oleh

Kampus Muhammadiyah Jogja Tak Larang HTI

banner-300x250

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Salah satu kampus yang berdiri di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menyatakan sikapnya tidak melarang keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Di saat banyak pihak juga pemerintah melarang eksistensi organisasi perongron keutuhan pilar bangsa Indonesia ini, UMY justru bersikap sebaliknya, menyikapinya secara moderat. Hal itu disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UMY Hilman Latief.

“Kami menolak, tapi tidak melarang keberadaan mereka (HTI) di kampus,” ujar Hilman, Kamis (11/5/2017).

Ya, kampus adalah lembaga akademik. Itulah alasan mengapa pihak UMY bersikap demikian. Menurut Hilman, tindakan pelarangan bukanlah solusi utama apalagi harus menjadi langkah politik yang penting.

Baca juga  Berafiliasi dengan HTI, Sejumlah Dosen ini Akan Ditelanjangi Menristekdikti

“Justru kalau dilarang, dikhawatirkan akan menimbulkan militansi mereka,” tambahnya.

Peraih Alumni Achievement Award dari School of Arts and Sciences Western Michigan University (WMU) Amerika Serikat ini menegaskan bahwa langkah merangkul dan memberikan edukasi kepada dosen, staf, maupun mahasiswa yang berafiliasi dengan HTI di kampus UMY adalah jalan yang mesti dipilih.

Solusi tersebut, baik melalui kegiatan Baitul Arqam atau pengkaderan tentang nilai-nilai kemuhammadiyahan yang dilakukan rutin setahun sekali. Bisa juga melalui pengajian rutin enam bulan sekali.

Baca juga  Halaqoh Kebangsaan NU-Muhammadiyah, Abdul Muth’i: Khilafah Ide yang Dilematis

“UMY itu kampus Muhammadiyah. Jadi mereka (HTI) harus mengerti dong, nilai-nilai kemuhammadiyahan yang ditanamkan di sini (UMY),” imbuhnya.

Saat ini, tercatat kurang lebih 10 orang dosen UMY yang berafiliasi atau bergabung dengan gerakan pengusung khilafah dan syariat Islam di Indonesia ini. Meski demikia, tambah Hilman, sejah visi-misi mereka itu dipaksakan, kampus tidak berhak untuk menindak tegas.

“Kecuali kalau mereka melakukan perilaku yang meresahkan, seperti demontrasi di kampus. Tentu ada tindakan tegas,” ujarnya. (ms/te)