oleh

BUMN Transportasi Paling Berdarah-darah Lawan Corona

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Indonesia masih berjuang melawan penyebaran virus Corona yang dampaknya memukul keras hampir seluruh lini bisnis di Indonesia hingga BUMN sekalipun.

Tercatat, beberapa BUMN sektor transportasi mengalami penurunan penumpang dan pendapatan sejak Corona mewabah di Indonesia. Sebut saja Garuda Indonesia, PT KAI dan ASDP Indonesia Ferry.

banner 1280x904

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI, pimpinan BUMN sektor transportasi melaporkan kondisi bisnis mereka serta antisipasi yang tengah dan akan dilakukan untuk meredam dampak negatif Corona. Apa saja strategi tersebut?

Berikut rangkuman informasinya untuk Anda:

1. Garuda Indonesia

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra sempat melaporkan kondisi perusahaan di tengah pandemi Corona. Sebanyak 13 penerbangan ditutup hingga jumlah penumpang anjlok drastis menyebabkan maskapai menunda pembayaran 25.000 karyawan akibat minimnya pemasukan.

“Garuda mempunyai kewajiban yang cukup besar. Ada masalah di Garuda sebagai induk perusahaan, pasti ada masalah di GMF AeroAsia perusahaan perawatan pesawat, ACS katering, dan Aerotrans. Ini magniture sampai 25.000 karyawan untuk penundaan payment,” kata Irfan.

Untuk bertahan hidup, maskapai BUMN ini menerapkan beberapa strategi, mulai dari mengembalikan pesawat hingga memangkas rute. Garuda berhasil merenegosiasi pembayaran yang semula terlalu tinggi menjadi lebih rendah karena kondisi pandemi ini.

Sebagai contoh, pembayaran sewa untuk pesawat berbadan lebar Boeing-777 dalam sebulan Garuda wajib membayar USD 1,6 juta dan akhirnya bisa dinegosiasi menjadi USD 800.000. “Kita punya 10 unit Boeing 777, basically kita bayarnya dua kali lipat,” katanya.

Baca juga  Menkeu: Indonesia Ingin Menjadi Anggota FATF

Irfan bilang, pihaknya juga memutuskan untuk mengembalikan seluruh unit pesawat Bombardier CRJ -1000 karena seluruhnya tidak diterbangkan (grounded). Lalu, Irfan menambahkan, pihaknya juga akan memangkas rute-rute yang dinilai merugikan.

“Kita akan lakukan restructuring mencari jadwal yang lebih bagus dan menghentikan rute-rute merugikan,” ujarnya.

2. PT KAI

Kereta api sebagai moda transportasi jarak jauh juga mengalami penurunan signifikan karena Corona, apalagi sejak larangan mudik diberlakukan.

Direktur Utama KAI Edi Sukmoro menyebutkan, pada 2 Februari 2020 secara menyeluruh KAI mengantongi pendapatan per hari Rp 39 miliar. Namun pendapatan itu anjlok menjadi hanya Rp 4 miliar pada 31 Maret 2020.

Jumlah penumpang KAI harian rata-rata kuartal I 2020 sebanyak 1,2 juta penumpang, yang terdiri dari 775.501 penumpang KRL, 208.210 penumpang kereta api jarak jauh, dan 5.891 penumpang bandara. Sementara itu, pada 31 Maret 2020 jumlah penumpang harian hanya menyisakan 275.827 penumpang. Bahkan, lanjut Edi, di KA jarak jauh okupansi hanya 15-20 orang dalam satu rangkaian.

Untuk menyiasati turunnya kinerja keuangan, KAI berupaya menegosiasi relaksasi pinjaman yang jatuh tempo.

Baca juga  Direkturnya Disebut Terkena OTT KPK, Begini Klarifikasi PT PAL Indonesia

“Kami berupaya mendekati pinjaman jatuh tempo, supaya dilakukan relaksasi kepada KAI. Kami juga meminta penurunan bunga atas investasi demi menjaga KAI bisa berjalan dengan baik,” katanya.

3. ASDP Indonesia Ferry

Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi mengatakan sudah puluhan tahun perusahaan pimpinannya belum pernah mengalami kerugian. Namun di tengah pandemi Covid-19, perusahaan jasa penyeberangan ini harus merugi hingga Rp 68 miliar pada bulan Maret 2020. Jumlah penumpang juga turun 30 persen.

“ASDP tidak pernah rugi setelah sekian puluh tahun,” kata Ira.

Ira menyebut sejak munculnya virus corona di Indonesia, pihaknya langsung melakukan sejumlah antisipasi. Salah satunya dengan melakukan stress test terhadap sistem produksi perjalanan.

Pada skenario pertama, pihaknya melakukan simulasi jika periode dampak pandemi ini berlangsung selama 3 bulan, yaitu sejak Maret-Mei 2020. Dalam kondisi ini diperkirakan ASDP akan mengalami kerugian hingga Rp 68 miliar.

Pada skenario kedua dengan periode dampak Maret-Agustus 2020 ASDP memperkirakan akan mengalami kerugian hingga Rp 291 miliar.

Sementara pada skenario ketiga, jika periode dampak mencapai 10 bulan yakni Maret-Desember 2020, maka jumlah kerugian yang dialami sebesar Rp 478 miliar. (lip)

Komentar