oleh

Gus Mus Geram Banyak Orang Suruh Tuhan Urus Pilkada

JAKARTA, SUARADEWAN.com – KH. Mustofa Bisri alias Gus Mus mengkritisi sejumlah kontestan di Pilkada DKI Jakarta 2017. Mereka, menurut Gus Mus, tampak mendadak relijius dengan kerap mendatangi tokoh agama sembari mengaku sangat dekat ulama.

Selain itu, Mustasyar Pengurus besar Nadhlatut Ulama (PBNU) juga menyentil oknum-oknum dari ormas keagamaan yang gemar meneriakkan “Allahu Akbar” tanpa mengetahui makna dari ucapan tersebut.

banner 728x419

“Masak urusan Pilkada, Gusti Allah diajak? Saya tanya, apa arti sampayen mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar? Sebesar apa Allah, kok sampayen mengatakan terbesar? Wong pengajian Akbar, Masjid Akbar, dan Imam Besar juga ada, apa Tuhan sebesar itu?” sentil Gus Mus di Masjid Raya Bandung, Senin (13/3/2017).

Baca Juga:  Pesan untuk Muhammadiyah dan NU

Gus Mus pun mengaku geli melihat banyak pihak dalam Pilkada yang selalu merasa bahwa apa yang diyakininya merupakan kebenaran mutlak, yang sudah sesuai dengan perintah Tuhan.

“Ada yang merasa seperti Gusti Allah. Kalau dia marah, dipikir Allah juga marah. Kalau dia geram, dia pikir Allah juga geram. Allah sebesar itu tapi disuruh ngurusi Pilkada. Berani sekali orang-orang Indonesia ini. Jangan mengatakan Allahu Akbar, tapi merasa diri lebih besar dengan yang lain,” tegas Gus Mus kembali.

Ia juga mengilai bahwa banyak orang yang mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan tapi hatinya justru hanya mementingkan bagaimana tujuan politiknya bisa tercapai.

Baca Juga:  Berita Hoax Marak di Medsos, Gus Mus: Harus Dilawan!

“Ketika Allahu Akbar, di kepala sampayen ada siapa? Kalau mengucapkan Allahu Akbar, tapi di dalam kepala terpikir ‘Haji Sulam jualan bubur’. Jangan sembarangan Allahu Akbar dulu, bahwa banyak ulama pingsan karena tahu betapa kecil kita ini,” imbuh Gus Mus.

Di kesempatan yang sama, Gus Mus juga tak lupa mengutip pendapat kakaknya, Kiai Cholil Bisri.

“Kalau tidak bisa mengetahui bagaimana besarnya Allah, sudahlah maknai Allahu Akbar, aku sangat kecil sekali,” kutipnya.

“Jadi kita itu bagaimana? Mengecilkan diri sendiri tidak bisa. Membesarkan Tuhan tidak mampu,” tambah Gus Mus. (ms)

Komentar

Berita Lainnya