oleh

Ace Hasan Syadzily: Moderasi Beragama Bukan Sekedar Simbolik

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Persoalan pendirian rumah ibadah masih menjadi momok menakutkan bagi mereka yang pobia terhadap ekstremisme beragama. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Ace Hasan Syadzily, bahwa pentingnya implementasi moderasi agama dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Menurutnya kerukunan umat beragama jangan hanya menjadi simbol, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

banner 1280x904

“Saya kira kita semua sudah sangat hebat berbicara moderasi beragama. Tapi moderasi beragama bukan sekedar simbolik saja, bukan slogan saja. Tetapi juga mampu kita terjemahkan ke dalam, disosialisasikan ke dalam kehidupan kemasyarakatan,” ujarnya dalam rapat dengan Dirjen Bimas Kristen, Dirjen Bimas Katolik, Dirjen Bimas Hindu, Dirjen Bimas Budha Kementerian Agama RI, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Baca juga  Buya Syafii Sebut Sikap Pragmatis Politisi Jadi Ancaman Menguatnya Intoleransi

Pria yang akrab disapa Ace ini menyampaikan bahwa pendirian rumah ibadah menjadi persoalan serius, oleh karena itu, lanjutnya,  masyarakat harus berani terbuka untuk berdialog untuk memahami dan menoleransi keberagaman dalam keyakinan.

“Sampai saat ini mohon maaf ya, seperti misalnya GKI Yasmin masih menjadi pembicaraan. Philadelphia di Bekasi, masih demo di depan istana negara. Mungkin ini satu atau dua orang. Tapi kalau dibiarkan ya masalah,” ujar Ace.

Adanya perusakan rumah ibadah yang terjadi di Minahasa Utara setidaknya membuat kita untuk mawas diri, bahwa deekstremisme beragama mestinya harus menjadi perhatian besar bagi kita semua “Seperti misalnya terjadi di Minahasa Utara itu kan membuat kita juga terenyak. Masih ada hal-hal seperti itu yang terjadi. Dalam konteks hubungan antarumat beragama,” lanjut Ace.

Baca juga  Indonesia dan Perancis Dorong Perdamaian Palestina-Israel dan Dunia

Menurutnya, Pancasila juga sudah menegaskan bahwa kerukunan dalam beragama sudah seharusnya menjadi pedoman warga negara.

“Saya ingin mengingatkan kita semua, kerukunan umat beragama semoga ini bukan hanya sekedar etalase dan kamuflase. Tetapi ini harus betul-betul menjadi semangat kita untuk hidup ber-pancasila dan tentu bukan hanya sekedar simbolik tapi juga mampu untuk diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Ace. (sumber: dpr.go.id)