oleh

Berbahayanya Politik ala Modi; Nasionalis Hindu “India Baru”

banner-300x250

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Perdana Menteri India Narendra Modi adalah seorang nasionalis Hindu. Ia tak pernah menutup-nutupi fakta itu. Dan hal ini semakin diperjelas dengan sejumlah kebijakannya pada tahun lalu demi memuluskan agenda politiknya, demikian seperti dilansir CNN.

Sejak terpilih sebagai perdana menteri pada 2014, ia menyusun ulang wajah India, dari demokrasi sekuler yang mengakomodasi keberagaman menjadi bangsa Hindu yang mendominasi minoritas, terutama 200 juta Muslim di negara itu. Modi dan keroconya melakukan perundungan dan menekan pers untuk mendukung apa yang mereka sebut sebagai “India Baru”, demikian ditulis The New Yorker.

Beberapa bulan setelah terpilih, ia membagi wilayah bekas negara bagian Jammu dan Kashmir, yang merupakan daerah otonom, menjadi dua wilayah persatuan. Hal ini memungkinkan Pemerintah India pada akhirnya memiliki otoritas penuh terhadap wilayah dengan mayoritas Muslim itu.

Baca juga  Taliban Tembakkan Roket ke Gedung Parlemen Afghanistan

Puncaknya, ketika ia meloloskan UU CAB pada Desember 2019 dan membuat warga turun ke jalan.

PM India, Narendra Modi

Betapapun UU ini tak populis terlebih sudah banyak penolakan dari banyak kelompok masyarakat, namun India tak mengenal pemungutan suara di mana hampir 80 persen populasinya adalah Hindu.

Kebijakan-kebijakan kontroversial Modi ini seharusnya menjadi sinyal buruk bagi pemerintahannya. Selain menghasilkan UU diskriminatif, Modi yang sejak terpilih kembali pada 2014 terus-terusan berfokus pada agenda politiknya, tak berhasil membawa perekonomian India ke arah lebih baik.

Pertumbuhan ekonomi di bawah kepemimpinannya bahkan yang terlambat dalam enam tahun terakhir. Ia juga menaikkan persentase pengangguran dari 6,9 persen menjadi 7,6 persen pada Januari tahun lalu.

Baca juga  Parlemen setujui peran mirip Perdana Menteri bagi Aung San Suu Kyi

Pamor BJP juga menurun. Partai pengusung Modi itu tadinya berhasil menggenggam 21 dari 29 negara bagian pada 2018. Namun saat ini, hanya tersisa 15 negara bagian.

Belum lagi, ini bukan kerusuhan pertama dalam era kepemimpinan Modi. Pada 2002 saat ia menjadi Menteri Utama negara bagian Gujarat, sekitar 2500 orang tewas, mayoritas di antaranya adalah Muslim. Pemicunya adalah pembakaran 59 umat Hindu hingga tewas di kereta yang diduga dilakukan kelompok muslim. Dan Modi tak pernah dihukum atas itu kendati puluhan orang dari kedua pihak dinyatakan bersalah.

Sejak saat itu, kelompok sayap kanan Hindu mulai bangkit seiring hilangnya kepercayaan umat muslim India pada Modi. (ti)