oleh

Habib Husein Muthohar; Cucu Rasulullah Penyelamat Sang Merah Putih

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Ketika Indonesia telah merdeka. Ada seorang Sayyid dari warga Kauman Semarang, bernama Habib Muhammad Husein Muthohar, ayahnya Habib Umar Muthohar. Beliau masih ada keturunan dari Rasulullah saw.

Beliau terkenal dengan sebutan penyelamat merah putih. Pada saat agresi militer Belanda II dan pendiri Paskibraka, Beliau menciptakan lagu “Syukur”.

banner 1280x904

Dengan lirik lagu dan sya’ir yang indah :

(Dari yakinku teguh,
Hati ikhlashku penuh,
Akan karuniamu,
Tanah air pusaka,
Indonesia merdeka,
Syukur aku sembahkan,
KehadliratMu Tuhan)

Habib Husein Muthohar diangkat oleh pemerintah menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga. Lalu dipercaya menjadi Duta Besar (Dubes) di Vatikan. Beliau tidak hanyut pada situasi di Vatikan. Bahkan membangun sebuah Masjid yang hebat, dan menyusun lagu kebangsaan yang amat inspiratif.

Diceritakan, suatu saat beliau mendengar adzan sholat Dzuhur. Sampai pada kalimat “Hayya alas sholaaah”. Suara adzan tersebut terngiang di telinganya, Hingga selesai melakukan bersuci dan sholat. Suara adzan tersebut tetap terngiang di telinganya. Maka hatinya terdorong membuat lagu yang mirip adzan.

Baca juga  Pengamanan Mudik Lancar, Seorang Warga Pemudik Ucap Terimakasih ke Kapolri
Habib Muhammad Husein Muthohar

Ada huruf : “S” nya, ada “A” nya, ada “H” nya. Beliau memanggil pak Hoegeng Imam Santoso, agar mengambikan kertas dan pena. Kemudian pena di tangannya seolah berjalan sendiri. Menulis lagu yang bernada semangat dan diberi judul hari merdeka:

(Tujuh belas agustus tahun empat lima,
Itulah hari kemerdekaan kita,
Hari merdeka nusa dan bangsa,
Hari lahirnya bangsa Indonesia,
Merdeka,
Sekali merdeka tetap merdeka,
Selama hayat masih di kandung badan,
Kita tetap setia tetap sedia,
Mempertahankan Indonesia,
Kita tetap setia tetap sedia,
Membela negara kita,)

Baca juga  Menpora: Dana Pramuka Tidak Dibekukan, Hanya Ditunda Pencairannya

Habib Husain Mutahar adalah protokoler pertama istana negara di Yogyakarta. Beliau yang bertugas dalam keterbatasan membangun etika kenegaraan dalam table manner, penataan perabot, serta protokoler di gedung agung yang ditempati keluarga Bung Karno. Ketika Bung Karno ditangkap Belanda, beliau menitipkan bendera pusaka kepada Habib Husain.

“Jaga bendera pusaka ini dengan nyawamu!”

Dengan cerdik, bendera pusaka itu dipreteli. Jahitan tengahnya dibuka sehingga terpisah antara warna merah dan putih dan tidak lagi tampak sebagai bendera pusaka. Kelak, ketika bertemu Bung Karno, Habib Husein menjahitnya kembali berdasarkan lubang jahitan sebelumnya. (eb)
.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِ

Komentar