oleh

Berlibur Ke Bangkok Lebih Murah Ketimbang Ke Labuan Bajo

banner-300x250

ATAMBUA, SUARADEWAN.com – Tak terjangkaunya harga tiket pesawat ke Labuan Bajo, disadari oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu penyebab warga Indonesia lebih memilih berlibur ke luar negeri ketimbang di negeri sendiri, seperti Labuan Bajo yang merupakan salah satu destinasi prioritas di NTT.

“Saya ajak orang Jakarta ke Labuan Bajo. Mereka bilang ke saya, ‘Kalau kami ke Bangkok, Rp 8 juta sudah cukup satu minggu. Itu sudah biaya transportasi, makan, hotel. Kalau kami ke Labuan Bajo, untuk transportasi saja tidak cukup,’” kata Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, di Kota Atambua, Selasa 18 Juli 2017.

Frans tak memungkiri bahwa tarif angkutan udara di NTT memberikan kontribusi terbesar terhadap perkembangan Indeks Harga Konsumen atau inflasi secara nasional. Ia pun tak mengetahui pasti, apa yang menjadi penyebab melonjaknya harga tiket pesawat ke NTT.

Padahal, ia mengaku telah berkali-kali meminta kepada beberapa maskapai untuk menekan harga tiket agar lebih terjangkau. Namun, sejauh ini, mantan Wakil Gubernur NTT itu mengaku belum ada tanda-tanda pasti bahwa harga tiket pesawat ke NTT akan turun secara signifikan.

Baca juga  Tour de Singkarak 2017 Siap Digelar 18-26 November Mendatang

“Saya juga tidak tahu ini kenapa. Apakah karena dumping, jadi tiket pesawat ke luar negeri jauh lebih murah dibandingkan ke NTT. Daerah ini masih tertinggal,” katanya.

Pemerintah Provinsi memang sedang bekerja keras untuk memajukan pariwisata di NTT, berbagai upaya dilakukan untuk menambah jumlah wisatawan untuk berkunjung agar mampu menggerakan ekonomi daerah.

“Pariwisata masih ada potensi yang luar biasa. Saya menganggap pariwisata itu sebagai kesatuan di negeri ini,” ujarnya.

Turis santai menikmati keindahan Labuan Bajo

Nusa Tenggara Timur (NTT) memang memiliki banyak destinasi wisata selain Labuan Bajo, dan Pulau Komodo yang sudah mendunia. Seperti Flores, Sumba dan Timor mempunyai ratusan wisata budaya.

Bagi wisatawan yang menyukai jenis wisata yang berbau pantai bisa mengunjungi Pulau Rote Ndao. Pantai ini memiliki tujuh gulungan ombak yang cocok untuk selancar. Pantai ini pun setiap hari dimasuki oleh turis-turis internasional yang hobi berselancar.

Baca juga  Bahana Dukung KEMENPAR Garap Potensi Industri Halal Tourism & Lifestyle

Bagi pencinta wisata bahari selain Pulau Rote Ndao, wisatawan juga bisa berkunjung ke Alor yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya yang terletak di teluk Maumere dan Alor.

Di daerah Ende ada Danau Kelimutu yang selalu berubah-ubah warnanya. Ada tiga warna, yakni merah putih biru, namun sekarang warnanya berubah-berubah sejalan perubahan vulkanologi.

Di Ende terdapat situs sejarah terpopuler, yang berkaitan dengan mantan presiden pertama Indonesia, Soekarno. Bung Karno ketika zaman penjajahan pernah dibuang ke Ende tepatnya di Bogondiko pada tahun 1934-1938, sebelum kemudian diasingkan ke Bengkulu pada 1938-1942.

Kemudian di Sumba juga ada situs megalitikum, kuburan megalitikum dan rumah-rumah khas Sumba yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing dan nusantara. Di sisi lain, Flores ada kampung tradisional yang dikenal dengan nama Wae Rebo. Di sini ada tujuh bangunan kuno berusia ratusan tahun yang sangat unik. (EB)