oleh

Islam di Portugal, Vasco da Gama & Sejarah yang Dihapuskan

LISBON, SUARADEWAN.com — Setelah menyelamatkan diri dari perang di negaranya, Irak, Abdulsattar ingat bagaimana ia mempertaruhkan nyawa ketika berlayar dari Turki ke Yunani. Sesampainya di Yunani, ia kemudian pergi ke Portugal untuk bermukim dan menetap.

Meski Portugal merupakan negara asing baginya, ada kesamaan kata dan budaya yang dekat dengan agamanya, Islam. “Banyak kata yang familiar dan sama, seperti makanan, kota, atau daerah,” katanya.

banner 1280x904

Bahkan, menurut dia, kata oxala yang dilafalkan ‘oshallah’ memiliki arti yang sama dengan “insya Allah”. Jika menilik ke belakang, hal itu tentu tidak akan mengejutkan.

Pasalnya, pengaruh Arab dan Muslim beberapa abad lalu masih dapat ditemukan dalam bahasa Portugal. Terlebih, ketika wilayah yang kini disebut Portugal itu sempat dipimpin oleh umat Muslim berbahasa Arab dan dikenal sebagai Moor.

Sekitar abad ke-8, Muslim dari Afrika Utara berlayar hingga kemudian memiliki pengaruh besar di wilayah yang kini disebut Spanyol dan Portugal, yang saat itu dikenal sebagai al-Andalus, suatu wilayah yang masuk ke kekaisaran Umayyah dan sedang berkembang.

Masjid Lisbon di Portugal – (Wikipedia)

Namun, seiring waktu, warisan dan budaya serta agama Islam makin teriris di negara yang mayoritas Katolik itu. Bahkan, di dunia pendidikan, sejarah kepemimpinan Muslim selama lima abad hanya dijelaskan selintas dalam buku dan lebih menekankan pada “penaklukan kembali” oleh Kristen pada Perang Salib yang berakhir sekitar abad ke-13.

Padahal, menurut profesor Sejarah Abad Pertengahan di Universitas Evora, Filomena Barros, Muslim yang berlayar dari Afrika Utara tidak lebih asing dari raja dan tentara Kristen asal Eropa Utara.

“Kita (Portugal) selalu membicarakan penaklukan Islam,” ujar dia, seperti dilansir Aljazirah, Kamis (11/6).

Hal tersebut juga makin ditegaskan di kurikulum Portugal yang mengharuskan pelajar membaca puisi epik abad ke-16 karya penyair Portugal Luis Vaz de Camoes, “The Lusiads”. Karya itu menceritakan perayaan raja dan penjelajah Portugal saat melakukan ekspansi.

Menekankan kisah navigator Vasco da Gama ke India dan bertemu Muslim, ia diceritakan membuka rute laut dan membawa Portugal ke akses perdagangan. Namun, Muslim olehnya digambarkan sebagai pihak licik dan berbahaya di puisi tersebut.

Camoes yang dianggap sebagai salah satu penyair terbaik di Portugal juga menggambarkan saat Da Gama menangkap kapal dengan 200 jamaah Muslim sepulang dari Mekkah dan membakarnya. Diceritakan, serangan Da Gama itu adalah balasan dari kekalahan Portugal oleh Muslim. Namun, kisah kekalahan itu tak diceritakan dalam “The Lusiads” atau buku pelajaran Portugal.

Baca juga  Denny JA: Negara-negara Muslim Harus Memeluk Demokrasi dan Kebebasan

“Camoes tidak bertanggung jawab atas alokasi karyanya. Dia masih salah satu penyair Portugis terbesar. ‘The Lusiads’ adalah konstruksi ideologis masa itu tentang identitas Eropa,” ujar Barros.

estival Budaya Islam ke-18 di kota Almonaster La Real, atau biasa disingkat Almomaster, di Propinsi Huelva, Daerah Otonom Andalusia yang berbatasan dengan Portugal.

Barros menerangkan, saat puisi itu ditulis, kekaisaran Ottoman memunculkan ancaman bagi hegemoni penguasa Kristen Eropa. Terlebih, ketika abad ke-15 dan 16, raja Portugis saat itu mengekspansi militernya di Afrika Utara dan terlibat peperangan dengan Muslim walaupun ekspansi Portugal kala itu pupus.

Tak hanya itu, sebelumnya pada 1249, Raja Afonso III dari Portugal juga menyerang benteng terakhir Muslim di Algarve. Sebagian besar Muslim di sana tewas, sisanya melarikan diri ke wilayah Muslim atau menjadi umat Kristen demi keselamatan.

Hampir 250 tahun berselang, tepatnya 1496, Raja Manuel I memutuskan mengusir semua orang Yahudi dan Muslim, mengubah kerajaan itu menjadi Kristen. Tak ada catatan pasti berapa jumlah tersebut memang. Namun, diperkirakan Yahudi saat itu berjumlah 20 ribu sampai 100 ribu orang, sedangkan lainnya adalah Muslim.

Selain diusir, sebagian besar sinagoge dan masjid saat itu juga dihancurkan. Sisanya dijadikan gereja Katolik.

Bukti tersebut juga telah diakui oleh pemerintah Portugal pada 2015, hingga akhirnya meminta maaf dan menawarkan kewarganegaraan Portugal pada keturunan Yahudi yang sempat diusir. Sayang, tidak ada tawaran apa pun pada Muslim.

Meski umat Islam terkait tidak diberi ganti rugi berupa kewarganegaraan, jalan perbaikan sejarah Muslim di sana perlahan mulai dibuka dan dipelajari kembali. Salah satu yang berperan adalah penulis Portugal Adalberto Alves.

Dia membuat daftar kata-kata Portugal yang merupakan serapan dari Arab. Proyek yang menghabiskan satu dekade itu berhasil menerbitkan kamus dengan lebih dari 19 ribu kata dan ungkapan Portugal dengan akses Arab pada 2013.

“Saya ingin mengatasi ‘klise’ antagonisme antara orang Kristen dan Muslim dan pengabaian tentang peradaban Andalusi,” kata Alves menjelaskan.

Baca juga  Warisan Islam di Kota Madrid Spanyol

Alves percaya warisan budaya dan intelektual yang diwarisi dari Islam belum diakui di Eropa karena sejarah umat Islam telah dihapuskan dari sejarah Eropa. Atas upayanya meneliti dan mendokumentasikan sejarah Islam selama 35 tahun terakhir itu, ia diakui UNESCO dan diganjar hadiah Sharjah untuk Budaya Arab pada 2008.

Memanfaatkan syair dan lainnya, Alves berkontribusi mengubah warisan Islam yang paling kentara di Portugal. Upayanya menerjemahkan puisi Arab dari periode Andalus ke bahasa Portugal juga dimulai dengan karya al-Mu’tamid, penguasa Muslim terakhir Seville, bahkan membuahkan hasil dengan diadakannya pameran syair karyanya dan al-Mutamid.

“Saya mendedikasikan sebagian besar hidup saya untuk mencoba melakukan keadilan kepada penyair besar dan Raja al-Mutamid ibn Abbad,” kata Alves.

Lebih jauh, penelitian sejarah Islam di Portugal juga dilakukan berbagai pihak lainnya. Bahkan, arkeolog Claudio Torres memulainya dengan pecahan-pecahan tembikar yang ditemukan di bawah pohon ara di Mertola, sebuah kota kecil di tepi Sungai Guadiana.

Torres, yang kini berusia 81 tahun, memutuskan mulai menggali. Pada 1978, ia mendirikan Lapangan Arkeologi Mertola dan pindah ke kota yang sunyi bersama keluarganya.

Bukan hanya Torres, peneliti lainnya juga menghabiskan waktu puluhan tahun meneliti hal serupa. “Berbagai komunitas (pernah) hidup bersama di sini hingga akhir abad ke-15,” kata Susana Martinez, seorang peneliti di bidang arkeologi Mertola.

Serupa dengannya, peneliti Virgilio Lopes mengatakan, Mertola tidak menunjukkan adanya tanda pertempuran. Sebaliknya, bukti menjelaskan bagaimana orang masa Andalus hidup bersama.

“Di bawah batu-batu dan reruntuhan ini, ada gagasan koeksistensi yang luar biasa. (Namun,) pengusiran orang-orang Yahudi dan Muslim memecah periode koeksistensi yang panjang,” ujar dia.

Dia menambahkan, bukti kontinuitas yang ditemukan tersebut sangat perlu untuk dikisahkan. Bukan kisah elite dalam setiap pertempuran, menurut dia, melainkan kisah rakyat biasa dan cara mereka berinteraksi hingga cara berbagi dalam hidup.

Dia mengatakan, yang diceritakan di sekolah-sekolah lokal tidak sepenuhnya terjadi. Mertola sangat penting karena mampu menunjukkan kontinuitas masyarakat dengan kehidupan agama yang bertoleransi saat itu.

“Saat-saat ketika hubungan antarmanusia hidup berdampingan,” ungkap dia. (Sumber: Aljazeera 

Komentar