Indonesia Menjadi Perebutan Segala Aliran

Indonesia Menjadi Perebutan Segala Aliran

Peristiwa Politik-Ekonomi Dalam Ramalan Nostradamus 2016
Ironi Negara Maritim
Demokrasi Yang Berdebu

KLATEN, SUARADEWAN.com –  Radikalisme, intoleransi, dan ujaran kebencian masih menghantui bangsa ini. Hal inilah yang menginisiasi sejumlah ormas dan pemuka agama Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten selenggarakan  sosialisasi dengan tema “Peningkatan Wawasan Kebangsaan Guna Membangun Kesetiaan Kepada Pancasila dan NKRI,” di Tulung, Klaten, Kamis (17/10/2019).

“Tujuan kegiatan ini merupakan inisiasi bersama untuk memberikan daya tangkal bagi warga masyarakat sekitar Kec. Tulung Kab. Klaten dari pengaruh penyebaran paham terorisme dan radikalisme, intolerasi, hoax dan ujaran kebencian,” kata Panitia Kegiatan Rochmat Sugiarto yang juga merupakan Camat Tulung.

Lebih lanjut, Camat Tulung ini menjelaskan bahwa selama ini situasi dan kondisi Tulung yang sudah ayem tentram agar terus dijaga, baik secara Ukhuwah dan persatuan/kebersamaan yang luar biasa, dimana ada pengajian Ukhuwah setiap Kamis sore yang sudah rutin berjalan dan gaungnya sudah sampai ke Singapura.

“Hal ini atas peran salah seorang Ustadz Jazir dari Yogyakarta yang dihadiri umat dari berbagai unsur seperti NU, Muhamdayiah, MTA, LDII, Da’i Kamtibmas dan Islam Abangan. Alhamdulilah pengajian sudah berjalan 5 tahun. Selama ini pengajian bisa berjalan dengan baik,” pungkas Rochmat Sugiarto.

Baca juga  Janji Prabowo: Kalau Anies-Sandi Korupsi, Saya yang Pertama Turunkan Mereka!

Atas semua kedamaian dan ketenganan itu, lanjut Rochmat, lantaran penceramahnya tidak memberi ruang tanya jawab dan kedua, ustadnya tidak membicarakan khilafiah, tujuan semata-mata adalah ukhuwah menambah wawasan agama Islam.

Mendapat dukungan yang sama, pendiri Amir Institute Dr. Amir Mahmud, S.Sos,.M.Ag menjelaskan bahwa radikalisme bagian dari ideologi yang tidak pernah mati. Dia mencontohkan kasus Suriah yang hancur karena perang saudara pengaruh fitnah media sosial.

“Indonesia negara yang bersendikan nilai-nilai relijius yang mengakomodir seluruh keanekaragaman Suku, Ras, Budaya dan Agama. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yaitu suatu kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad untuk mewujudkannya,” kata Amir Mahmud yang juga merupakan Dosen Pascasarjana UNU.

Kontek khilafah, lanjut Amir, hanya ada dalam kajian akademis, kalau ada hari ini yang mempersoalkan Pancasila dengan Islam (muncul istilah NKRI Bersyariah) maka perlu dipertanyakan motifnya apa. Perlunya pertajam kembali Wawasan Kebangsaan ideology Pancasila terdiri dari 5 dasar sangat tepat dan sesuai, warga Negara harus beragama).

Baca juga  Boni Hargens : NU dan Muhammadiyah Perlu Tingkatkan Diskusi Kebangsaan

Selain itu, IPDA Subkhan, S.H,.MH,. dalam penyampaian ceramah berjudul “Urgensi Meningkatkan Wawasan Kebangsaan Guna Membangun Kesetiaan Kepada Pancasila dan NKRI,” menjelaskan hal yang melatarbelakangi yaitu Indonesia sebagai Negara Muslim terbesar dunia.

“Garis pantai terpanjang 80, 999 Km, negara kepulauan terbesar, dan suku bangsa dan bahasa daerah diperebutkan oleh Kelompok Liberalis, Kapitalis, Sekuler, Radikalis Kanan dan Kiri,” pungkas IPDA Subkhan, Kamis (17/10/2019).

Radikalisme, pembaharuan sosial dan politik dengan cara yang keras atau drastis, menginginkan perubahan hukum/ideologi sistem pemerintah dan bentuk negara, melalui tahapan perekrutan, propaganda dan amaliyah.

“Tahap perekrutan melalui pendekatan dan doktrin, pembinaan dan baiat, Tahap Propaganda melalui media online, cetak dan media social, dan amaliyah (aksi langsung). Perlunya pemahaman dan pembelajaran serta pendampingan penggunaan media social terkait pemahaman aqidah budaya sharing sebelum sharing,” lanjut IPDA Subkhan.  (aw)