9 Aktivis Muslimah yang Berprestasi di Dunia

9 Aktivis Muslimah yang Berprestasi di Dunia

Hijaber Peraih Medali Emas Pertama Asian Games Dapat Hadiah Tabungan Haji
Kisah Sara Iftekhar Hijaber Pertama Yang Masuk Final Kompetisi Miss England
Srikandi Peraih Medali Emas Indonesia di Asian Games 2018 (2)

LONDON, SUARADEWAN.com — Hari Wanita Muslim ditujukan untuk menyosialisasian suara dan prestasi wanita Muslim di seluruh dunia. Apa cara yang lebih baik merayakannya, selain mengenal kiprah beberapa perempuan Muslim yang mengubah dunia?

Dilansir di Bustle.com/pada Selasa (27/3), berikut beberapa aktivis perempuan Muslim yang melakukan pekerjaan luar biasa untuk dunia dan dirinya sendiri. Selama ini perempuan Muslim menghadapi banyak diskriminasi di Amerika Serikat (AS).

Menurut American Civil Liberties Union (ACLU), perempuan Muslim yang memutuskan menggunakan hijab, menjadi objek prasangka atau pelecehan. Artinya, mereka menghadapi diskriminasi karena dipaksa menanggalkan kerudungnya. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump membuat kehidupan lebih berat bagi Muslim Amerika karena Trump berusaha menerbitkan berbagai versi larangan masuknya Muslim ke Amerika.

Melawan diskriminasi yang meluas seperti itu merupakan perjuangan berat. Namun, banyak perempuan Muslim melangkah sebagai pemimpin, baik untuk wanita Muslim lainnya dan negara tempat tinggal. Beberapa perempuan ini hanya sebagian dari banyaknya wanita Muslim yang menginspirasi.

Amani Al-Khatahtbeh

Amani Al-Khatahtbeh

Amani Al-Khatahtbeh mendirikan Muslim Girl, sebuah media yang dimaksudkan menormalkan kata “Muslim,” menempatkan narasi perempuan Muslim, dan meningkatkan tempat perempuan Muslim dalam masyarakat.

Muslim Girl meluncurkan Hari Wanita Muslim yang merupakan ide Al-Khatahtbeh. Kendati ia berhasil membuat itu viral melalui kemitraan dengan berbagai organisasi media, tetapi itu hanya salah satu inisiatif visibilitas yang diperjuangkan Al-Khatahtbeh. Pada 2016, ia juga menerbitkan sebuah memoar, Muslim Girl: A Coming of Age. Dalam situs portal pribadinya terus-menerus menampilkan perempuan Muslim yang naik daun.

Linda Sarsour

Linda Sarsour

Linda Sarsour adalah seorang aktivis. Ia bersama teman-temannya membentuk gerakan Perempuan Maret. Saat ini, Sarsour melangkah ke garis terdepan aktivisme di AS melalui platform itu. Di antara hal-hal lain, ia memperjuangkan pengakuan hari penting Islam sebagai hari libur di New York Public Schools, ikut memimpin March2Justice pada 2015, dan memberikan pidato mengesankan di Women Marches.

Baca juga:

Baca juga  20 Tahun Reformasi, Ini Catatan dari Komnas Perempuan

Dalia Mogahed

Dalia Mogahed

Dalia Mogahed adalah seorang direktur penelitian di Institut Kebijakan dan Pemahaman Sosial. Ia mengalami bermacam tindakan Islamofobia atas kebijakan Trump. Dia meluncurkan Islamophobia: A Threat to All sebagai sebuah proyek penelitian yang bertujuan menghasilkan beberapa publikasi pendidikan. Melalui itu, ia berharap ada hasil kajian memeriksa dampak islamofobia dan menemukan cara efektif melawannya.

Tawakkol Karman

Tawakkol Karman

Anda harus meninggalkan perbatasan Amerika untuk menemukan Tawakkol Karman. Ia adalah pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2011 dan seorang aktivis Yaman. Dia adalah wanita Arab dan Yaman pertama yang memenangkan hadiah untuk pekerjaannya melindungi perempuan di Yaman. Ia juga mendorong perempuan menjadi bagian dari proses pembangunan perdamaian di negara itu.

Untuk mencapai tujuan ini, ia mendirikan kelompok Perempuan Jurnalis Tanpa Rantai pada 2005. Kelompok itu memimpin protes di ibu kota Yaman, Sana’a dan berpartisipasi dalam protes Musim Semi Arab pada 2011.

Azadeh Shahshahani

Azadeh Shahshahani

Azadeh Shahshahani adalah pengacara hak asasi manusia yang tinggal di Atlanta. Ia adalah direktur firma hukum di Protect South.

Sebagian besar pekerjaannya adalah melindungi komunitas imigran di Selatan. Jaringan Hak Asasi Manusia AS memberinya Penghargaan Pembina Hak Asasi Manusia pada 2017 untuk pekerjaan advokasinya.

Shahshahani telah melakukan penelitian dan menulis tentang keadaan yang menyedihkan dari pusat-pusat penahanan imigran di Selatan serta pelacakan pemerintah terhadap komunikasi elektronik imigran. Dia juga pernah menjabat sebagai direktur Proyek Hak Keamanan / Imigran Nasional untuk American Civil Liberties Union.

Su’ad Khabeer

Su’ad Khabeer

Su’ad Khabeer adalah profesor American Culture dan Arab and Muslim American Studies di Universitas Michigan. Penelitiannya fokus pada persimpangan ras dan budaya di AS.

Ia berniat menciptakan portal Sapelo Square, yakni sebuah situs yang mendokumentasikan dan menganalisis pengalaman orang kulit hitam dan Muslim Amerika. Seperti Muslim Girl, Sapelo Square menawarkan artikel, posting blog, wawancara, dan karya kreatif oleh, tentang, atau menampilkan Muslim di AS.

Baca juga  Lindswell Kwok, Atlet Wushu Penyumbang Emas Kedua Untuk Indonesia

Ini berfungsi sebagai ruang untuk diskusi, eksplorasi, dan berbagi pengalaman antara anggota komunitas Muslim, atau orang yang hanya ingin datang dan belajar sesuatu tentang komunitas yang mungkin tampak asing bagi mereka.

Baca juga:

Blair Imani

Blair Imani

Blair Imani masuk Islam pada 2015. Ia mengatakan pada Teen Vogue pada 2017 ihwal keinginannya melihat respons masyarakat terhadapnya usai mengenakan jilbab. Ia menyatakan diri sebagai seorang biseksual. Namun, ia menggunakan posisinya untuk mematahkan stereotip bahwa orang aneh tidak memiliki tempat dalam Islam.

Imani menulis Modern HERstory, yakni sebuah buku sejarah inklusif yang menampilkan kisah-kisah tentang wanita dan orang nonbinary. Dia juga mendirikan Kesetaraan untuk Perempuan, yang bertujuan untuk memberikan materi pendidikan tentang isu-isu yang mempengaruhi perempuan dan orang-orang.

Zahra Billoo

Zahra Billoo

Zahra Billoo memiliki pekerjaan besar, sebagai direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam di Wilayah Teluk San Francisco. Dalam posisi itu, dia memimpin CAIR-SFBA karena dituntut sejumlah organisasi terkenal untuk melindungi Muslim di Amerika yang menghadapi diskriminasi. Yang paling penting, yakni menghadapi larangan Trump tentang Muslim.

Malala Yousafzai

Anda sudah mendengar tentang Malala Yousafzai, tetapi keteguhan dan tekadnya selalu menghasilkan penyebutan lain. Mahasiswa Pakistan di Oxford itu memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian untuk kampanye pendidikan bagi perempuan.

Dia selamat dari serangan Taliban pada 2012. Peristiwa itu tak menghentikannya melanjutkan pendidikannya. Ia menggalang dana melalui Dana Malala untuk membantu anak perempuan mendapatkan pendidikan di mana-mana.

Kendati memiliki kesibukan sebagai mahasiswa di Oxford, tetapi itu tak memperlambat pekerjaannya. Dia juga masih bekerja dengan para pemimpin dunia untuk melanjutkan program pendidikan anak perempuan.

Luangkan waktu sejenak untuk merayakan dan menghargai pencapaian para perempuan-perempuan itu. Hari Wanita Muslim adalah saat yang tepat untuk memulai. Namun, itu tak berarti Anda berhenti belajar tentang perempuan Muslim. (rep)

COMMENTS