DPR Soroti Efek Negatif Gawai Bagi Anak dan Angka Putus SekolahIlustrasi Gawai Anak

DPR Soroti Efek Negatif Gawai Bagi Anak dan Angka Putus Sekolah

Pembahasan RUU Larangan Minuman Beralkohol Berjalan Alot
Mr. Mohamad Roem: Sekarang Saya tidak Lagi Toleran
PPP Ungkap Alasan Belum Rampungnya Pembahasan RUU Minol

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Menyambut peringatan Hari Anak Nasional, Politisi di DPR menyoroti persoalan gawai yang lekat dengan kehidupan anak-anak. Dimana jika penggunaan gawai tidak mendapat kontrol yang ketat, dampak negatif gawai bakal mengancam masa depan anak-anak Indonesia.

Wakil Ketua Komisi IX Reni Marlinawati (Fraksi PPP) menilai harus ada upaya sistemik untuk meminimalisir efek negatif gawai bagi anak serta menurunkan angka anak putus sekolah di kalangan anak.

“Ada dampak negatif yang ditimbulkan dari keberadaan gawai. Mulai akan menjadikan anak asosial, kurang bergerak hingga menimbulkan efek negatif bagi kesehatan anak,” kata Reni dalam rilis yang diterima pada Selasa (23/7/2019).

Menurutnya lebih banyak dampak negatif yang dimunculkan dari penggunaan gawai yang tidak terkontrol seperti aksi kekerasan karena terinspirasi dari konten yang tersedia di gawai baik melalui game maupun video. Ia juga mencatat konten porno juga memungkinkan muncul dari gawai yang dipakai oleh anak-anak. Disamping juga gawai menurunkan daya hafal anak-anak.

Wakil Ketua Komisi IX Reni Marlinawati (Fraksi PPP)

“Dalam jangka waktu pendek bisa saja tidak akan dirasakan dampak negatifnya, tetapi dalam jangka waktu menengah dan panjang, gawai bakal merusak lahir dan batin bagi anak-anak,” ingat Reni.

Baca juga  Cegah Kampanye Hitam, RUU Pemilu akan Mengatur Regulasi Kampanye di Media Sosial

Politisi PPP itu menyebutkan harus ada upaya sistemik agar tumbuh kembang anak tidak terganggu atas dampak negatif gawai bagi anak-anak. Menurutnya, hal tersebut membutuhkan kerja sama semua pihak agar anak-anak terhindari dari dampak negatif gawai.

“Langkah sistemik ini membutuhkan peran banyak pihak mulai dari orang tua, sekolah hingga lingkungan tempat tinggal,” tegas Reni.

Kendati demikian Reni tidak menampik sisi positif gawai bagi anak. Menurutnya, tidak sedikit konten yang terdapat di gawai juga positif bagi tumbuh kembang anak seperti soal pembelajaran dan hiburan yang edukatif bagi anak.

“Meski harus kita akui, ada juga sisi positif gawai. Namun, penggunaan gawai harus dikelola oleh orang tua serta konten apa saja yang layak dilihat oleh anak-anak,” tambah Reni.

Baca juga  Mr. Mohamad Roem: Sekarang Saya tidak Lagi Toleran

Di bagian lain, Reni juga menyoroti angka putus sekolah yang masih saja terjadi di Indonesia. Ia merujuk data Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2017 yang mengungkapkan anak putus sekolah di pedesaan masih dominan sebesar 1,43 persen dibanding di perkotaan sebesar 0,92 persen.

Angka putus sekolah tersebut didominasi di sekolah tingkat menengah atas sebesar 4,74 persen SD dan sederajat sebesar 0,32 persen serta SMP sebesar 1,54 persen.

“Saya kira Pemerintah Daerah harus memberi perhatian khusus atas angka putus sekolah ini dengan berkoordinasi dengan pemerintah desa di masing-masing daerahnya,” kata Reni.

Legislator dapil Jawa Barat itu menyebut dari data BPS, sumbangan angka anak putus sekolah didominasi oleh Provinsi Papua sebesar 4,74 persen. Ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian khusus untuk daerah-daerah yang banyak menyumbang putus sekolah.

“Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus memberi perhatian terhadap daerah-daerah yang paling banyak menyumbang angka putus sekolah,” pungkas Reni. (ip)