oleh

Enam Fakta Menarik tentang Gorontalo, Negeri Serambi Madinah

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Gorontalo merupakan salah satu kota tertua di Pulau Sulawesi, selain Makassar, Parepare, dan Manado. Terletak di Semenanjung Gorontalo di Pulau Sulawesi, tepatnya di bagian barat Provinsi Sulawesi Utara. Luas wilayahnya mencapai 12.435,00 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 1.171.681 jiwa pada 2020 dan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,16 persen.

Nama Gorontalo berasal dari kata Hulontalo dari kata dasar Hulontalangi, yakni nama salah satu Kerajaan di Gorontalo. Hulontalangi sendiri bermakna lembah mulia. Selain itu juga dimaknai sebagai daratan yang tergenang.

banner 728x419

Gorontalo juga berasal dari kata Hulontalo. Namun, karena kesulitan dalam pengucapannya, Belanda yang sedang menduduki Nusantara kala itu menyebut Hulontalo menjadi Gorontalo.

Namun, hal-hal menarik tentang Gorontalo tak hanya itu. Kami merangkum enam fakta di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber.

1. Dijuluki Serambi Madinah

Kalau Banda Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, Gorontalo dikenal sebagai Negeri Serambi Madinah. Julukan sebagai Kota Serambi Madinah muncul sebagai manifestasi nilai adat, nilai kesopanan dan nilai norma agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Bahkan, Gorontalo memiliki semboyan yang berbunyi, “Aadati hula-hula to Sara’, Sara’ hula-hula to Kuru’ani (Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Al-Quran)”. Selain itu, pemerintah daerah setempat telah mencanangkan kota “Bumi Maleo” ini sebagai destinasi wisata halal (halal tourism) setelah Lombok, sehingga diharapkan mampu menarik wisatawan domestik dan internasional, khususnya Timur Tengah.

2. Masjid Hunto Sultan Amai Gorontalo

Gorontalomemiliki sebuah masjid bersejarah tertua yang bernama Masjid Hunto Sultan Amai. Selain dikenal sebagai jejak syiar Islam di Gorontalo, Masjid Hunto konon didirikan sebagai mahar sang raja saat meminang putri impiannya.

Masjid Hunto hingga kini masih berdiri kokoh di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Dibangun pada 1495 Masehi atau 899 Hijriah, Masjid Hunto memiliki luas 12×12 meter dan sudah beberapa kali direnovasi.

Meski sudah berusia ratusan tahun dan direnovasi, bentuk asli masjid yang dibangun oleh Sultan Amay atau Sultan Amai ini masih dipertahankan dan hingga kini masih bisa kita saksikan. Beberapa bagian tersebut, yakni empat tiang penyangga masjid yang diartikan sebagai empat sahabat nabi, enam pintu kayu, mimbar yang ornamennya berasal dari Gujarat, India, beduk, serta sumur tua tempat wudhu yang usianya setua Masjid Hunto.

Di balik kemegahannya Masjid Hunto menyimpan sejarah sangat menarik untuk diketahui. Selain sebagai simbol masuknya Islam ke Gorontalo, masjid ini juga menyimpan kisah romantis Raja Gorontalo pada waktu itu, yakni Sultan Amai. Konon, raja berjuluk Raja To Tilayo yang memerintah pada 1472 hingga 1550 ini mendirikan masjid ini sebagai mahar untuk meminang putri impiannya yang bernama Boki Autango dari Kerajaan Palasa di Sulawesi Tengah.

Baca Juga:  Dilarang Tarawih Berjamaah, Warga Gorontalo Blokir Jalan Trans Sulawesi

Sesuai permintaan Raja Palasa sebagai syarat untuk bisa menikahi putrinya, Raja Amai pun diharuskan memeluk agama Islam dan membangun sebuah masjid di Gorontalo sebagai mahar pernikahan. Setelah sang raja memeluk agama Islam dan diberi gelar Sultan Amai, sejak saat itu pula seluruh rakyat Gorontalo yang dipimpinnya turut memeluk agama Islam.

3. Benteng Otanaha Gorontalo

Pintu Benteng Otanaha yang masih kokoh berdiri di Kota Gorontalo, 5 Juli 2016. Bersebelahan langsung dengan Danau Limboto, benteng ini menawarkan ruang untuk mengenang sejarah sambil menikmati lanskap menawan alam Gorontalo. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Benteng Otanaha yang terletak di atas perbukitan Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo saat ini menjadi tempat favorit wisatawan lokal. Sebelum pandemi, tidak jarang wisatawan mancanegara terlihat di lokasi yang menjadi salah satu cagar budaya di Provinsi Gorontalo.

Benteng Otanaha terletak sekitar 9 km dari Kota Gorontalo. Untuk sampai ke lokasi, pengunjung dapat menyewa bentor (becak motor) atau naik kendaraan sendiri dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Benteng itu dibangun pada abad ke 15. Bangunan keseluruhannya terdiri dari tiga buah benteng, masing-masing bernama Benteng Otanaha, Benteng Otahiya, dan Benteng Ulupahu.

