Bahlil Lahadalia, Mantan Kuli Panggul yang Kini Jadi Pengusaha Sukses

Bahlil Lahadalia, Mantan Kuli Panggul yang Kini Jadi Pengusaha Sukses

Direktur Hubungan Lembaga LEPPAMI Angkat Bicara Soal Ketum PB HMI
Empat Tokoh Mendapat Gelar Pahlawan Nasional, Salah Satunya Adalah Pendiri HMI
KAHMI Papua Pertegas Komitmen Kesatuan Kebangsaan Indonesia

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Bahlil Lahadalia, mengawali sebagai pengusaha dari titik nol. Bahlil yang terlahir dari keluarga miskin, kini bisa menjadi pengusaha sukses dan mengendalikan banyak perusahaan.

Pahit getir kehidupan pernah dirasakan Putra asal Fak-fak Papua ini. Mulai dari penjual kue saat masih di sekolah dasar, sopir angkot, hingga kuli panggul pasar saat kuliah. Semua itu dia kerjakan untuk bisa terus hidup.

Dengan kerja keras yang dijalani semasa hidupnya, pria kelahiran 1976 ini kemudian bisa sukses hingga menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), yang selama ini dianggap jadi ‘perkumpulan’ anak-anak pengusaha dan pejabat.

Bahlil yang lahir dari keluarga serba keterbatasan itu tak membuatnya pantang menyerah. Bahkan keinginannya untuk mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah pun dia lakukan seorang diri.

Dari Fakfak, dirinya pergi ke Jayapura menggunakan Kapal Perintis, hanya untuk bisa berkuliah. Dengan bermodal ijazah, SIM, serta pakaian seadanya, Bahlil mengadu nasib untuk bisa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay di Jayapura.

Baca juga  Direktur Hubungan Lembaga LEPPAMI Angkat Bicara Soal Ketum PB HMI

“Jadi saya waktu berangkat kuliah itu orang tua nggak pernah tahu, bahwa saya itu kuliah. Karena saya itu hanya berangkat dan bawa ijazah, baju saya cuma tiga, kemudian modal saya cuma SIM, dan kantong kresek, saya naik Perintis, dari Fakfak ke Jayapura,” cerita Bahlil di Jakarta, Kamis (19/4/2018)

Di bangku kuliah itu pria kelahiran 7 Agustus 1976 ini banyak belajar, termasuk soal organisasi. Semasa di bangku kuliah Bahlil termasuk sangat aktif, dan menjadi pengurus senat mahasiswa.

Dia mengaku pernah mengalami busung lapar karena kekurangan gizi makanan saat duduk di bangku kuliah.

“Saya pernah busung lapar, semester 6 saya busung lapar. Asli busung lapar. Jadi penderitaan yang benar-benar paling menderita itu saya rasain,” cerita bahlil.

Saat itu, Bahlil mengatakan dirinya harus bersusah payah untuk bisa membiayai kuliahnya sendiri serta untuk mencari makan. Untuk itu, dia pun mengerjakan berbagai pekerjaan yang bisa dijalani, seperti kuli angkut di pasar. Sebab, Bahlil tak pernah mendapatkan kiriman baik uang ataupun makanan selama kuliah dan berada di asrama dia tinggal. Untuk itu, dia terus mengakali hidupnya agar bisa bertahan hidup.

Baca juga  Kader Menyoal Politisasi HMI, Ketum PB: Pahami Tafsir Independensi

“Jadi belanjanya itu kalau dapat duit beli beras, kita makannya itu setengah nasi, setengah bubur. Kenapa? supaya dapat banyak. Kalau beras sudah habis, itu kami sarapan pagi pakai mangga, mangga buah, mangga muda yang jatuh di samping asrama, itu yang saya makan. Makanya saya pernah sakit busung lapar,” cerita dia.

Berawal dari penyakit busung lapar yang dideritanya itulah, Bahlil kemudian bertekad untuk memutus urat miskinnya dengan menjadi pengusaha.

“Nah, pada saat itu ketika saya sakit, saya mengatakan begini, saya harus berhenti dengan kemiskinan, dan caranya satu-satunya adalah dengan jadi pengusaha,” tuturnya.

COMMENTS