Forum Anak Daerah (FAD) Bali Tolak RUU Pertembakauan

Forum Anak Daerah (FAD) Bali Tolak RUU Pertembakauan

Menkopolhukam, Wiranto: Pemerintah Putuskan Sikap Terkait RUU Pertembakauan
Yakin Masih Mau Merokok Setelah Lihat Gambar Ini?
Masa Persidangan IV, DPR Sahkan 2 RUU dan Perpanjang Pembahasan 12 RUU

DENPASAR, SUARADEWAN.com — Forum Anak Daerah (FAD) Bali mendesak pemerintah untuk mengaksesi Frameworok Convention on Tobacco Control (FCTC) dan secara tegas menolak Rancang Undang-Undang (RUU) Pertembakauan. Anggota FAD Bali, Laras mengatakan banyak kelompok anak dan remaja saat ini menjadi target industri rokok.

“Pemerintah seharusnya tak perlu banyak pertimbangan untuk mengaksesi FCTC. Jika pertimbangannya adalah besaran cukai rokok yang masuk ke kas negara, ini tidak tepat. Jumlah cukai rokok yang masuk ke kas negara empat kali lebih kecil dibanding kerugian yang ditimbulkan rokok di Indonesia,” kata Laras dalam sebuah orasi baru-baru ini di Lapangan Puputan Renon, Denpasar.

Baca juga  Menkopolhukam, Wiranto: Pemerintah Putuskan Sikap Terkait RUU Pertembakauan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyepakati FCTC, sebuah perjanjian internasional tentang kesehatan masyarakat. Tujuan perjanjian ini adalah melindungi generasi masa kini dan mendatang dari tembakau.

“Sangat disayangkan pemerintah RI belum menerima perjanjian internasional tersebut,” katanya.

Anak muda Indonesia sekarang menjadi target industri rokok. Laras mencontohkan bagaimana masifnya penayangan iklan rokok di berbagai media. Para remaja hendaknya jangan sampai tergoda untuk mencoba dan menjadi perokok. Remaja, khususnya di Bali perlu bersinergi dan mengakhiri hegemoni industri rokok di Indonesia.

Baca juga  Masa Persidangan IV, DPR Sahkan 2 RUU dan Perpanjang Pembahasan 12 RUU

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika mengatakan mendukung aksi FAD Bali meski ini bukan satu hal mudah dan sederhana. Industri rokok diibaratkan raksasa pengisap darah.

“Meski tidak mudah, dengan gerakan masif, saya yakin konsumsi rokok bisa dikendalikan dan tak lagi menjadi ancaman bagi masa depan generasi muda,” ujarnya.

Alasan ekonomi, sebut Pastika tak bisa dijadikan pertimbangan untuk melegalkan hegemoni industri rokok. Rokok selain berdampak buruk pada kesehatan, juga kerap menjadi pintu gerbang pengguna narkoba. (rep)

COMMENTS