oleh

Deputi Kemenpora Nilai Anak Muda Papua Sudah go Internasional

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Kepala Humas Deputi Pengembangan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Mustadin Taggala menjelaskan bahwa secara langsung hari ini pemuda dapat berkembang dirinya baik secara personal maupun dalam kelompok.

Bahwa pemuda berkembang tidak lagi dipandang dari mana dia tinggal, apakah di Papua atau di daerah lain. tetapi dilihat dari kemampuan yang dimilikinya, potensi personal yang harus dimiliki untuk berkembang.

banner 1280x904

“Identitas tetap dibutuhkan. Rekan-rekan di Papua yang dilihat apakah mampu atau tidak, bukan lagi dilihat asal-usulnya. Banyak sekali Putra-Putri Papua saat ini bisa berkompetensi tidak hanya di kancah nasional tetapi merambah ke mancanegara,” ucap Mustadin dalam webinar yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pemerhati Indonesia Timur (P3IT), Senin (16/11).

Menurut Dosen Pascasarjana Psikologi UIN Jakarta ini, di Kemempora RI konsep pemuda yang kita miliki, diberi pelayanan itu umur 16 tahun keatas. Tetapi bukan berarti 30 tahun keatas kita sepelehkan. Masa pertumbuhan, perkembangan pemuda yaitu bukan usia tetapi apakah usia dan tindakan itu sesuai.

Lebih lanjut, penulis buku Interaksi Nilai Budaya dalam Organisasi itu menjelaskan bahwa kita dikatakan berkembang yaitu usia dan tindakan sesuai. Misalnya usianya 16 tahun sampai 30 tahun, karena diusia ini masuk dalam usia perkembangan.

Jadi, lanjut pria kelahiran Bone ini kepemimpinan rekan-rekan di papua sudah tidak lagi waktunya mengatakan kami tidak layak bersaing karena kami tinggal di Papua. Sekarang hampir semua orang bisa belajar dari berbagai macam tempat belajar.

“Bisa mengakses informasi dimanapun berada, bisa kursus dibelahan manapun berada, dengan informasi teknologi seperti yang ada seperti sekarang ini. Kita tau sekarang banyak anak muda kita yang tinggal di pedesaan tapi bisa menghasilkan trobosan,” ucap Mustadin.

Baca juga  Billy: Investasi Manusia di Papua adalah Pendidikan

“Sekarang ini bukan lagi dilihat asal usulnya, tetapi kemampuan yang dimilikinya. Identitas tidak bisa dilepaskan tetapi yg dipakai berkompetensi adalah kemampuan kita,” tegas alumni UGM ini.

Mustadin juga berharap bahwa anak muda di Papua tidak lagi dilihat asal usulnya, dari santani, atau entah dari Papua Barat, Sorong, tidak lagi dilihat disana. Tetapi yang dilihat apakah dia mampu atau tidak.

“Nah mampu atau tidak ini bahwa ekosistem lingkungan eskternal menjadi penentu, atau lingkungan disekitar kita menjadi pendorong, tetapi jauh lebih mendukung arah perkembangan kita adalah diri kita sendiri,” paparnya lagi.

Senada dengan diatas, Ketua PW GP Ansor Maluku, Papua Barat dan Papua, Halik Rumkel juga berupaya menjelaskan peran pemuda Papua hari ini apakah masih pada relnya atau apakah peran pemuda papua masih pada bingkai Kesatuan Republik Indonesia.

“Saya kira hari ini peran pemuda Papua masih mengisi kemerdekaan NKRI. Organisasi-organisasi kepemudaan di Papua melakukan kaderisasi, dengan materi-materi masih dalam wacana kemerdekaan RI,” ucap Halik Rumkel.

Ia berharap, semua komponen bangsa harus melihat Papua dari kacamata nasional. Papua tidak lagi dipertanyakan apakah masih berada dalam lingkup NKRI, narasi seperti ini sudah saatnya dihilangkan.

“Jadi, Papua adalah bagian dari NKRI,” tegas Halik.

Lebih lanjut, dalam rangka mengisi kemerdekaan dan Sumpah Pemuda di Papua, Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Hardi Arifianto melakukan bedah buku yang ditulis sendiri oleh pemuda-pemuda Papua, ia mengatakan pemuda saat ini harus mampu berkolaborasi.

“Pemuda Papua dan Papua Barat sudah banyak mengisi kemerdekaan di tingkat nasional, ikut mengabdi. Kedepan hal ini perlu dipertahankan,” ucap Hardi dalam webinar bertajuk Peran Pemuda Papua dalam Menjaga dan Merawat NKRI”.

Baca juga  OTSUS dan Masa Depan Papua; FJR Sambut Baik OTSUS II dengan Sejumlah Catatan Evaluasi

Dia juga mengungkapkan bagaimana mantan Presiden Jusuf Kalla memberikan pengharapan terhadap anak Muda Papua untuk bias melanjutkan kepemimpinan di tingkat nasional.

“Kemarin Jusuf Kalla mampir di sekretariat kami. ia mengatakan sumber daya alam Papua sangat besar, sehingga kemampuan pemuda sangat diharapkan untuk bisa bersaing dan mengganti estafet kepemimpinan di masa akan datang,” pungkas Hardi.

Selain itu, apresiasi yang besar juga disampaikan oleh Pengurus Besar PMII, Kaharuddin. Pemuda asal Jambi ini mengungkapkan bahwa anak muda Papua juga telah banyak meretas kepemimpinan nasional. Misalnya, kata Kahar, posisi-posisi strategis di era presiden Jokowi juga banyak dari Papua.

“Hari ini kita tidak bisa lagi memandang remeh atau memarjinalkan bahwa setiap daerah yg tertinggal, sedikit akses, tdk bisa meretas kepemimpinan nasional. Terbukti bahwa dari Papua sudah banyak menempati posisi nasional, seperti Bahlil mantan ketua DPD HIPMI Papua, terus ada juga ada mantan ketua KNPI, Rifai Darus, ada juga Stafsus, Billy asli org Papua,” kata Ketua Bidang Ekonomi PB PMII ini.

“Indonesia adalah Negara yang unik, terdapat banyak pemuda-pemuda cerdas yang berkontribusi untuk kemerdekaan Indonesia,” terangnya.

Terakhir, pemuda yang juga mencoba bertarung di kepemimpinan PB PMII mengatakan negara ini semua orang punya Hak, semua wilayah punya hak yg sama. Komposisi kabinet hari ini juga diisi oleh orang – orang yang mewakili dari daerah.

“Yang penting hari ini pemuda berkontrubusi, baik itu ide, gagasan, pemikiran utk kemajuan Indonesia,” tutupnya. (aw)

Komentar