Gagal Mengurus Negara, 3 Presiden Ini Bikin Negaranya Bangkrut

Gagal Mengurus Negara, 3 Presiden Ini Bikin Negaranya Bangkrut

VIDEO: Serba-Serbi Parlemen
Calon Presiden Terkemuka Brazil Ditikam Hingga Kritis Saat Kampanye
The Early Day Motion, Gerakan Parlemen Inggris Tolak Penjualan Senjata ke Israel

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Sejarah mencatat, ada banyak pemimpin gagal dalam mengelola negara. Gagal membawa negaranya makmur. Yang ada negaranya menjadi miskin dan bangkrut karena banyak utang.

Kegagalan terjadi kerena pemimpin dalam sebuah negara itu salah mengurus negara. Karena salah urus, kondisi negara dampaknya.

Berikut catatan tentang beberapa pemimpin yang gagal mengurus negara:

1. Robert Mugabe (Mantan Presiden Zimbabwe)

Zimbabwe mengalami krisis ekonomi parah setelah Presiden Robert Mugabe mengeluarkan kebijakan radikal soal distribusi lahan pada akhir 1990-an dan awal 2000an. Negara ini akhirnya mengalami kekurangan bahan pokok kronis. Sementara itu, bank sentral Zimbabwe terus mencetak uang untuk membiayai defisit anggaran. Akhirnya terjadi kenaikan harga yang menggila di Zimbabwe. Puncaknya, harga bisa naik dua kali lipat setiap 24 jam.

Pada 2015, Zimbabwe mengalami krisis yang sangat parah. Nilai mata uang dolar Zimbabwe hancur berantakan setelah negara tersebut dilanda krisis ekonomi dan hiperinflasi pada 2008 dan 2009 silam. Mata uang Zimbabwe menjadi tidak bernilai karena bank sentral Zimbabwe terus mencetak uang untuk menutupi defisit anggaran yang mendalam. Akibatnya, USD 1 setara dengan 35.000 triliun dolar Zimbabwe.

Baca juga  Iran Dituduh Sebagai Dalang Serangan Siber di Parlemen Inggris

Bahkan 100 miliar Zimbabwe hanya cukup untuk membeli 3 butir telur. Untuk mengatasi ini, Zimbabwe akhirnya menghapus peredaran mata uang dolar Zimbabwe, dan menggantinya dengan dolar Amerika.

2. Nicolas Maduro (Mantan Presiden Venezuela)

Ada kesalahan Maduro saat memimpin Venezuela, sampai membuat negara itu mengalami inflasi yang parah. Seperti diketahui, kas Venezuela bersumber dari ekspor minyak. Jika harga minyak sedang naik, maka pemasukan negara banyak. Dahulu saat Hugo Chavez menjadi presiden Venezuela, kas negara itu diberikan pada rakyat miskin berupa rumah.

Namun pada 2013, Chavez meninggal dunia, dan digantikan oleh Maduro. Ia melanjutkan tradisi Chavez. Pada 2016, harga minyak anjlok. Kas Venezuela bahkan habis. Rakyat miskin tak bisa melakukan apapun.

Maduro salah ambil keputusan untuk selesaikan masalah ini. Bukannya menambah lini produk ekspor minyak, melainkan mencetak uang sebanyak mungkin. Nilai tukar bolivar melorot tajam. Inflasi tak terkendali dan tingkat harga barang naik hingga 1000 persen.

Baca juga  Tujuh Ribu Kandidat Berebut 329 Kursi Parlemen di Pemilu Irak Pertama Sejak Kekalahan ISIS

3. Yahya Jammeh (Mantan Presiden Gambia)

Kondisi Gambia sempat memanas pasca pemilu 1 Desember 2016. Saat itu, Jammeh bersaing dengan Adama Barrow memperebutkan kursi nomor satu di Gambia. Jammeh ternyata kalah. Ia sempat menerima hasil pemilu. Namun beberapa hari kemudian, ia menolak hasil pemilu dan meminta pemilu ulang.

Belum ada pemilu ulang, Jammeh malah kabur ke luar negeri dengan membawa kabur seluruh harta kekayaannya beserta seluruh harta negara senilai USD 11 juta atau Rp 147,1 miliar waktu itu. Alhasil kas negara kosong dan tak ada cadangan.

Menurut Fatty, otoritas bandara utama Gambia sebenarnya telah diberi tahu untuk tidak membiarkan barang-barang mewah Jammeh keluar dari Gambia. Jammeh kabur pada 21 Januari 2017 dan tak diketahui ke mana tujuannya.

COMMENTS