oleh

Empat Lembaga Selenggarakan Women’s Business Forum 2017

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Kesetaraan Gender merupakan hal penting yang perlu dicapai demi kemajuan dan kelanggengan usaha yang dipimpin maupun dimiliki perempuan. Hal ini mengingat lebih dari setengah UMKM di Indonesia dimiliki atau dipimpin oleh perempuan. Oleh sebab itu perlu berbagai upaya bersama agar kebijakan pemerintah, ekonomi dan perniagaan untuk lebih berpihak pada perempuan dan mengedepankan aspek kesetaraan jender.

Di sela-sela acara Women’s Business Forum 2017, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Suryani S.F Motik mengatakan, meskipun perempuan mengendalikan lebih dari US$ 20 triliun dalam pembelanjaan konsumen setiap tahunnya, namun ironisnya hanya 1% dari usaha yang dimiliki atau dipimpin oleh perempuan yang bisa jadi pemasok dalam memenuhi kebutuhan barang atau jasa tersebut.

banner 728x419

Menurut Suryani, kecilnya jumlah pemasok dari perusahaan perempuan bukan karena jumlah pengusahanya yang sedikit, namun karena rendahnya akses perempuan untuk masuk ke pasar mata rantai pasok.

“Oleh sebab itu kami sangat berharap adanya kebijakan perusahaan maupun pemerintah yang peka terhadap aspek gender dalam pengadaan barang dan jasa, baik yang dilakukan oleh korporasi maupun oleh pemerintah,” katanya.

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, International Finance Corporation (IFC), anggota dari kelompok Bank Dunia, HIPPI, International Trade Centre (ITC) dan Indonesia Global Compact Network (ICGN) menyelenggarakan Women’s Business Forum 2017 di Graha CIMB Niaga Sudirman, Jakarta, pada Rabu (22/3).

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 UMKM dari berbagai daerah seperti Jabodetabek, Yogya, Bandung, dan Bali untuk meningkatkan wawasan, menjalin jejaring dan mencari peluang usaha dengan lebih dari selusin perusahaan besar di Indonesia, seperti Sarinah, Hypermart, Ranch Market, Unilever, Adaro Energy, Wardah, dan Martina Berto.

Peserta WBF 2017 di Graha Cimb Niaga, Rabu (22/3).

Dalam pidato pembukaannya, IFC Asia Advisory Manager for Financial Institution Group, Rachel Freeman mengungkapkan, berdasarkan hasil studi IFC, perempuan menjalankan lebih dari setengah perusahaan kecil dan sepertiga dari perusahaan menengah di Indonesia.

“Oleh sebab itu kami percaya bahwa kebijakan pemasok yang inklusif dan mengedepankan keberagaman, seperti sistem pembelian yang peka terhadap gender, akan meningkatkan peluang bagi perusahaan yang dimiliki perempuan untuk dapat berperan aktif dalam perekonomian bangsa dan menjaga kelanggengan usahanya,” kata Rachel.

Pentingnya kesetaraan gender dalam dunia usaha juga diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Global Compact Network (ICGN), Josephine Satyono. Menurutnya secara umum sektor usaha sudah menyadari pentingnya meningkatkan kesadaran akan peran sektor swasta dalam memajukan kesetaraan jender untuk mencapai SDG 5. Hal ini tertuang dalam Women Empowerment Principle http://www.weprincimple.org/ yang merupakan kolaborasi antara UN Global Compact dan UN Global Women.

Prinsip-prinsip tersebut mendorong untuk pemberdayan perempuan dalam lingkungan kerja, pasar serta komunitas. Di tingkat nasional, ICGN turut meneruskan komitmen untuk pemberdayaan perempuan dan mengajak pelaku bisnis di Indonesia untuk mempromosikan kesetaraan jender dan menggunakan prinsip prinsip WEP.

“Bagi kami, equality means business,” kata Josephine.

Sementara itu, Project Manager SheTrade untuk Negara-Negara Asosiasi Lingkar Samudera Hindia (IORA) dari International Trade Centre (ITC), Michelle Kristy menyatakan, penting bagi perusahaan-perusahaan besar untuk mendiversifikasi penyedia barang dan jasa serta memperhitungkan pengusaha perempuan, untuk meningkatkan keunggulan kompetitif di era Sustainable Development Goals (SDGs). Apalagi pengusaha perempuan banyak terdapat pada sektor-sektor yang kurang produktif, dikarenakan adanya hambatan kesetaraan Gender.

Saat peserta WBF 2017 Speed Dating dan Network.

ITC melalui inisiatif unggulannya, SheTrades, memiliki misi untuk membantu usaha-usaha kecil dan menengah (UKM) di negara berkembang dan negara tertinggal, agar dapat bersaing di dunia internasional. Insiatif SheTrades memiliki visi menghubungkan satu juta pengusaha perempuan ke pasar internasional pada tahun 2020 dan akan resmi diluncurkan pada Agustus 2017.

Acara Women’s Business Forum (WBF) diselenggarakan atas dasar kepedulian bersama antara institusi terkait untuk meningkatkan aspek kesetaraan jender dalam mata rantai pasok di sektor swasta maupun pemerintah. Diharapkan melalui acara ini para pengusaha milik dan pimpinan perempuan dapat meningkatkan wawasannya dan menjadi pemasok barang atau jasa di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Pada gilirannya meningkatakn perusahaan ini untuk dapat menjadi pemasok, akan dapat meningkatkan pendapatan, menyerap tenaga kerja, menumbuhkan kreativitas dan mempercepat pertumbuhan pembangunan. (ZA/PR)

Komentar

Berita Lainnya