oleh

Hampir Bangkrut, Pengusaha Travel Ini Ubah Kantor Jadi Warung Jus Sayur

MANADO, SUARADEWAN.com — Mewabahnya Covid-19 di seluruh dunia termasuk Indonesia, rupanya telah memberikan dampak yang luar biasa bagi para pelaku industri di berbagai sektor.

Seperti yang dialami oleh Theodorus Primaxylxla Jodimarlo (24), seorang pengusaha travel di kawasan Arcamanik, Kota Bandung, Jawa Barat yang terpaksa merubah kantornya menjadi ladang rezeki baru di tengah merosotnya industri pelayanan dan jasa.

banner 1280x904

Pria yang akrab disapa Jodi itu membuka usaha hidroponik serta olahan jus dari sayuran pakcoy yang ia kelola di halaman gedung kantor perjalanan yang diberi nama Jodirexa Building itu.

Seperti dikutip dari Liputan6, selama masa pandemi ini ia lebih banyak melakukan aktivitas berkebun serta memproduksi jus dari sayuran pakcoy yang dibantu oleh para driver dari usaha travel-nya tersebut.

Dalam seminggu ia bisa memproduksi sebanyak 30 sampai 50 botol jus pokcoy dari hasil penanaman 20 – 30 penanaman bibit setiap harinya.

“Biasanya produksi satu botol membutuhkan 2-3 batang pakcoy. Untuk produksi jusnya saat ini seminggu bisa 30-50 botol,” katanya.

Titik Terendah Usahanya

Dirinya menyebut jika awalnya ia terjun ke usaha hidroponik sejak Maret 2020 lalu, di mana ketika itu Covid-19 mulai masuk ke Indonesia sehingga biro perjalanannya perlahan lahan mulai lesu.

Menurutnya, pada periode 2019 lalu omzetnya bisa mencapai Rp200-300 juta per bulan, kini di masa sekarang untuk mendapatkan Rp10 juta pada periode yang sama sudah dirasa sangat sulit.

“Dulu, mobil hampir tiap hari jalan. Tetapi waktu pandemi sudah enggak ada lagi yang jalan,” katanya.

Tak Ada Pemasukan

Bahkan saking berdampaknya pada usaha yang ia jalani, dirinya sampai harus mengurangi jumlah karyawan.

Dirinya juga bercerita, ketika itu ia sempat bersedih lantaran tak bisa meminjamkan uang kepada karyawannya karena tak ada pemasukan sama sekali.

“Jadi waktu itu kas lagi tipis, ada satu driver yang minta kasbon Rp50 ribu. Saya enggak bisa kasih karena memang kondisi waktu itu lagi terpuruk. Saat ditelepon driver itu, saya menangis. Tapi tidak lama setelah itu saya coba kumpulkan uang lalu kasih sembako. Sekarang walau belum normal situasinya, driver itu bantu-bantu bikin jus dan kita bagi hasil,” ujarnya.

Baca juga  Jalin Kerjasama, Hotel Desa Wisata Siap Jadi Hunian Atlet Asian Games 2018

Untuk produk jus pakcoy yang dijual oleh Jodi dibanderol Rp15.000 per botol dengan ukuran 350 mililiter. Dalam satu bulan, jus yang mengandung vitamin C ini laku hingga 100 sampai 200 botol.

“Buat saya pribadi karena masih anak muda yang baru terjun ke dunia bisnis, sampai detik ini masih terus mencari apa yang harus dikerjakan. Karena setelah bisnis terhenti, saya harus berpikir bagaimana caranya agar tetap produktif,” ujarnya.

Dirasakan Juga oleh Sang Ayah

Sementara itu sang ayah, Joseph Sugeng Irianto (52) juga memiliki usaha travel seperti sang anak juga turut mengalami dampak dari pandemi Covid-19 ini. Menurut Josep, ia kehilangan pendapatan hingga 90 persen dan harus memangkas 13 orang karyawannya.

“Saya yang usahanya bergerak di bidang jasa pariwisata, sejak Februari ini mengalami drop. Bahkan, saya terpaksa harus merumahkan 13 orang karyawan,” katanya.

Sejak saat itu ia bersama Jodi turut mengembangkan usaha jus pakcoy tersebut. Di awal-awal saat merintis, ia menyebut jika ketika itu keduanya mencoba menanam sayuran kangkung.

Setelah itu keduanya mencoba menanam pakcoy di instalasi pipa paralon yang dikerjakan berdua, dan hasilnya diolah menjadi minuman jus yang menyehatkan.

“Lalu menanam pakcoy lalu berhasil juga dan dibagikan ke saudara tetangga,” ungkapnya.

Membuat Roda Ekonomi Tetap Berjalan

Selama tujuh bulan terakhir, mereka terus berinovasi dengan membuat beberapa varian dari jus sayuran sawi sendok itu.

Dengan tambahan lemon madu, nanas dan sedikit gula jusnya memiliki rasa otentik. Selain itu, keduanya juga berinovasi dengan rasa lainnya yakni apel dan buah leci.

Baca juga  Hasil Studi: Putus Nyambung dengan Mantan Buruk Untuk Kesehatan

“Kalau pasarnya memang belum terbentuk. Tapi saat ini lebih banyak dibeli oleh teman, kerabat dan warga sekitar sini,” kata Joseph.

Menurut keduanya, selama tujuh bulan berjalan tanpa penghasilan tersebut, mereka saling memberikan edukasi serta semangat bahwa di masa seperti sekarang ada risiko dan usaha yang diambil bersama keduanya.

Menurutnya, yang terpenting adalah roda ekonomi masih bisa memberikan keuntungan di tengah keadaan sulit akibat Covid-19.

“Sesudah tujuh bulan tidak ada penghasilan, kami mencoba memberikan semangat dan edukasi bahwa semua permasalahan ada akhirnya. Kalau kita sekarang tidak bisa bergerak di bidang pariwisata, cari jalan lain. Jika ada yang punya usaha jual beli atau bertanam silakan dilakukan,” katanya.

Berbagi Antar Sesama

Kendati keadaan ekonominya masih terpuruk, keduanya pun terus berupaya berbagi untuk sesama. Seperti yang dilakukan setiap hari Jumat, di mana mereka kerap membagikan 100 botol jus pakcoy kepada masyarakat yang melaksanakan salat Jumat.

Jodi dan Joseph yang beragama Katolik itu sudah empat minggu ini berkoordinasi dengan DKM masjid setempat guna menyediakan minuman yang bisa meningkatkan imun tersebut.

“Sebenarnya ini lebih ke kepedulian saja karena saya punya usaha lagi terpukul karena pandemi. Kebetulan jus saya lebih banyak mengandung vitamin c dan ini secara kesehatan bisa meningkatkan imun tubuh. Makanya kita sebut jus pakcoy sehat,” kata Joseph.

“Sebetulnya yang membiayai jus ini sekarang bukan kami lagi. Warga ada yang mau bantu dengan kasih uang seikhlasnya atau ada yang kasih nanasnya. Intinya gara-gara jus ini warga jadi tergerak untuk saling membantu,” tambah Joseph. (lip/mer)

Komentar