka menangis kelaparan.

Marince Nifu pun berusaha mencari jalan keluar, tetapi semuanya buntu. Ia makin sedih saat suaminya pulang tanpa membawa uang, maupun beras. Saat itu Adrianus coba mengecek celengan yang masih tersisa uang receh sebesar Rp18.000.

Baca juga  Kota Magelang Berhasil Kendalikan Kasus Covid-19

Diberi Bantuan Beras oleh Anggota Polisi

Melihat kondisi kehidupan keluarga Adrianus, seorang anggota polisi bernama Bripka Endy Boko tergerak hatinya untuk membantu. Anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Fatukoa ini pun menyisihkan beras jatahnya dari kantor untuk diberikan Adrianus Klakik dan keluarganya.

Bripka Endy mendatangi rumah Adrianus untuk mengantar beras jatah bulanan untuk disumbangkan kepada Adrianus sekeluarga.

“Saat itu saya benar-benar terharu karena terbantu,” ujar Adrianus.

Bripka Endy sendiri mengaku tergerak membantu Adrianus karena prihatin akan kehidupan mereka yang belum tersentuh bantuan.

“Saya prihatin dan bantuan yang sedikit kiranya bisa membantu mereka yang membutuhkan,” jelasnya.

Bantuan beras dari jatah kantor ini akan rutin diberikan. Sang istri pun mendukung penuh langkah yang dilakukan Bripka Endy, karena masih banyak masyarakat yang benar-benar terdampak Covid-19. (lip/mer)

 

 

Komentar