Benteng ini sebelumnya dibangun sebagai wujud kerjasama antara Portugis dengan Raja Gorontalo yang tengah berkuasa pada 1505 – 1585 untuk melawan musuh yang masuk wilayah Gorontalo. Tetapi, Portugis ternyata berkhianat. Ketika ada serangan dari musuh, mereka tidak membantu sama sekali. Akhirnya, Raja Gorontalo mengumpulkan rakyatnya pada waktu itu untuk mengusir Portugis dan berhasil menduduki benteng tersebut.

Hal unik lainnya yang terdapat di benteng ini adalah pada proses pembuatannya. Konon katanya batu-batu yang menjadi material utama untuk membangun benteng ini dibuat berbahankan putih telur burung Maleo yang merupakan burung endemik Sulawesi. Selain sebagai objek wisata sejarah, Benteng Otanaha juga menawarkan spot-spot bagus untuk para pengunjung. Biaya masuknya hanya Rp2 ribu saja.

4. Desa di Atas Laut Suku Bajo

Dukungan dari ribuan nelayan Suku Bajo di Sulut pada kebijakan Menteri Edhy Prabowo terkait budidaya lobster.

Provinsi Gorontalo memiliki objek wisata laut yang terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Jaraknya tujuh jam perjalanan ke arah barat dari Kota Gorontalo.

Objek wisata itu adalah kampung Suku Bajo yang dikenal sebagai pelaut ulung, di Desa Torosiaje. Desa Torosiaje atau juga dikenal sebagai Kampung Bajo berada di atas air laut Teluk Tomini dan berjarak sekitar 600 meter dari daratan.

Panjang koridor yang berbentuk huruf “U” itu sekitar 2,2 kilometer. Setiba di dermaga, setiap pengunjung yang hendak ke Kampung Bajo bisa naik ojek perahu yang dipungut ongkos Rp2.000 per orang.

Baca Juga:  PSBB Gorontalo Mulai Berlaku, Pasar Ditutup dan Diganti Pasar Online

Waktu tempuh dari dermaga ke Kampung Bajo sekitar 5-7 menit. Uniknya, begitu memasuki perkampungan Bajo, perahu akan melintas di bawah koridor kayu sekaligus sela-sela rumah warga.

Penamaan desa dengan sebutan Torosiaje, berasal dari kata “Tara,” kata dalam bahasa Suku Bajo tersebut berarti tanjung, dan “Si Aje” yang berarti panggilan untuk Si Haji, nama warga yang pertama kali mendiami daerah tersebut. Saat ini, Desa Torosiaje tidak hanya dihuni oleh Suku Bajo walaupun masih mendominasi.

5. Maladewa-nya Indonesia

Foto: Andi Jatmiko/ Liputan6.com.

Pulau Cinta atau Pulo Cinta berlokasi di Kabupaten Boalemo — sekitar 2 jam dari pusat Kota Gorontalo. Perjalanan dilanjutkan dengan perahu bermotor selama 25 menit.

Pulau memiliki legenda romantis yang mewarnai asal-usul pulau berbentuk hati di Sulawesi ini. Konon, Pulo Cinta adalah tempat persembunyian rahasia Pangeran Gorontalo dan putri cantik anak pedagang Belanda yang diam-diam memadu kasih.

Cinta mereka terlarang karena keduanya berasal dari pihak yang sedang berperang satu sama lain. Pulo Cinta menjadi saksi bisu di mana dua insan itu bisa melupakan konflik menyedihkan di bawah taburan bintang gemerlap.

Di pulau terpencil itu, Anda bisa menikmati pasir putih, keindahan bintang-bintang di langit yang terlihat jelas tanpa terhalang polusi, atau mengagumi terumbu karang Salvador Dali saat menyelam di laut jernih, bahkan menyusuri hutan di tepi pantai hingga bersantai dalam keheningan. Pulo Cinta juga disebut sebagai Maladewa-nya Indonesia.

6. Kue Cara Isi

Kue Cara Isi (Arfandi Ibrahim)

Cara Isi, begitulah warga Gorontalo menyebut kue ini. Kue yang cukup masyhur di Serambi Madinah ini menjadi camilan favorit saat berbuka puasa karena rasanya yang lembut dan manis.

Meski rasanya manis, kue Cara Isi ternyata berbahan dasar ikan tuna yang disuwir-suwir tipis. Ikan itu dimasukkan ke dalam adonan kue lalu dikukus hingga matang. Pada bagian akhirnya, kue Cara Isi diberi toping irisan cabe dan daun seledri.

Cara Isi merupakan kue tradisional yang resepnya diwariskan secara turun temurun. Seiring berjalannya waktu, pembuatan kue Cara Isi mendapat banyak perubahan dan modernisasi.

Rasanya yang enak membuat kue ini pun menjadi buruan para wisatawan yang datang ke Gorontalo. Mereka menjadikan camilan ini sebagai bekal saat mengunjungi objek wisata Gorontalo atau untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. (Melia Setiawati/ Liputan6.com)

Komentar

Berita Lainnya