Hasil Referendum: Mayoritas Masyarakat Irlandia Dukung Aborsi dan Pernikahan Sejenis

Hasil Referendum: Mayoritas Masyarakat Irlandia Dukung Aborsi dan Pernikahan Sejenis

DUBLIN, SUARADEWAN.com - Taoiseach alias Perdana Menteri (PM) Leo Varadkar punya waktu sampai akhir tahun untuk merumuskan perundang-undangan baru ter

Tetap Menjadi Misteri, Inilah 5 Peradaban Dunia Paling Maju yang Hilang
Skandal Seks yang Menjerat Pejabat-Pejabat di Sejumlah Negara
Dua Tahun Menjabat, Presiden Myanmar Mengundurkan Diri

DUBLIN, SUARADEWAN.com – Taoiseach alias Perdana Menteri (PM) Leo Varadkar punya waktu sampai akhir tahun untuk merumuskan perundang-undangan baru terkait dengan aborsi. Itu terjadi setelah lebih dari separo warga dewasa Irlandia yang berpartisipasi dalam referendum Jumat (25/5) menghendaki Eight Amendment dicabut. Tahun depan Irlandia tak lagi melarang aborsi.

’’Rakyat Irlandia telah menunaikan tanggung jawab sebagai warga negara dan juga sebagai bangsa. Hari ini akan selalu dikenang sebagai hari peralihan Irlandia dari kegelapan menuju cahaya,’’ kata Varadkar dalam pidatonya Sabtu (26/5). Dia berpidato tak lama setelah hasil awal referendum dipublikasikan.

Kepada BBC, pemimpin 39 tahun itu menyebut hari referendum tersebut sebagai hari bersejarah. Kini, menurut Varadkar, Irlandia sejajar dengan negara-negara lain soal kebijakan aborsi. Sebelum referendum keenam dihelat Jumat, negara tersebut dikenal sebagai yang paling ketat mengatur aborsi.

Para pendukung pernikahan sesama jenis dan aborsi bersorak di Kastil Dublin saat menunggu hasil referendum

Berdasar Eight Amendment yang berlaku mulai 1983, Irlandia mengharamkan aborsi. Kecuali, ada rekomendasi dokter yang sifatnya darurat dan mengancam nyawa si ibu.

Baca juga  Parlemen Pakistan Loloskan Undang-Undang Transgender

Aturan itu berlaku bagi siapa saja. Bahkan, korban pemerkosaan tidak bisa menggugurkan kandungan jika dokter memastikan sang ibu dan janinnya sehat-sehat saja.

Itulah yang lantas membuat sejumlah perempuan Irlandia berkelana ke mancanegara untuk menggugurkan kandungan. Sebab, aturan di Irlandia tidak melarang para calon ibu itu mengaborsi janin di mancanegara.

Hari ini (28/5) Menteri Kesehatan Simon Harris menggelar rapat kabinet untuk menyusun draf regulasi baru tentang aborsi. Rencananya, pemerintah mengizinkan aborsi bagi janin yang usianya maksimal 12 pekan.

Jika usia kandungan lebih dari itu, si calon ibu harus mengantongi rekomendasi medis. Dokter pun harus memastikan bahwa kehamilan itu berisiko dan mengancam keselamatan ibu serta janinnya.

Selama ini, menurut Reuters, Inggris menjadi jujukan perempuan asal Irlandia maupun Irlandia Utara yang hendak mengaborsi janinnya. Setiap tahun ada ribuan warga Irlandia dan Irlandia Utara yang menggugurkan kandungan di Inggris.

Warga merayakan hasil referendum yang menyetujui pernikahan sesama jenis di Kastil Dublin, Irlandia (23/5

Sementara itu Pernikahan gay didukung semua partai politik, disokong berbagai perusahaan besar dan didoring para selebriti. Semua berharap pilihan ini akan menandai transformasi Irlandia yang sejak lama dianggap sebagai salah satu negeri paling konservatif di Eropa Barat.

Baca juga  Negara Ini Larang Anggota Parlemen Perempuan Pakai Bulu Mata Palsu dan Kuku Palsu

Dilegalkannya pernihakan gay akan menjadi perubahan besar bagi Irlandia, di mana pengaruh Gereja Katolik masih sangat besar. Hingga 1993, negeri itu masih mengkriminalkan homoseksualitas dan aborsi dilarang kecuali jika nyawa si ibu benar-benar terancam.

Gereja Katolik Irlandia sebenarnya juga berusaha keras mengkampanyekan pilihan “Tidak” terhadap pernikahan gay, namun ajakan ini hanya mendapat dukungan dari para warga lanjut usia dan penduduk pedesaan.

Dengan hasil ini, maka Irlandia menjadi negara pertama di dunia yang melegalkan pernikahan gay melalui referendum. Sebelumnya Slovenia dan Kroasia juga menggelar referendum serupa namun gagal melegalkan pernikahan sesama jenis kelamin itu. (sd)

COMMENTS

DISQUS: