Guyuran Hujan tak Memudarkan Semangat WIIF 2016

Diduga Melakukan Provokasi, Zakir Naik Jadi Buronan oleh Pemerintah India
Donald Trump Sebut Korut Ancaman Bagi Dunia
Per Hari Ini, Pemerintah Malaysia Resmi Hapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
wiff

Peserta WIFF 2016 di Jiangning Fangshan Art

Nanjing, suaradewan.com –  Hujan deras tidak menyurutkan antusias peserta untuk mengikuti kegiatan Welcoming Indonesia International Freshman WIIF 2016. Kegiatan yang berlangsung di Jiangning Fangshan Art ini diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok Cabang Nanjing (PPIT Nanjing).

Acara yang berlangsung dari tanggal 22 hingga 23 Oktober 2016 itu, merupakan agenda rutin setiap tahun yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar peserta serta mengenalkan Nanjing kepada mahasiswa yang baru menginjakkan kaki di kota yang juga dikenal sebagai “ibukotaSurga”.

Tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di tengah aktivitas belajar dan aktivitas kampus yang padat, panitia melakukan yang terbaik dengan mengajak peserta yang bukan hanya dari Indonesia tapi juga dari berbagai warna kulit, bahasa, dan budaya yang berbeda.

Bukan tanpa alasan, PPIT Nanjing bertujuan bahwa mahasiswa Indonesia yang jauh-jauh merantau ke Tiongkok harus lebih mengenal banyak budaya berbeda bukan hanya dari Indonesia saja, tapi mereka juga harus open minded, berpikiran terbuka mengenal dan belajar dari banyak latar belakang budaya dan Negara. Beberapa negara yang terlihat dalam antrian registrasi diantaranya Kazakhstan, Laos, Korea, Jepang, Taiwan, dan Ecuador.

Kegiatan yang berlangsung hingga minggu sore ini, diisi dengan berbagi permainan, hingga talent show. Dimana peserta yang sudah dibagi menjadi 20 kelompok di“wajibkan”untuk menampilkan aksi seni terbaik mereka. Di hari kedua peserta diajak berkeliling untuk menikmati kota Nanjing dengan berbagai misi permainan yang bertujuan untuk mengakrabkan satu sama lain.

Saat registrasi hingga waktu istirahat siang hujan masih tetap mengguyur deras ruangan yang di pakai saat acara terlihat mulai kosong. Di antara beberapa peserta yang beristirahat diruangan, tampak wajah asing yang asik memperhatikan suasana sekelilingnya. Dia Byron dari Ecuador, merantau jauh dari negaranya, dia menceritakan bahwa kegiatan ini membawanya untuk mengenal budaya berbeda, dan mengenal banyak orang “it’s well, because every day just in my room alone”.  Ada yang menarik dari bincang-bincang saya dengan Byron “I always use something to cover my feet event in my room. So, I am not comfortable when I don’t use my shoes.  But, it’s the culture, event different I try my best”. Saya selalu menggunakan alas di manapun saya berada, bahkan saat dikamar. Saya agak merasa tidak nyaman karena saya harus membuka alas kaki di sini. Tapi inilah budaya, saya akan berusaha semampu saya. TambahByron, dengan wajah mulai menikmati kaki yang tanpa alas.

Budaya boleh berbeda tapi ketika saling memahami maka saat itu nilai yang paling diharapkan dari kegiatan ini, yang juga sesuai dengan temanyaone spirit, one dream, coloring the world.” Upaya untuk mewarnai dunia itu juga tampak saat peserta dari Laos mengiringi teman-teman sekelompoknya yang mayoritas berasal dari Indonesia bernyanyi.  Dengan petikan gitar yang membuat penonton berdecak kagum. Vongphom Khaniyaa atau yang akrab disapa Tina ini mengungkapkan alasannya mengikuti kegiatan ini karena tertarik dengan Indonesia walaupun belum pernah menginjakkan kaki secara langsung, tapi dikampusnya Nanjing Polythecnic Institute, Tina dan ketiga temannya yang juga berasal dari Laos sangat akrab dengan anak-anak Indonesia.

Nehemy yang berasal dari Republik Gabon, salah satu negara dibagian barat Afrika yang juga dikenal dengan negara kaya mineral ini juga terlihat bernyanyi “Heal The World” yang dipopulerkan oleh Michael Jackson bersama teman-teman kelompoknya. Tampak jelas ceria diwajahnya sembari sesekali mengembangkan senyum manisnya. Ia menuturkan bahwa, acara ini sangat menarik baginya yang baru satu bulan di Nanjing, di mana ia bisa mengenal banyak orang khususnya teman-teman dari Indonesia.

Dari seluruh kegiatan ini, saya melihat kami disatukan untuk saling belajar. Belajar untuk saling memahami karakter, ego hingga budaya yang berbeda. Belajar untuk mengerti bahwa setiap orang punya karakter masing-masing, apalagi teman-teman dari luarnegeri, mereka justru punya budaya sendiri yang unik. Belajar bahwa bukan saya, anda dan negara kitalah yang paling benar, tapi memang setiap sesuatu punya keunikan dan keragaman masing-masing. Perbedaan di manapun tetap ada, tapi ketika saling memahami, di titik itulah kita dapat bersatu. Tutup Kukuh Pamuji, peserta asal Aceh.

*(Indah Rastika Sari, Tim Jurnalis WIIF 2016)

COMMENTS