oleh

Freedom in the World 2020: Kebebasan di Negara-negara Demokrasi Cukup Suram

banner-300x250

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Dalam laporan Freedom in the World 2020, yang dikeluarkan oleh lembaga think tank Freedom House menyebutkan pada tahun 2020 kebebasan di negara-negara demokrasi cukup suram.

Lembaga tersebut menyoroti tanda bahaya atas memburuknya indeks kebebasan di negara-negara otoriter dan demokratis  dengan memberikan peringkat terhadap 195 negara, dan menyatakan bahwa 83 dari negara tersebut sebagai “bebas,” 63 negara sebagai “bebas sebagian,” dan 49 negara sebagai “tidak bebas.”

Jumlah keseluruhan negara dengan status sebagai negara bebas telah menurun sebesar 3 persen dalam dekade terakhir. Indeks ini memperhitungkan berbagai faktor seperti fungsi pemerintah, transparansi, supremasi hukum, pluralisme serta kebebasan berekspresi dan berkeyakinan.

Laporan tahun ini menunjukkan adanya penurunan yang tajam dalam skala global terkait komitmen pemerintah terhadap pluralisme. Kelompok etnis, agama, dan minoritas lainnya telah banyak mengalami persekusi di negara-negara demokrasi dan otoriter.

Dalam laporannya di halaman 10 Freedom House menyebutkan bahwa negara-negara demokratis yang mengalami penurunan indeks kebebasan antara lain yaitu Jerman, Prancis, Italia, Austria.

Sementara di banyak negara lainnya, orang-orang turun ke jalan dan mengekspresikan ketidakpuasan terhadap sistem politik yang ada. Mereka menuntut perubahan dan perbaikan agar negara menjadi lebih baik dan lebih demokratis.

Baca juga  Protes Kebijakan Israel atas Palestina, Anggota Parlemen Belanda Tolak Bersalaman PM Israel

Gerakan-gerakan demonstrasi antara lain terjadi di Hong Kong, Aljazair, Bolivia, Chili, Ethiopia, Indonesia, Irak, Iran, Lebanon, dan Sudan. Gerakan-gerakan ini sering kali bertentangan dengan kepentingan kekuasaan yang telah mengakar kuat, dan gagal menghasilkan perubahan yang signifikan, tulis laporan itu.

India dan Amerika Serikat Jadi Sorotan

“India dan Amerika Serikat adalah negara demokrasi terbesar dan mungkin yang paling berpengaruh di dunia, dan penyimpangan mereka dari cita-cita demokrasi liberal telah mengirimkan sinyal yang salah,” ujar Mike Abramowitz, Presiden Freedom House.

“Jika (negara dengan) kekuatan demokrasi utama gagal memberikan contoh kuat dan memberikan kepemimpinan yang konstruktif, akan sulit membalikkan tren global yang mengancam kebebasan bagi semua masyarakat.”

Dalam laporan tahun ini, di antara 25 negara demokrasi terpadat di dunia, skor demokrasi India turun paling drastis. Laporan tersebut memberikan titik berat pada status negara bagian Jammu dan Kashmir di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi yang berhaluan Hindu nasionalis.

India mengalami penurunan indeks kebebasan terbesar dalam sepuluh tahun terakhir. Sementara status di negara bagian Kashmir menurun dari “sebagian bebas” menjadi “tidak bebas” pada tahun ini.

Baca juga  Demokrasi Yang Berdebu

Laporan itu juga menyoroti undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial diadopsi di tingkat nasional, ditambah dengan tindakan agresif oleh negara guna menekan protes massa.

Sementara di AS, Freedom House mengkritik perubahan peraturan pada tahun 2019 yang melemahkan hak para pencari suaka, adanya bukti baru dalam intervensi pemilu, dan meningkatnya bentrokan antara eksekutif dan kongres.

Dari Cina, laporan itu menyebutkan penahanan pemerintah terhadap jutaan etnis Uighur dan kelompok-kelompok muslim lainnya di kamp-kamp internir.

Secara total, jumlah negara-negara yang menderita kemunduran kebebasan pada tahun 2019 lebih banyak daripada jumlah negara yang mengalami kemajuan. Dalam periode ini, 37 negara dilaporkan mengalami kemajuan dalam kebebasan, dan 64 negara mengalami kemunduran.

Sementara, Indonesia yang secara keseluruhan memperoleh 61 poin, dikategorikan sebagai negara yang “bebas sebagian”.

Freedom House menyusun indeks kebebasan di sejumlah negara setiap tahun sejak 1973. Ibu negara AS yaitu Eleanor Roosevelt merupakan salah satu pendiri organisasi tersebut. (freedomhouse.org)