oleh

Di TPS Ini Hanya 20 Orang Yang Gunakan Hak Pilih di Pilgub Jateng

DEMAK, SUARADEWAN.com — Sebagai bentuk protes atas rusaknya jalan di kampung mereka, mayoritas pemilih di TPS 12, Kelurahan Mangunjiwan, Demak, Jawa Tengah, memilih tidak menggunakan hak pilih mereka alias golput.

Dari total pemilih sebanyak 373 orang, hanya 20 orang yang datang ke TPS untuk menggunakan hak pilih mereka. Sebanyak 20 orang itu termasuk anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS), pengawas TPS, dan anggota Linmas.

banner 1280x904

“Hasil akhir penghitungan suara yang masuk di TPS 12 Mangunjiwan, Pasangan calon nomor 1 Ganjar- Yasin mendapat 13 suara, sedangkan nomor 2, Sudirman- Ida memperoleh 1 suara. Sementara 6 surat suara lainnya rusak sehingga dinyatakan tidak sah,” kata Ketua KPPS Abdus Syukur di lokasi TPS 12, Rabu (27/6/2018).

Baca juga  Golkar: Jokowi Harus Menggandeng Kekuatan Berbasis Islam Jika Ingin Menang Pilpres 2019

Menurut Syukur, masyarakat enggan menggunakan hak pilih mereka karena kecewa. Jalan penghubung di Dukuh Karangasem dan Kebongunung, Kelurahan Mangunjiwaan rusak parah.

Sudah lebih dari 16 tahun jalan sepanjang dua kilometer itu rusak parah. Warga hanya diberi janji-janji perbaikan jalan oleh pemerintah. Selain tak mau nyoblos, mereka juga menanam pohon di jalan.

“Kami sudah maksimal dalam melakukan sosialisasi pilkada ini,” ujar Abdus Syukur.

Ketua Panwas Kabupaten Demak, Khoirul Saleh, yang melakukan monitoring pengawasan ke TPS 12 pada siang hari hanya mendapati 9 orang di TPS.

Baca juga  DPR dan Pemerintah Sepakat Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020

Khoirul menyarankan agar para petugas KPPS menyerukan imbauan melalui pengeras suara yang tersedia di mushola. Namun, usaha itu sia-sia. Imbauan melalui pengeras suara tak digrubris warga. TPS tetap sepi.

Menanggapi hal ini, Komisioner KPU Demak Bambang Setiabudi menyatakan menghargai sikap masyarakat TPS 12.

“Pilkada kan sebagai bentuk pengejawantahan kedaulatan rakyat dengan memberikan hak suara di TPS. Pilkada juga sebagai sarana atau media evaluasi terhadap kinerja pemimpin, sehingga pilihan kritis masyarakat tetap kita hargai,” ungkap Bambang. (KOMPAS)

Komentar