oleh

Billy: Investasi Manusia di Papua adalah Pendidikan

JAKARTA, SUARADEWAN.com –  Stafsus Presiden, Billy Mambrasar menjelaskan bahwa Investasi manusia adalah langkah yang tepat, karena merekalah yang akan membangun peradaban mereka sendiri. Adanya inpres no.9 tahun 2020 ini menunjukan komitmen pemerintah untuk membangun Papua, dengan pelibatan semua komponen rakyat.

“Alokasi Otsus itu paling tinggi untuk pendidikan. Saya berasal dari keluarga tidak mampu tapi bisa menempuh pendidikan tinggi menggunakan dana Otsus,” ungkapnya di acara webinar yang diselengarakan suaradewan.com bertajuk “Otsus & Masa Depan Papua,” Minggu (29/11/20).

banner 728x419

Sebagai Stafsus Presiden, ia menilai bahwa Otsus harus tetap dilanjutkan meskipun ada perbaikan dalam penerapannya. Hal ini juga merupakan keinginan kebanyakan masyarakat papua, khususnya anak milineal Papua.

“Saya mengadakan survei kepada anak milenial Papua sebanyak 550 orang, 67% mengatakan Otsus bukan gagal tapi butuh perbaikan dan 20% mengatakan belum berhasil selebihnya mengatakan harus ada perbaikan,” ucapnya.

Ia menambahkan, bahwa memang di perlukan monitoring dan secara berkelanjutan, agar pemerintah daerah bisa bekerja sesuai dengan pakemnnya dan dengan langkah yang tepat.

Ia pun menilai Otsus merupakan sebuah proses yang akan terus berjalan, dan untuk memastikan sampai dapat mensejahterakan masayarakat Papua, maka perlu ada perbaikan perbaikan Otsus.

Baca Juga:  Papua dan Papua Barat Bakal Dapat Perpanjangan Dana Otsus Rp234,6 T

“Butuh proses komunikasi yang baik antara pemda dan pemerintah pusat, perlu ada peningkatan kapasistas pelaku pembangunan, bagi yang sudah sekolah tinggi itu adalah hutang kepada masyarakat papua sehingga kita bisa membantu untuk membangun papua ke arah sejahtera” tegasnya.

Senada dengan Billy, Anggota DPD RI M. Sanusi Rahaningmas mengatakan bahwa banyak anak Papua sekolah dengan biaya sendiri apalagi yang orang tuanya tidak mampu. Sehingga menurutnya target 20% dana Otsus untuk pendidikan masih belum tercapai.

“Sekarang ini pemberian dana beasiswa itu tidak sama, ada yg dapatnya sedikit ada yang dapatnya banyak. Semua anak Papua punya hak yang sama, jangan hanya karena dia anak pejabat diprioritaskan,” kata Sanusi.

Lalu menurutnya, Otsus harus ada evaluasi agar kedepan tidak ada lagi prokontra otsus kedepannya. Tanpa Otsus Papua juga sebenarnya bisa berjalan, karena potensi kekayaan alam yg besar dan sumber daya yg besar.

“Ketika Otsus berlanjut, harus ada perubahan,” pungkasnya.

Dana Otsus yang pengalokasiannya ke sektor pendidikan juga mendapat sorotan dari Akademisi IAIN Sorong, Ismail Suardi Wekke. Menurutnya, akses dan pemerataan, apa yg dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan Pusat sudah memberikan perhatian yg serius dalam pendidikan di Papua.

Baca Juga:  Prananda Surya Paloh Yakini Papua Jadi Lumbung Suara Jokowi

“Salah satu lulusan terbaik di Amerika, adalah anak asli Papua,” kata profesor bidang sastra Arab ini.

Menurutnya, saat ini perguruan tinggi dibangun satu persatu di Papua, dan Studi Kedokteran merupakan alokasi dari Dana Otsus. Sementara akan dibangun juga Politeknik Pariwisata oleh Kementerian Pariwisata. Lalu ada sekolah berasrama akan memberikan anak Papua yg ada di pesisir atau tempat lainnya.

Selain itu, tokoh muda Papua yang sudah meretas kepemimpinan nasional, Rifai Darus, menjelaskan bahwa bicara tentang masa depan, adalah pemberian kesempatan yg sama. Masa depan ini lahir karena sebuah kejutan dan lahir karena ciptaan.

“Bagaimana dengan masa depan Papua, bagi saya sangat lucu kalau masih terdengar bunyi senapan untuk membunuh masyarakat Papua. Pendekatan militer dan juga diskriminasi, masih ada dan bagaimana masa depan Papua bisa berjalan mulus,” ketus Rifai. (aw)

Komentar

Berita Lainnya