Erdogan: Sikap Trump Soal Nuklir Iran dan Yerusalem Bawa Dunia ke Masa Kelam

Erdogan: Sikap Trump Soal Nuklir Iran dan Yerusalem Bawa Dunia ke Masa Kelam

LONDON, SUARADEWAN.com -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dunia hidup di masa kelam yang mengingatkan pada tahun-tahun menjelang perang

Pengamat: Pertemuan Trump-Jong Un, Diharapkan Memiliki Sisi Positif Ekonomi-Politik Kawasan
Donald Trump Dijadikan Nama Bir Di Ukraina
Donald Trump Berencana Maju Pilpres 2020 dan Tunjuk Manajer Kampanye Pakar Media

LONDON, SUARADEWAN.com — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dunia hidup di masa kelam yang mengingatkan pada tahun-tahun menjelang perang dunia kedua. Pernyataan tersebut ia tujukan untuk mencerca sikap Donald Trump yang telah menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Erdogan berbicara di Chatham House di London pada hari kedua kunjungan kenegaraannya ke Inggris. Kunjungan tersebut telah berubah menjadi bagian dari kampanye pemilihannya sebagai hasil dari keputusannya untuk memajukan tanggal pemilihan parlemen dan presiden Turki selama satu tahun menjadi 24 Juni.

Ia mengatakan keputusan AS untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem tidak mematuhi hukum internasional atau keputusan PBB. “Amerika telah memilih untuk menjadi bagian dari mediatornya. Kita tidak bisa berhenti merasa seperti berada di masa-masa kelam dari pra-perang dunia kedua,” katanya, dikutip The Guardian, Senin (14/5).

Baca juga  Presiden Turki Pertanyakan Simbol Kebebasan di Eropa

Ia mengatakan Iran telah terikat pada kesepakatan yang dicapai tahun 2015 dengan Pemerintahan Barack Obama. Keputusan mengenai nuklir Iran, katanya, adalah bagian dari pola keputusan unilateral yang egois yang diambil oleh pemerintah AS.

Dalam kesempatan itu Erdogan menawarkan diri sebagai juru bicara Muslim Timur Tengah. Ia Juga mengkritik Eropa karena tidak melakukan sebanyak yang dilakukan Turki untuk membantu 3,5 juta pengungsi Suriah. Menurutnya Uni Eropa tidak pernah memenuhi bagiannya dari kesepakatan pengungsi dengan Turki dengan menyediakan uang tunai yang dijanjikan.

Erdogan berjanji akan terus membersihkan warga Kurdi Suriah dari perbatasannya setelah Turki merebut kota Afrin yang dikuasai Kurdi. Ia mengecam kerja sama AS dengan kelompok-kelompok Kurdi, dan mengatakan YPD Suriah Kurdi mencoba untuk mengkamuflase identitas Kurdi dengan bergabung dalam perang melawan ISIS.

Baca juga  Komisi VII DPR: Tersirat Pertarungan Jokowi vs Trump dalam Sengketa Freeport

Dia juga menyerukan anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk melepaskan peran mereka dan menyerahkan kursi mereka secara bergilir ke keanggotaan majelis umum yang lebih luas. Dia mengklaim bahwa Turki lebih demokratis daripada banyak negara Uni Eropa.

Dalam pembicaraan dengan May, Erdogan mengindikasikan kemungkinan untuk menekan Inggris agar menyerahkan setiap orang yang dia anggap terkait dengan kudeta yang hampir menggulingkan pemerintahnya pada tahun 2015.

Sementara itu,Theresa May mengincar kesepakatan perdagangan bebas pasca-Brexit dengan Turki, serta kerja sama keamanan atas para pejuang asing yang kembali. Ia telah mengambil taruhan strategis pada Turki yang telah menyebabkan kritik terhadap keinginan Konservatif untuk mengabaikan kekuasaan Erdogan yang semakin otoriter dalam mengejar perjanjian komersial.

COMMENTS

DISQUS: