oleh

FPI Mati, NU Pun Jadi “Gorengan”

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Pasca pertersangkaan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, muncul kesan bahwa FPI sebenarnya telah mati. Sebagaimana diakui oleh Ahmad Baso, salah satu intelektual organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU), kematian FPI menurutnya justru menjadi momentum baru bagi lahirnya praktik politik berkedok agama alias politisasi agama demi memenangkan pertarungan di Pilkada ke depan.

Hal ini dia nilai dari masih maraknya opini publik di mana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali diposisikan sebagai sosok yang antagonis, seorang Kristiani yang telah melecehkan ulama Islam. Opini tersebut menyeruak bahwa Ahok telah menuduh K.H. Ma’ruf Amin sebagai pembohong, memberi kesaksian palsu di persidangan, sehingga harus dilaporkan ke polisi.

banner 728x419

Dia pun menghimbau kepada semua untuk tetap mewaspadai upaya politisasi terhadap sosok Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini. Khususnya terkait masalah yang didorong sedemikian larut antara beliau dengan Ahok.

“Hati-hati sahabat,” himbaunya.

Bagi mantan Komisioner Komnas HAM (2007-2012) ini, isu perseteruan fiktif ini kian memanas karena ada sejumlah pihak yang berusaha memancing di air keruh. Dan tak segan-segan dia pun menunjuk bahwa pihak-pihak tersebut adalah orang-orang terdekat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Orang-orang terdekat SBY sudah matang dalam ‘politisasi agama’ sejak era Abdurrahman Wahid (Gus Dur),” terang Wakil Ketua Lakpesdam NU (2010-2015) ini.

Dia menganalisasi bahwa sosok K.H. Ma’ruf Amin berusaha dipolitisasi. Hal ini diduga kuat karena FPI telah menjadi “kartu mati” sehingga perlu adanya strategi yang lain sebagai cara satu-satunya melawan elektabilitas Ahok. Dan saat ini, sosok ulama itulah yang digunakan sebagai bahan yang Ahmad Baso sebut sebagai “gorengan” para politisi itu.

“Kartu FPI sudah mati sejak banyak kasus numpuk di Kepolisian. Tinggal mainkan kartu massa NU lewat settingan K.H. Ma’ruf Amin. Efeknya dahsyat kalau digoreng tiap hari,” pungkasnya.

Senada dengan Ahmad Baso, intelektual muda NU lainnya, yakni Zuhairi Misrawi, juga menuturkan bahwa ada pihak yang hendak mempolitisasi NU dalam Pilkada DKI Jakarta. Monuver politik inilah yang dipakai untuk mencitrakan Ahok sebagai Cagub yang tidak menghormati tokoh NU.

“Ahok secara terbuka sudah meminta maaf kepada K.H. Ma’ruf Amin, dan beliau sudah memaafkan. Mestinya masalah ini selesai dan isunya tidak lagi digoreng,” papar Zuhaini melalu keterangan tertulis, Jumat (3/2).

Meski demikian, pada faktanya, isu tersebut tetap menyeruak. Sebuah kondisi yang menurut Zuhairi sangat tidak baik dan tidak sehat. Dirinya pun menghimbau kepada seluruh kader NU untuk bersama-sama membendung politisasi dan bersikap dewasa dalam meresponnya.

“Ada kecenderungan menarik-narik NU ke ranah politik Pilkada DKI. Ini sangat tidak baik dan tidak sehat,” lanjut Zuhairi. (ms)

Komentar

Berita Lainnya