oleh

JIMI: Melawan Ahok Bakal Kena Libas

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) menilai kasus-kasus yang tengah menjerat sejumlah tokoh seperti, Amien Rais dan Sri Pamungkas cs dalam kasus dugaan makar merupakan akal-akalan demi melindungi mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama aias Ahok.

“JIMI dapat menyimpulkan, siapapun yang melawan atau mengganggu Ahok akan berhadapan dengan hukum, akan dilibas. Sederetan nama tokoh nasional telah merasakan hal itu, bahkan ulama dijadikan tersangka untuk kasus yang diduga direkayasa Ahokers melalui website anonim,” terang Muamar, kabid Sosial Politik JIMI (Jaringan Intelektual Muda) dalam rilis yang diterima SuaraDewan.com, Sabtu (3/6/17).

banner 1102x704

Menurut Muamar, pemerintah, dalam hal ini Presiden Joko Widodo melalui perangkat penegak hukum seperti pengadilan dan institusi kepolisian, secara sengaja mencari-mencari kesalahan para tokoh atau ulama tanpa didasari bukti yang kuat.

“Dalil yang lemah itu menurut dugaan JIMI merupakan langkah rezim untuk mencoreng nama aktor-aktor yang mensupport ABI. JIMI menilai rezim saat ini semakin panik, semakin tidak elegan dan tidak realistis sehingga asal saja dalam penetapan seseorang sebagai tersangka,” tulisnya.

Baca Juga:  Ahok Memicu Kesadaran Politik Pemuda Tionghoa di Indonesia

“Tokoh nasional Sri Bintang Pamungkas, Rizal Ramli, Ahmad Dhani, bahkan cawagub  terpilih Sandiaga Uno merupakan deretan tokoh yang telah merasakan bagaimana rezim saat ini sangat berpihak pada Ahok. Sri Bintang Pamungkas bahkan sempat mendekam dipenjara selama 75 hari hingga akhirnya dilepas karena tidak terbukti akan melakukan MAKAR,” sambungnya.

Muamar mengakui, JIMI menyayangkan aksi penangkapan tersebut, menurut mereka, pihak-pihak yang menangkap tanpa bukti kemudian tidak meminta maaf maupun diproses secara hukum, padahal tindakan itu telah mencoreng nama baik orang lain.

JIMI berharap aparat penegak hukum bersama rakyat bukan menjadi musuh bagi rakyatnya sendiri. Selain itu, JIMI memandang tak perlu menunggu 2019 untuk memperbaiki kondisi negara. Semoga para patriot bangsa masih ada, ulama jangan hanya dakwah fiqih namun sudah saatnya bersama umat bergerak lebih maju guna menyelamatkan bangsa dan negara ini

Baca Juga:  Normalisasi Kali Ciliwung, 5 Ribu KK Siap Digusur

“Saat ini demokrasi kita seperti rezim otoriter, rezim yang tidak menghormati hukum dan malah menggunakan hukum untuk menghabisi lawan-lawan politiknya. JIMI sangat menghimbau kepada tokoh-tokoh politik dan ulama yang cinta tanah air bersatu untuk mengambil alih kekuasaan,” pungkas Muamar menandaskan. (dd)

Komentar

Berita Lainnya