oleh

Catatan Putu Wijaya soal Sakit

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Lagi macet dalam perjalanan pulang ke rumah, barusan nonton trailer Film The Farewell (Produksi 2019) di youtube. Dikisahkan sang Nenek/Ibu mereka yang terkena kanker paru-paru.

Di Timur khususnya di China kalau orang yang kita cintai divonis mati oleh dokter, maka hal harus dirahasiakan, agar tetap bahagia, tidak bertambah stres.

banner 1280x904

Tapi kalau di Barat hal tersebut harus diberitahukan kepada yang bersangkutan karena itu adalah hak dirinya untuk tahu.

Billi, sebagai cucu semata wayang dalam film, awalnya berontak. Menurutnya, sang Nenek/Ibu berhak tahu kondisi yang sebenarnya. Namun, belakangan ia terpaksa mengubah pendiriannya setelah mengetahui bahwa kebohongan yang ada adalah bagian dari kebiasaan, bukan kemauan.

Di China (Timur), membohongi orang tua soal kondisi kesehatan mereka adalah hal lumrah.

Baca juga  Lima Produk Indonesia Ikut Festival Belanja Online Terbesar China

“Ada pepatah di China, ketika seseorang menderita kanker, bukan kanker itulah yang membunuhnya. Hal yang membunuhnya adalah rasa takut,” ujar ibu Billi, Lu Jian (diperankan Diana Lin).

Lalu saya teringat catatan sastrawan Putu Wijaya, setidaknya ruhnya senada. Bunyinya begini:

Waktu SMA, saya dirawat di RSU Singaraja. Ortu saya di Tabanan (80 KM) datang untuk menunggu. Sesudah sembuh saya buru-buru ingin pulang. Tapi ibu saya melarang. Dia minta saya sakit satu hari lagi.

Saya menolak, tapi Ibu memaksa, karena keluarga akan datang dari Tabanan untuk bezuk. Kalau saya sudah keluar RSU kasihan mereka sudah datang dari jauh.

Saya terpaksa menyerah, sakit sehari lagi. Setelah “upacara” bezuk rampung, kami pulang sama-sama. Bertahun-tahun saya anggap itu basa-basi kuno yang harus dibersihkan.

Tapi 30 tahun kemudian, ketika ibu saya meninggal, saya temukan dia dibaringkan di kamar hanya ditunggui kedua kakak saya. Tak ada keluarga. Saya berontak di hati, apa salah kami diperlakukan begitu?

Tapi subuh, satu per satu seluruh keluarga datang lengkap. Lalu saya tahu, kemaren ada upacara yang nilainya ratusan juta yang secara adat batal, kalau ada keluarga yang meninggal. Maka diandaikanlah ibu belum meninggal, agar upacara tidak mubazir.

Saya tertegun dalam. Baru termaknakan kenapa dulu, ibu memaksa saya sakit sehari lagi. Rupanya dia mengajari anaknya: kita wajib menjaga hak orang lain.

Selamat malam. Salam.
Egy Massadiah

Komentar