oleh

Benarkah Inisiatif Jalur Sutra Baru Cina Akan Ancam Ketahanan Indonesia?

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Indonesia bersama 29 negara lain bergabung dengan prakarsa cina dalam kerjasama ekonomi atau inisiatif sabuk dan jalan one belt one road atau jalur sutera baru.

Pada Minggu (14/05) China menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pertama bertajuk Belt and Road Forum (BRF) di Beijing. Konferensi tersebut dihadiri oleh Presiden Jokowi bersama 29 Kepala Negara dan Pemerintahan. Namun pengamat menilai keinginan Inonesia di Forum itu belum terlalu jelas.

banner 1280x904

Belt and Road Initiative secara harfiah berarti ‘Inisiatif Sabuk dan Jalan’. Namun, yang dimaksud pemerintah Cina adalah sebuah koridor ekonomi yang menghubungkan Cina dengan berbagai kawasan di dunia.

Seperti jalur sutera, ‘sabuk’ adalah serangkaian jalur darat dari Cina ke Eropa melalui Asia Tengah dan Timur Tengah. Adapun ‘jalan’ adalah rute laut yang menghubungkan laut bagian selatan Cina ke perairan di sebelah timur Afrika dan Mediterania.

“Perebutan pengaruh sedang terjadi, tapi tidak dalam arti frontal. Kekuatan Cina meningkat luar biasa. Cina menawarkan alternatif untuk menghubungkan negara dengan dalih itu adalah kerja sama yang menguntungkan semua pihak, walau keuntungan lebih besar ada pada Cina,” kata Tirta Mursitama, ketua departemen hubungan internasional Universitas Bina Nusantara, Jakarta

Sejak mengumumkan inisiatif OBOR, China selalu berusaha menjamin keberhasilan proyek ini dengan membentuk skema pendanaan melalui Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), New Silk Road Fund, kerangka Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), serta bantuan bilateral langsung. Tak heran banyak pengamat internasional menjuluki inisiatif OBOR ini sebagai Rencana Marshall versi China.

Tetapi petinggi China menampik tudingan itu. Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan, OBOR adalah produk kerja sama inklusif, bukan alat geopolitik, dan tidak seharusnya dipandang dengan menggunakan mentalitas Perang Dingin yang sudah usang.

Profil Indonesia dengan luas wilayah perairan sekira 3.257.483 kilometer persegi, dan berada di posisi silang antara dua samudra dan dua benua, menjadikan Indonesia sangat strategis secara geopolitik dan geostrategic, termasuk bagi inisiatif OBOR.

Namun, meski memiliki potensi sangat besar, Indonesia tidak memiliki infrastruktur maritim yang memadai untuk mendukung pertumbuhan ekonominya serta mengukuhkan identitasnya sebagai negara bahari.

Dari sinilah beberapa kalangan menilai inisiatif jalur sutera baru cina akan membuat negara seperti Indonesia semakin mendekat ke arah cina, namun pada saat bersamaan akan mengundang kekhawatiran kekuatan besar lain yang menganggap kehadiran China mengancam pengaruh mereka di kawasan.

Lemhanas sendiri membantah Inisiatif Jalur sutra baru Cina ancam Ketahanan RI. Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Agus Widjojo membatah terkait kabar Lemhanas yang menduga kerja sama internasional tersebut dapat mengancam ketahanan nasional.

Nggak ada kritikan dari kami, tidak benar,” ujar Agus saat dihubungi, Selasa (16/5).

Menurut Agus, memang diperlukan pertimbangan secara komprehensif dari pemerintah dalam menjalin kerja sama. Akan tetapi, ia yakin pemerintah telah mengambil keputusan dengan matang untuk kepentingan negara.

“Begini lho, petemuan internasional merupakan kepentingan Indonesia, mana mungkin sih pemerintah berlawanan dengan kepentingan negara Indonesia,” kata Agus.

Agus menegaskan Lemhanas tidak bertentangan dengan pemerintah. Terkait ketahanan nasional yang dikhawatirkan pun, kata dia, sudah dipertimbangkan secara matang.

Inisiatif OBOR, menurut dia, merupakan kerja sama internasional yang dapat menguntungkan negara. Ia menegaskan tidak bertentangan dengan pemerintah.

“Sesama pemerintah  terus berlawanan nggak mungkin, pemerintah pasti sudah mempertimbangkan dalam rangka kepentingan negara, nggak bisa sesama lembaga bertentangan dalam berpendapat. Itu kan orang mau ngadu domba saja,” katanya

Komentar