oleh

Dukung NKRI Berasas Pancasila, KH Maimoen Zubair: Khilafah Sudah Mati

JATIM, SUARADEWAN.com – Mustasyar Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berasaskan Pancasila merupakan konsep negara yang sudah paling cocok sekarang ini.

Jelas, hal ini ditegaskan mengingat maraknya ormas-ormas radikal anti Pancasila yang cenderung merusak tatanan/konsep kebangsaan yang sebelumnya diperjuangkan mati-matian oleh para founding fathers negeri.

banner 728x419

“Kemerdekaan Indonesia diraih tidak mudah. Harus melalui perjuangan yang panjang,” kenangnya dalam taushiyah Safari Ramadhan Kapolri Jenderal Tito Karnavian di rumah KH Mustofa Bisri, Rembang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Berkaca pada perjuangan para founding fathers, seperti di masa Kebangkitan Nasional (1908), momen Sumpah Pemuda (1928), dan Proklamasi Kemerdekaan (1945), maka mempertahankan konsep negara model ini lebih merupakan sebagai kewajiban. Bahwa siapapun yang berusaha menolak konsep dan asas negara Indonesia, berarti ia telah mengkhianti cita-cita para pejuang bangsa.

Baca Juga:  Aliansi Bela Garuda Tanggapi Pernyataan Sikap YLBHI terkait Perppu Ormas

Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang ini juga tak habis pikir mengapa ada orang atau kelompok yang masih ingin melanjutkan cita-cita perjuangan kekhilafaan di Indonesia. Padahal, menurutnya, konsep itu telah lama mati.

“Masa kekhilafaan sudah habis. Untuk Indonesia, konsep kenegaraan yang cocok adalah seperti sekarang ini. Kemerdekaan Indonesia menjadi inspirasi bagi negara-negara di belahan dunia lain. Terbukti dengan digelarnya Konferensi Asia-Afrika I di Bandung,” beber Mbah Moen, sapaan akrabnya.

Berkisah soal perjuangan panjang kemerdekaan Indonesia, Mbah Moen menilai bahwa apa yang telah diperjuangkan oleh Ir. Soekarno di masanya tak ubahnya dengan perjuangan Nabi Muhammad.

Baca Juga:  Di Gresik, Anggota HTI Merebak di Lembaga Pendidikan

“Saya masih ingat, beliau meyakini proses kemerdekaan Indonesia layaknya perjuangan Nabi Muhammad yang tengah berada di tengah peperangan besar,” lanjutnya.

Karenanya, bagi Mbah Moen, Islam di Indonesia tak boleh dimonopoli oleh kelompok tertentu, terlebih oleh ormas-ormas radikal seperti HTI.

“Pada zaman Nabi, yang membesarkan Islam bukan hanya bangsa Arab. Panglima perang yang tangguh kala itu, Salman Alfarisi, berasal dari bangsa Persia,” tuturnya kembali.

Untuk itulah perjuangan cita-cita Islam harus diperjuangkan secara bersama. Mbah Moen berpesan agar para elit nasional mampu bersatu terlebih dahulu.

“Jika yang berada di level atas sudah bersatu, yang ada di tataran bawah atau akar rumput juga mudah disatukan,” harapnya. (ms)

Komentar

Berita Lainnya