Bagaimana Kekhalifahan Usmani Yang Berusia Enam Abad Lebih dan Menguasai Tiga Benua Berakhir

Bagaimana Kekhalifahan Usmani Yang Berusia Enam Abad Lebih dan Menguasai Tiga Benua Berakhir

PASUKAN Usmani tengah bersiap bergerak ke tepi barat Terusan Suez ketika badai pasir membutakan pandangan pada malam 1 Februari 1915. Sementara pasuka

Ukraina Kecewa Banyak Negara Muslim Kurang Perhatikan Nasib Muslim Tatar di Krimea
Habib Jamal Baagil: Islam Agama Damai, Bukan Agama Balas Dendam
Antara Kebangkitan PKI, Masa Depan Umat Islam & Kedaulatan Bangsa Indonesia

PASUKAN Usmani tengah bersiap bergerak ke tepi barat Terusan Suez ketika badai pasir membutakan pandangan pada malam 1 Februari 1915. Sementara pasukan Sekutu yang menguasai Kanal Suez tak bisa membuka mata, komandan Jerman dan Usmani justru memanfaatkan badai itu. Bergerak dengan senyap, mereka mendekati Ismailia.

Itu adalah malam yang sempurna untuk melancarkan penyerangan. Terusan Suez seperti tak bertuan, hening. Tak tampak penjagaan. Merasa situasi aman, sekelompok relawan jihad dari Libya memekikkan kata-kata untuk menyemangati teman-temannya sesama pasukan Usmani. Tanpa mereka nyana, pekikan itu disahuti gonggongan anjing-anjing milik tentara Sekutu. Senjata mesin Sekutu pun menyalak. Peluru dan mesiu bertaburan. Fajar sudah merekah saat tepi barat Terusan Suez menjadi medan pertempuran.

Pasukan Usmani yang semula hanya ingin mengalihkan perhatian Sekutu malah menjadi bulan-bulanan. Usmani, dengan penyerangan itu, ingin Sekutu menarik kembali tentara mereka di Front Barat ke Mesir dan tak sempat memusatkan kekuatan di Dardanelles. Namun, upaya yang dikomandani Menteri Kelautan Usmani Ahmed Cemal Pasha ini malah mengikis jumlah tentara Usmani. Kalah akibat dibombardir lewat darat, laut, dan udara, dalam pertempuran itu Cemal mencatat 192 orang gugur, 361 terluka, dan 727 hilang.

Kekalahan di Terusan Suez ini memperburuk kondisi Usmani. Jauh sebelum terseret dalam Perang Besar, Usmani sebenarnya sedang sakit. Antara 1908-1913 Usmani mendapatkan ancaman dari dalam dan luar, yaitu Revolusi Turki Muda dan tuntutan merdeka daerah-daerah di semenanjung Balkan. Ketika akhirnya bergabung dengan Jerman dalam Perang Besar melawan Entente, kekhalifahan berusia enam abad lebih yang menguasai tiga benua ini perlahan-lahan roboh.

Baca juga  Mahkamah Turki Tegaskan Larangan Jilbab Inkonstitusional

Pukulan Pertama

Dalam The Fall of The Ottomans; The Great War in the Middle East ini Eugene Rogan menelaah lebih dalam kaitan antara Perang Besar dan kebangkrutan kekhalifahan ini. Dengan penguasaan bahan tertulis yang kaya dari Arab, Turki, dan Barat pengajar kajian Timur Tengah Universitas Oxford ini menyajikan epos terpenting abad dua puluh ini dari perspektif Usmani. Dan, itulah sumbangan terbesar buku ini.

Kehadiran buku ini akan memperkaya percakapan sejarah ihwal Perang Besar dan keruntuhan Usmani. Menurutnya, selama ini narasi tentang Perang Besar selalu dari sudut pandang Barat dan mengabaikan peran Usmani. Padahal, kata Rogan, masuknya Usmani dalam peperangan itulah yang mengubah Perang Eropa menjadi Perang Besar.

Meski lahir dari seorang akademisi tulen, buku ini jauh dari kesan berat. Alih-alih dihiasi istilah rumit, dalam sekujur buku ini kita justru akan mendapatkan cerita peperangan yang dibumbui kisah sedih, lucu, datar, dan tak jarang tragis. Dalam kaitannya dengan kejatuhan kekhalifahan ini, misalnya, Rogan menemukan fakta bahwa pukulan pertama mendarat di tubuh Usmani pada 1876. Itu ketika Usmani di bawah Sultan Abdulhamid II melakukan reformasi dengan mengenalkan sistem pemilihan parlemen dan Rusia menggempur untuk merebut Istanbul, ibukota Usmani.

Baca juga  Jejak Keturunan Rasulullah di Indonesia

Kekaisaran Rusia menganggap diri mereka sebagai pewaris Byzantium dan pemimpin spiritual Gereja Ortodoks Timur. Istanbul, sebelum ditaklukkan Mehmed II pada 1453 dan masih dinamai Konstantinopel, adalah ibukota Kekaisaran Byzantium sekaligus pusat Gereja Ortodoks Timur. Selain itu Rusia, tentu saja, memiliki alasan ekonomi. Dengan menguasai Istanbul, Rusia akan menguasai selat-selat strategis di Bosporus dan Dardanela yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Laut Hitam dan Mediterania. Rusia lalu mengompori wilayah kekuasaan Usmani di semenanjung Balkan, agar mereka merdeka. Menanggapi kelakuan Rusia, Abdulhamid II mengibarkan bendera Nabi Muhammad sambil menyerukan jihad. Perang pecah pada April 1877.

Pada saat bersamaan, anggota-anggota parlemen menyayangkan langkah Sultan dalam menyelesaikan konflik. Hari demi hari, Rusia berhasil merangsek sampai ke daerah-daerah pinggiran Istanbul. Sultan meminta saran parlemen, namun ia tak memperoleh dukungan. Mutung, ia kemudian menangguhkan konstitusi, membubarkan parlemen, dan memenjarakan banyak anggota parlemen yang kritis.

COMMENTS

DISQUS: