oleh

DPRD Kota Balikpapan Desak Penyelesaian Relokasi dan Perluasan RSKB Sayang Ibu

BALIKPAPAN, SUARADEWAN.com — Dewan Perwakilan rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan kembali mempertanyakan kelanjutan relokasi Rumah Sakit Khusus Bersalin Sayang Ibu.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan Budiono mengatakan relokasi sekaligus perluasan Rumah Sakit Sayang Ibu cukup mendesak, karena bangunan yang ada saat ini sudah tidak mencukupi sehingga tidak memadai untuk mendukung operasional rumah sakit.

banner 1280x904

Sebelumnya, rencana pemindahan rumah sakit tersebut batal terlaksana di tahun 2019 karena pihak pemilik lahan mematok harga di atas anggaran pembebasan lahan yang disiapkan pemerintah.

“Kami berharap bisa terealisasi tahun ini, karena kondisi bangunan sudah tidak mencukupi, padahal jumlah pasien yang menggunakan rumah sakit ini cukup tinggi,” kata Budiono ketika diwawancarai di DPRD Kota Balikpapan, Senin (20/1).

Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan Budiono

Pihak DPRD menginginkan relokasi rumah sakit yang saat ini terletak di Kebun Sayur, Balikpapan Barat bisa segera terwujud. Mengingat rumah sakit khusus bersalin berlantai dua yang berdiri di atas tanah seluas 1.235 meter persegi ini dinilai sudah tidak memadai untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Apalagi menurut Budiono, rumah sakit yang berada di kawasan Balikpapan Barat ini telah memenuhi standar pelayanan rumah sakit, serta meraih penghargaan sebagai Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) terbaik pertama tingkat provinsi Kaltim dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI serta Menteri Kesehatan RI saat itu. Bahkan Ombudsman RI juga memberikan penghargaan predikat kepatuhan standar pelayanan.

Baca juga  Kaji Banding Penerapan Tarif Retribusi, DPRD Kota Palangkaraya Kunker ke DPRD Kota Balikpapan

“Yang saya ingat, dulu sempat dilakukan kajian dalam upaya pembebasan lahan. Hanya saja pemindahan bangunan ke lapangan bola di wilayah Jumpi, Baru Ulu. kini tinggal wacana. Padahal pemindahan itu tergolong mendesak karena setiap bulan tercatat lebih dari 100 angka kelahiran di rumah sakit ini,” tutur legislator dari daerah pemilihan Balikpapan Barat ini.

Sejak tahun 2019 lalu, Pemerintah Kota Balikpapan telah mengkaji rencana untuk memindahkan Rumah Sakit Khusus Bersalin (RSKB) Sayang Ibu yang terletak di Kecamatan Balikpapan Barat ke lokasi lebih luas sehingga dapat menunjang perkembangan rumah sakit.

Ada tiga alternatif yang sudah disediakan untuk pemindahan RS Sayang Ibu yakni di lokasi lapangan sepak bola Jumpi di Kecamatan Baru Ulu, atau di lokasi eks Bioskop Jaya di Kecamatan Baru Tengah, serta di Margomulyo berdekatan dengan kawasan hutan mangrove.Namun dari ketiga lokasi yang ditawarkan tidak ada yang berhasil karena harga yang ditawarkan pemilik lahan terlalu tinggi.

“Info yang saya terima, yang punya lahan minta lahannya dihargai Rp1,8 juta per meter. Sementara kajian appraisal oleh pemkot untuk lahan itu berkisar Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Otomatis rencana pembebasan lahan batal dilakukan karena kesepakatan harga tidak tercapai,” ujar Budiono.

Padahal, dengan relokasi bangunan ke Jumpi diharapkan mutu pelayanan rumah sakit dapat meningkat, sekaligus meningkatkan citra positif di mata masyarakat yang sudah menggunakan layanan rumah sakit ini.

Baca juga  Sependapat Dengan Pemkot, DPRD Kota Balikpapan: Kesehatan dan Keselamatan Yang Utama

Disamping itu lokasi RSKB Sayang Ibu yang berada dekat Lapangan Sepak Bola Foni dinilai tidak layak untuk mendukung operasional rumah sakit. Selain lahan yang terlalu sempit, posisi rumah sakit yang terlalu dekat badan jalan menjadi rumah sakit ini minim lahan parkir.

Kondisi diperparah dengan maraknya PKL yang berjualan di depan rumah sakit, sehingga menyulitkan masyarakat yang hendak menggunakan fasilitas rumah sakit.

“Sebenarnya tidak harus di barat. Utara yang ke arah barat juga memungkinkan untuk relokasi. Asal ada akses transportasi. Intinya pemkot harus mengupayakan relokasi rumah sakit bisa terwujud secepatnya,” ucapnya.

Budiono menuturkan, pihak DPRD siap mengikuti keputusan pemerintah untuk kelanjutan relokasi RSKB Sayang Ibu. Sebab pemindahan itu juga cukup mendesak dilakukan terkait kurangnya lahan parkir dan banyaknya pedagang yang menjajakan makanan di depan rumah sakit cukup mengganggu ketika kendaraan akan keluar-masuk.

“Gagalnya pembebasan lahan sudah sering terjadi. Padahal ini untuk kepentingan umum mengingat RS Sayang Ibu itu favorit masyarakat. Pelayanan bagus, hanya saja sarananya yang kurang memadai. Kami siap dukung lewat pembahasan di APBD kota. Kalau perlu juga kita ajukan ke provinsi atau APBN. Semoga saja bisa cepat terwujud,” tutupnya. (irf)

Komentar