oleh

Berpuasa Ala “The Lord of Broken Heart” Didi Kempot

Oleh: Muhtar Sadili

Boleh jadi banyak orang yang belum menerima kepergian “The Lord of Broken Heart” Didi Kempot Selasa (6/5/2020). Seniman berjuta sahabat Ambyar ini meninggalkan dunia penuh kenangan; menembus batas sosial, usia dan ekonomi.

banner 1280x904

Kenangan indah itu adalah ketika sang maestro menggalang dana untuk kepedulian pada pandemik covid-19. Dengan menggelar konser mengumpulkan donasi sekira 7,6 Milyar, Didi Kempot menunjukkan kelasnya dalam kepedulian pada sesama.

Nampak terasa spirit berbagi di bulan suci telah mengiringi kepergian Didi. Menghembuskan nafas terakhir ketika menjalani ibadah puasa yang telah menjadi idaman jutaan umat muslim di dunia. Pasalnya bulan ramadan penuh ujian dan keberkahan.

Meminjam judul buku M. Qurasih Shihab “Menjemput Maut”, penggalangan donasi untuk pandemik covid-19 adalah cara Didi menjemput maut. Dia tidak berdiam diri dengan kelebihan dirinya, tapi berani menjadi lokomotif kepedulian pada sesama.

M. Qurasih Shihab memaknakan perjuangan ibadah itu bagian dari usaha menjemput maut, yang dalam bukunya dipadatkan dengan melakukan tahlil, tahmid dan perbuatan terpuji lainnya. Menurutnya, kita harus menyediakan banyak persiapan amal seolah kita yang menjemput, bukan maut yang menjemput kita.

Baca juga  Orang-Orang Kaya Yang Mengaku Hidupnya Makin Sulit

Semangat berbagi yang ada dalam berpuasa, telah berhasil diterjemahkan oleh Didi. Dalam episode kedermawanan sahabat Ambyar, kita diberikan pelajaran bahwa maut itu bukan memaksa kita untuk sibuk diri karena berlumuran perbuatan tidak bermakna.

Ratusan kata yang disebarkan oleh syair lagu ciptaan Didi terpusat pada satu titik kepedulian pada sesama. Bukan untuk menjadi bintang dipanggung penuh puja puji yang membosankan, tapi untuk bekal layak menjemput maut.

Dalam pandangan kaum sufi, “menyatukan diri dengan Tuhan” memang butuh perjuangan. Bukan berpangku tapi harus menyibukkan diri dengan amal nyata dan terasa di mata manusia. Jejak ketakwaan harus diperbanyak di mana pun kita berada.

Berpuasa ala Didi Kempot bisa menjadi contoh puncak kesadaran bertaqwa. Kesalehan sosial yang dia perlihatkan pada kita di ujung drama kemanusiaan dirinya di muka bumi, harus membuat kita iri. Bukan karena Didi begitu gagah ketika di panggung, tapi menjalani usaha keras untuk terus berbagi pada sesama.

Baca juga  Mau Cepat Turunkan Berat Badan, Simak Tips Dari Presenter Cantik Maria Vania

Semangat berbagi dalam lautan pujian di panggung bukan barang murah, terutama sering dituding sebagai cara untuk bisa lebih terkenal dan jarang dibaca sebagai ketulusan.Tapi Didi berani menembus tembok ketakutan dipandang aji mumpung, di tengah kepedulian pada pandemik covid-19 masih jauh dari harapan.

Harapan kita memang hampir putus, ketika ratusan nyawa melayang. Makna berpuasa ala Didi telah menjadi penawar hingga menyadarkan kita bahwa konsistensi dan motivasi berbagi harus terus diperjuangkan. Bisa jadi kita merasa belum bisa melakukannya, tapi bukan berarti patah arang untuk mencoba dalam bentuk lain peduli pada sesama.

Didi membuat banyak orang iri karena berujung manis. Seorang pengamen jalanan yang mencoba peruntungan di Ibu Kota hingga terkenal pada dua tahun terakhir, tapi menutup usia dalam bulan yang penuh berkah.

Alfatihah ! (sumber: Facebook)

Komentar