oleh

HMI Surakarta : Kampus Punya Peran Meminimalisir Intoleransi dan Radikalisme

SURAKARTA, SUARADEWAN.com – Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Surakarta, Ramadhon, mengatakan bahwa kampus hari ini cukup kering dan berpandangan positivis. Hal tersebut karena, terang Romadhon, kampus hanya mendesak mahasiswa untuk cenderung mengejar nilai akademik daripada dinamika pemikiran.

“Jadi kalau saya melihat kampus hari ini cukup kering dan bisa dibilang cara pandang hari ini adalah cara pandang yang sangat positivis. Gimana hari ini kampus tidak lebih dari sekedar sebuah alat. Mahasiswa cenderung individualis dan kejar akademik,” ucap Romadhon dalam kegiatan webinar Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan, Selasa (08/09) via google meet.

banner 1280x904

Lebih lanjut, Romadhon, menjelaskan bahwa mahasiswa hari ini hampa dan kosong dari aspek-aspek lain. Akhirnya mahasiswa lari ke agama, masalahnya mereka salah dalam penyalurannya kepada kelompok-kelompok yang terpapar radikalisme.

Baca juga  Said Aqil Nilai Video Radikalisme Lebih Bahaya Dari Pornografi

“Itu kan sebenarnya kita perlu mempertanyakan lagi bagaimana kampus, apakah sudah menyediakan ruang-ruang publik yang bisa mendinamisasi wacana-wacana radikalisme. Harus ada demokratisasi. Tetapi ini kesempatan bagi kita semua ketika juga kampus menggandeng OKP untuk mendinamisasi wacana. Untuk mengcounter gerakan antipancasila,” kata Romadhon.

Ditempat yang berbeda, Ketua GMNI Surakarta, Ruwanda Saputra menjelaskan bahwa isu toleransi memang menjadi isu yang sangat santer dibicarakan berkaitan dengan demokrasi-demokrasi yang diselenggarakan negara.

Menurutnya, politik identitas dijadikan tolak ukur kemenangan. Itu satu kesalahan. Padahal kita sebagai bangsa sudah memiliki konsesus bersama yaitu Pancasila, tetapi hari ini kita malah selalu berada dalam pergolakan didalam negara.

“Menurut saya hari ini Bangsa Indonesia harus kembali lagi pada Manifesto. Misalnya juga kita harus merenungkan lagu Bagimu Negeri, dmana maknanya itu sangat dalam silahkan baca. Jika kita resapi maka kita tidak mungkin melukai kebangsaan kita,” tegas Ruwanda.

Baca juga  Tebar Kebencian Lewat Khotbah, Nalla Mohamed Dipulangkan ke Kampung Halaman

Untuk itu, sambung Ruwanda, manifesto ini harus menjadi pegangan kita dalam berbangsa dan bernegara. Revolusi moral dan mental harus juga kita bicarakan hari ini. Ada banyak persoalan seperti korupsi dan sebagainya.

“Pesan saya kepada smeuanya, baik kepada yang lebih muda ataupun di atas saya, agar kita kembali kepada kebesaran negara Indonesia. Makanya, Soekarno pernah berkata Perjuanganku berat melawan penajajah, tetapi perjuangan kalian akan jauh lebih berat karena akan melawan teman-teman sendiri. Kita selalu egois, tetapi juga tidak dibarengi dengan kontribusi membangun bangsa. Ini yang jadi masalah,” pungkas Ketua GMNI Surakarta ini. (Aw)

Komentar