oleh

Ketua GNPF Minta Kasus Pembakaran Bendera Tidak dipolitisasi

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), ustadz Yusuf Muhammad Martak mengatakan bahwa peristiwa pembakaran bendera yang menimbulkan multitafsir mendorong pihaknya untuk meminimalisir permasalahan tersebut agar tidak semakin melebar.

“Saya juga senang sekali bila permasalahan pembakaran bendera tauhid itu tidak terlalu diperpanjang dan bisa segera diakhiri namun masih ada perbedaan persepsi yang mungkin ingin segera dituntaskan,” kata ustadz Yusup Martak dalam diskusi publik Kaukus Muda Indonesia (KMI) bertajuk “Mengakhiri Polemik Politisasi Bendera” di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (23/11).

banner 1280x904

Lebih lanjut, Ustadz Martak juga menegaskan bahwa polemik pembakaran bendera berlambang tauhid tersebut tidak dipolitisasi, apalagi menjelang Pilpres ini. Karena saya tidak berharap mempunyai kepentingan apa pun di antara pasangan Capres-Cawapres bila nanti terpilih menjadi pemimpin di negara Indonesia ini.

Baca juga  Beda Pendapat soal Australia-Israel, GNPF Ulama Ingatkan Prabowo Musuh Islam di Yerusalem

“Kasus ini sebaiknya jangan dipolitisasi, mungkin karena menjelang Pilpres sehingga menimbulkan multitafsir, dan saya tegaskan tidak berkepentingan dengan semua pasangan Capres- Cawapres siapa pun yang terpilih memimpin Indonesia nanti,” tegas Martak

Adapun terkait dengan informasi rencana reuni alumni 212 yang rencananya akan digelar pada tanggal 2 Desember 2018 mendatang, Martak menegaskan tidak ada kaitannya dengan momentum Pilpres 2019. Tapi sekadar reuni biasa dan tidak ada kepentingan politik apapun dengan pihak-pihak tertentu. Karena reuni 212 hanya silaturrahmi saja.

Baca juga  Tidak Ingin Membebani MUI, GNPF-MUI Berubah Nama Menjadi GNPF Ulama

“Reuni itu biasanya diselenggarakan bulannya beda, tahunnya beda apa sama? Ya sudah nasib sudah. Kebetulan tanggal 2 bulan 12 nanti sekian bulan sebelum Pilpres. Tapi masih jauh lah, masih April,” ujarnya

Selain itu, ustadz Martak menghimbau jika benar ada reuni, maka semua peserta reuni 212 mengikuti dengan damai, sejuk, tidak merugikan, dan tidak menyebarkan kebencian apalagi permusuhan satu sama lain. (HS)

Komentar