oleh

Eks Ketua HMI: Generasi Milenial Penentu Kualitas Demokrasi di Indonesia

GORONTALO, SUARADEWAN.com — Generasi milenial sangat diperhitungkan pada tahun politik sekarang ini. Mereka adalah bagian dari penentu kemajuan dan keberhasilan demokrasi, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Riyanto Ismail yang merupakan mantan Ketua PB HMI melalui rilis tertulisnya yang pada awal September lalu telah mendeklarasikan Gerakan Pemilih Milenial di Provinsi Gorontalo.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih milenial mencapai 70 juta hingga 80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Dengan demikian, sekitar 35–40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin pada masa mendatang.

Menurut Riyan yang juga Ketua PB HPMIG ini, partisipasi politik generasi milenial tentu sangat substansial karena dari persentase jumlah pemilih, generasi milenial menyumbang suara cukup banyak dalam keberlangsungan Pemilu 2019 mendatang.

Baca juga  Jokowi Ketemu Konglomerat Milenial, PD: Bagus, Asal Tidak Ada Bau Politik

“Generasi milenial menjadi sasaran empuk bagi politisi-politisi yang ingin mengajukan diri sebagai anggota Legislatif maupun Presiden dan Wakil Presiden di Pemilu 2019 mendatang,  karena kondisi idealis pemuda yang mudah sekali dipengaruhi tentang keberpihakan,” kata dia (28/11).

Dengan mendeklarasikan Gerakan Pemilih Milenial di Provinsi Gorontalo, Riyan berharap Generasi Milenial khususnya di Gorontalo dapat mengambil peranan dan lebih pro aktif menentukan kualitas demokrasi di Indonesia, sesuai dengan karakter milenial yang aktif di dunia maya, tersedia informasi yang melimpah dan bisa diperoleh secara cuma-cuma.

“Saya mengingatkan kepada semua kontestan pemilu 2019 untuk jangan sekali-kali memainkan isu identitas sebagai strategi kampanye khususnya di Gorontalo untuk mendapatkan dukungan milenial, karena kalangan milenial tidak interest dengan hal demikian,” tambahnya.

Baca juga  Kece Abis, Penampilan Menawan Anne Marie Serba Pink

Hal tersebut mengacu pada Hasil survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga di jejaring sosial, milenial lebih aktif membincangkan persoalan terbatasnya lapangan pekerjaan (25,5%), tingginya harga sembako (21,5%), tingginya angka kemiskinan (14,3%), dan beberapa persoalan lain di bawah 10%.

“Tahun 2019 merupakan momentum politik yang membutuhkan peran generasi milenial yang cakap media, tanggap, kreatif, dan advokatif. Langkah-langkah strategis generasi milenial dalam mengisi pesta demokrasi tersebut dapat dilakukan dengan beragam cara, misalnya mendorong gerakan antigolput atau kampanye yang positif demi pemilu berkualitas, milenial harus mampu membuat dinamika politik menjadi sehat dan dinamis” tutup Riyan. (sd)