oleh

Jumlah Muslim di Jerman Bertambah Satu Juta Dalam Lima Tahun Terakhir

BERLIN, SUARADEWAN.com — Jumlah Muslim yang tinggal di Jerman saat ini mencapai lebih dari lima juta. Berdasarkan sebuah penelitian, angka ini naik hampir satu juta dibandingkan lima tahun yang lalu.

Menurut Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF), asal dan religiositas menjadi jauh lebih beragam. Jumlah Muslim dengan latar belakang migrasi di Jerman meningkat sekitar 900 ribu  dalam enam tahun terakhir. Saat ini, jumlahnya antara 5,3 hingga 5,6 juta, sesuai dengan proporsi populasi antara 6,4 dan 6,7 persen.

banner 1280x640

Muslim asal Turki masih menjadi kelompok terbesar. Namun, mereka tidak lagi menjadi mayoritas absolut dengan jumlah 45 persen.

Pergeseran ini terjadi karena masuknya Muslim yang signifikan dari negara-negara Timur Tengah dan sekitarnya. Jumlah imigran dari lingkungan ini mengalami peningkatan selama enam tahun terakhir. Tercatat, 1,5 juta orang dari negara-negara Arab sekarang tinggal di Jerman.

Baca Juga:  Muallaf Jessica Carla: Islam Masuk Akal, Bersyahadat Setelah Diskusi Maraton

Dilansir di Europian News, Kamis (29/4), menurut penelitian yang ada, orang dengan latar belakang migrasi dari negara asal yang didominasi Muslim secara signifikan lebih religius daripada orang yang tidak memiliki latar belakang migrasi. Jumlah mereka sekitar 82 persen.

Lebih dari dua pertiga di antaranya mematuhi aturan mengonsumsi produk halal dan 40 persennya beribadah setiap hari. Hampir tidak ada perbedaan lintas generasi atau lintas usia untuk kelompok ini. Namun, studi tersebut menunjukkan wanita cenderung lebih religius dibandingkan pria.

Sementara itu, asosiasi Islam terus memainkan peran yang ambivalen. Menurut Menteri Dalam Negeri, Markus Kerber, mereka mewakili maksimal 25 persen Muslim yang tinggal di Jerman.

Baca Juga:  Komisi Fatwa MUI se-Indonesia ke-6 Hasilkan 6 Ijtima' Masalah Strategis Kebangsaan

Dari situ timbul pertanyaan, apakah itu adalah perwakilan yang memadai untuk sebuah kelompok mayoritas. Selain itu, Kerber menyebut ketergantungan finansial dan ideologis dari berbagai asosiasi di luar negeri merupakan hal yang problematis.

Anggapan ini muncul utamanya berkaitan dengan organisasi payung terbesar “Ditib” dan hubungannya dengan Kantor Urusan Agama (Diyanet) di Ankara. Asosiasi Islam tidak mewakili seluruh kelompok warga yang berjumlah lebih dari lima juta yang digambarkan dalam penelitian ini.

Untuk penelitian ini, lebih dari 4.500 wawancara dilakukan dengan orang-orang dari negara asal mayoritas Muslim. Penelitian ini menjadikannya sebagai studi perwakilan nasional terluas tentang kehidupan Muslim di Jerman. (sumber)

Komentar

Berita Lainnya