oleh

Ketua Fraksi PKS: Tidak Perlu Mengklaim Paling NKRI dan Pancasilais

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Ketua Fraksi PKS DPR RI, Jazuli Juwaini, menggelar acara Buka Puasa Bersama dengan mengundang wartawan (awak media), dan sejumlah elemen masyarakat di RJA (Rumah Jabatan Anggota) DPR Kalibata. Acara ini sekaligus dijadikan momentum syukuran Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang dalam kalender Hijriyah jatuh di hari ke-9 Ramadhan (Minggu, 4/7).

Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Jazuli mengajak kepada seluruh hadirin untuk menjadikan Ramadhan, selain sebagai momentum dalam peningkatan kualitas ibadah, juga sebagai sarana untuk memperkuat rasa kebangsaan yang akhir-akhir ini menghadapi banyak tantangan dan gejolak.

banner 728x419

“Tanggal-tanggal ini di bulan Ramadhan dan puncaknya besok (Minggu, 9 Ramadhan, pen) pada tahun 1945 adalah detik-detik persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ini membawa pesan bahwa bangsa ini lahir atau merdeka, pada bulan yang mulia, saat Proklamator dan pendiri bangsa lainya yang beragama Islam sedang berpuasa,” kata Jazuli dalam pernyataanya, Minggu (4/6).

Artinya, lanjut dia, inilah saat yang tepat untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana memperkuat rasa kebangsaan. Apalagi saat ini sedang merasakan kondisi kebangsaan yang akhir-akhir ini tidak harmonis. Dikarenakan sesama warga bangsa saling serang pendapat, banyak fitnah bertebaran, hingga ujaran kebencian, terutama di sosial media.

“Momentum ini juga tepat karena kita baru saja merayakan ‘Hari Pancasila’ 1 Juni kemarin. Dalam pandangan saya, momentum ini kalau dirangkai menjadi kalimat sebagai berikut: Bangsa Indonesia memilih merdeka dengan menjadikan Pancasila sebagai ideologi pemersatu,” ungkapnya.

Melalui pernyataan tersebut, dan sebagai refleksi atas kondisi kebangsaan saat  ini, Anggota Komisi I DPR ini mengajak, mari hentikan mempertajam perbedaan, mengeluarkan pernyataan-pernyataan agresif dan provokatif kepada sesama anak bangsa. Apalagi sampai saling mengungkapkan ujaran kebencian, caci maki, dan fitnah.

“Tidak perlu juga kita saling mengklaim paling NKRI, paling Pancasilais, paling Bhinneka, dan lainnya, sambil menunjuk saudara sebangsa lainnya anti-NKRI, anti-Pancasila, atau anti-kebhinnekaan,” ucapnya.

Sebaliknya tambah dia, kepada sesama warga bangsa untuk bersikap asertif, berlapang dada, saling memahami, merangkul, dan menjaga kebersamaan hingga akhirnya bisa saling bekerja sama, bersinergi dan gotong royong untuk kemajuan Indonesia.

Pada saat yang sama juga, politisi PKS ini meminta kepada Presiden dan pemerintah agar benar-benar menjaga harmonisasi dalam masyarakat dengan mengedepankan kebijakan yang berkeadilan, persuasif, tidak represif, dan dialogis, serta tidak menunjukkan keberpihakan pada satu kelompok, sambil mengalienasi kelompok masyarakat yang lain.

“Menjadi tanggung jawab bersama untuk menjadikan Pancasila sebagai pemersatu, bukan tembok pemisah atau pemecah belah. Tidak boleh ada yang merasa teralienasi dari Pancasila, di saat sebagian lainnya merasa paling Pancasilais,” tegasnya.

Dikatakan Jazuli lanjutnya, bangsa ini terlalu besar untuk dikelola sendirian atau beberapa kelompok saja. Bangsa ini harus dikelola secara bersama-sama oleh segenap rakyatnya, dari latar belakang apapun dia berasal.

“Demikianlah intisari Pancasila seperti yang dikatakan Bung Karno, kalau Pancasila diperas menjadi hanya satu sila saja, maka ialah ‘Gotong-Royong’,” pungkasnya. (Yudi)

Komentar

Berita Lainnya